Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
65. Mencari Sumber Masalah


__ADS_3

Setelah Ayumi dan Ayesha pergi meninggalkan apartemennya tersebut, Nadirga pun kemudian masuk ke dalam kamar tamu yang saat ini sedang ditempati oleh Hamzah itu.


"Ham," panggil Nadirga karena tidak mendapati Hamzah berada di dalam kamar tamu tersebut.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Nadirga pun kemudian menuju ke arah kamar mandi lalu mengetuk pintunya beberapa kali.


Tok. Tok. Tok.


"Ham, kamu di dalam?" tanya Nadirga setengah berteriak agar Hamzah bisa mendengar suaranya itu.


Tetapi sayangnya tidak ada jawaban dari Hamzah. Nadirga kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi tersebut dengan lebih keras lagi.


"Ham! Hamzah! Kamu di dalam, Ham?" tanya Nadirga lagi.


Namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi tersebut.


merasa sedikit khawatir Nadirga pun kemudian mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut. Dan untungnya pintu kamar mandi itu tidak dalam keadaan terkunci.


"Hamzah," panggil Nadirga lagi seraya berjalan memasuki kamar mandi tersebut.


Dan begitu terkejutnya Nadirga begitu dirinya mendapati Hamzah yang sedang terduduk di bawah guyuran air shower dengan bersandar pada dinding kamar mandi tersebut.


"HAMZAH!" teriak Nadirga begitu terkejut dan khawatir di saat yang bersamaan.


Nadirga melihat Hamzah yang sudah menggigil karena kedinginan di lantai kamar mandi tersebut. Nadirga pun kemudian segera mematikan kran air shower itu.


"Yaa Allah, Ham, apa yang sudah kamu lakukan ini?" tanya Nadirga seraya membantu Hamzah untuk berdiri.


"Ka-kak Dirga, to-tolong maafin aku, Kak," ucap Hamzah dengan terbata karena saat ini dirinya sedang menggigil kedinginan.


"Udah, jangan bicara apa-apa dulu. Cepat kamu keringkan dulu tubuh kamu. Setelah itu kami ganti baju pakai baju kakak dulu," kata Nadirga seraya membantu Hamzah untuk berjalan keluar dari bilik shower.


Nadirga kemudian mendudukkan Hamzah pada sebuah kursi plastik yang terdapat di dalam kamar mandi tersebut. Nadirga juga lalu mengambilkan handuk kering untuk Hamzah.

__ADS_1


"Kamu keringin tubuh kamu dulu. Kakak ambilin baju buat kamu sebentar," kata Nadirga.


Hamzah menganggukkan kepalanya pelan.


Nadirga lalu keluar dari kamar mandi tersebut dan bergegas untuk mengambil pakaiannya sendiri di kamar sebelah. Setelah mengambil baju ganti untuk Hamzah, Nadirga pun kembali masuk ke dalam kamar mandi tersebut.


"Ini, Ham. Buruan kamu ganti baju kamu dulu," kata Nadirga seraya mengangsurkan baju ganti miliknya untuk Hamzah.


"Makasih, Kak," lirih Hamzah dengan menerima baju ganti dari tangan Nadirga itu.


Dengan sedikit dibantu oleh Nadirga, Hamzah pun kemudian mengganti pakaiannya yang basah itu dengan baju ganti yang sudah dibawakan oleh Nadirga tadi.


Setelah itu Nadirga lalu mengajak Hamzah untuk keluar dari dalam kamar mandi dan duduk di atas tempat tidur. Nadirga kemudian pergi ke dapur dan membuatkan teh panas untuk Hamzah.


"Nih, Ham, kamu minum dulu. Biar agak hangat badan kamu," kata Nadirga seraya menyerahkan secangkir teh panas kepada Hamzah.


"Makasih, Kak," balas Hamzah.


Nadirga kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Hamzah. Hamzah pun lalu meminum teh panas buatan Nadirga tadi.


"Iya, Kak."


Hamzah menerima sebutir obat dari tangan Nadirga itu kemudian langsung meminumnya setelah mengucapkan basmalah terlebih dahulu.


Hamzah kemudian meletakkan cangkir tehnya itu ke atas meja sofa.


"Kak Dirga, tolong maafin aku untuk semua yang udah aku lakuin ke Ayesha tadi. Sungguh, semuanya itu terjadi diluar kendali diri aku sendiri, Kak," ucap Hamzah penuh penyesalan.


Nadirga membuang nafasnya kasar.


"Huft. Kakak juga yang salah, Ham. Udah tau kamu lagi dalam pengaruh obat kayak gini, tapi kakak tetep ninggalin Ayesha disini berdua sama kamu. Tetapi syukurlah, Allah Subhanahu wa ta'ala masih melindungi kalian berdua sehingga kalian berdua nggak sampai melakukan perbuatan yang melebihi batas," kata Nadirga juga.


"Tapi tetep aja, aku yang salah, Kak. Tolong maafin aku," sesal Hamzah lagi.

__ADS_1


Nadirga bisa melihat penyesalan yang teramat sangat dari wajah Hamzah itu. Nadirga tersenyum tipis, penilaiannya tentang Hamzah sejak awal memang tidak salah. Hamzah adalah laki-laki yang baik, yang sangat cocok untuk adiknya itu, Ayesha.


Nadirga kemudian memegang pundak Hamzah.


"Udah, Ham, jangan menyalahkan diri kamu sendiri lagi. Yang penting kalian berdua nggak sampai melakukan perbuatan zina itu. Kita ambil hikmahnya aja dari kejadian ini, ya," kata Nadirga.


"Iya, Kak," lirih Hamzah kemudian.


"Oh iya, Ham, gimana sih ceritanya sampai kamu bisa terkena obat perangsang kayak gini? kamu makan apa atau minum apa gitu nggak sebelumnya?" tanya Nadirga mencoba mencari tau.


Hamzah terdiam dan nampak mengingat-ingat semuanya. Beberapa saat kemudian,


"Chika," seru Hamzah setelah mengingat sesuatu.


"Chika?" tanya Nadirga juga.


"Iya, Kak, Chika. Tadi sore Chika bagiin kopi ke semua teman-teman di divisi keuangan. Katanya dia dapat bonus lembur gitu, makanya pengen berbagi ke semua teman-teman," jawab Hamzah.


"Ini Chika yang katanya suka sama kamu sejak masih kuliah dulu itu bukan? Yang mantan adik iparnya kakak kamu itu?" tanya Nadirga lagi.


"Iya, Kak, Chika yang itu. Kan dia kebetulan satu divisi sama aku. Awalnya aku juga ragu gitu mau minum kopi dari dia itu. Tapi yang ngasihin kopinya ke aku dan teman-teman cowok yang lainnya itu salah satu OB di kantor kita. Jadinya aku berusaha positif thinking terus minum kopi itu deh. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian aku ngerasa kepala aku pusing dan badan aku juga agak panas gitu. Makanya terus aku ijin ke toilet itu sama Mbak Tari," jawab Hamzah menceritakan semuanya.


"Hmm, dari cerita kamu sih sepertinya memang dia, Ham. Tapi kita juga nggak boleh main asal tuduh gitu aja tanpa ada bukti yang kuat," kata Nadirga.


"Iya, Kak Dirga benar," balas Hamzah membenarkan perkataan Nadirga itu.


"Untung aja feeling Yesha kuat. Dia langsung hubungin kakak terus minta kakak untuk ngecek kondisi kamu, Ham. Firasat dia nggak enak gitu katanya tentang kamu. Jadinya kakak juga langsung nyariin kamu sampai akhirnya kakak bisa nolongin kamu tepat waktu deh, Ham," kata Nadirga yang juga bercerita.


"Hmm, aku bersyukur banget untuk hal itu, Kak. Feeling kuat Yesha sudah menyelamatkan aku dari rencana jahat Chika itu," ucap Hamzah bersyukur.


"Iya, Ham, kamu benar. Tapi kamu tenang aja, Ham. Kakak pasti bakalan bantuin kamu untuk menyelidiki semuanya ini sampai benar-benar tuntas. Dan kalau memang benar Chika adalah dalang di balik semuanya ini, kakak pastikan kalau dia akan mendapatkan balasan yang setimpal untuk rencana jahatnya itu," ucap Nadirga kemudian, berjanji kepada Hamzah.


"Iya, Kak. Makasih banyak ya, Kak, sebelumnya," balas Hamzah.

__ADS_1


"Sama-sama, Ham," kata Nadirga.


__ADS_2