
Sekitar sepuluh menit kemudian, tiba-tiba saja Hamzah merasa kepalanya sedikit pusing. Hamzah juga merasa sedikit gerah dan merasakan tidak nyaman pada tubuhnya.
"Astaghfirullah hal adziim. Aku kenapa ini? Kok tiba-tiba jadi pusing gini. Gerah, nggak nyaman banget rasanya."
Hamzah memijit pelipis kanannya sendiri, berusaha mengurangi rasa pusing yang dia alami saat ini.
Tanpa Hamzah sadari, Chika ternyata secara diam-diam sedang memperhatikan Hamzah dari meja kerjanya sendiri saat ini. Dan Chika mengulum senyum kecil penuh kemenangan. Sepertinya efek obat yang tadi sudah dia campurkan ke dalam kopi Hamzah itu akhirnya sudah bereaksi juga.
Chika merasa sangat senang saat ini. Akhirnya, sudah tinggal selangkah lagi maka rencana Chika untuk bisa mendapatkan Hamzah akan segera berhasil. Chika hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk dia menjalankan aksinya yang selanjutnya.
Sementara Hamzah sudah merasa semakin kepanasan saat ini. Kepala Hamzah juga rasanya bertambah semakin pening saja. Hamzah pun kemudian memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu, untuk membasuh wajahnya dengan air. Hamzah berpikir bahwa mungkin dengan begitu rasa panas di tubuhnya dan rasa pusing di kepalanya bisa sedikit mereda.
"Mbak Tari, aku ijin ke toilet dulu sebentar, ya," pamit Hamzah kepada Tari yang memang meja kerjanya bersebelahan dengan meja kerja Hamzah itu.
"Oh, oke, Ham," balas Tari seraya menoleh sebentar ke arah Hamzah.
Hamzah membuang nafas lega. Untungnya Tari tidak begitu memperhatikan kalau ada sesuatu yang salah yang sudah terjadi pada Hamzah saat ini. Hamzah tidak ingin memancing keriuhan apalagi sampai membuat teman-temannya yang lain menjadi mengkhawatirkan dirinya.
Hamzah pun kemudian segera bangun dari duduknya. Dengan sekuat tenaga Hamzah menahan rasa pusing di kepalanya itu. Hamzah pun lalu berjalan menuju ke arah toilet.
Chika sudah bersiap untuk segera ikut bangun dari duduknya dan bergegas untuk menyusul Hamzah menuju ke toilet. Tetapi sayangnya, ketika Chika hendak bangkit berdiri, tiba-tiba saja Billa sudah berdiri di depan meja kerja Chika saat ini.
"Chika, tolong kamu selesaikan dokumen ini sekarang juga, ya. Pak Azril bilang besok pagi mau dipakai untuk bahan meeting soalnya," kata Billa seraya menyerahkan satu buah map berisi dokumen kepada Chika.
Chika mengumpat dalam hatinya. Rencana Chika sepertinya tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang sudah diharapkan oleh Chika sebelumnya.
"Ah, eh, i-iya, Mbak. Segera aku selesaikan," balas Chika dengan sedikit terbata seraya menerima map berisi dokumen dari tangan Billa tersebut.
"Oke. Mbak tunggu secepatnya, ya. Semisal diperlukan, nanti kamu lembur satu jam untuk menyelesaikan dokumen itu juga nggak pa-pa kok. Yang penting pokoknya dokumen itu harus selesai hari ini juga. Ya, Chika," kata Billa lagi.
"I-iya, Mbak. Aku selesaikan hari ini juga, secepatnya," balas Chika.
__ADS_1
Billa tersenyum sesaat. Setelah itu Billa pun kemudian pergi meninggalkan meja kerja Chika itu.
"Sial. Kenapa harus sekarang, sih? Gimana dengan rencana gue coba? Obat yang gue kasih ke Kak Hamzah udah mulai bereaksi tadi. Tapi malah gue harus nyelesai-in dokumen ini dulu lagi. Duh, sial banget sih gue. Keberhasilan udah di depan mata, tapi gue masih belum bisa meraihnya," gerutu batin Chika, sangat kesal.
Dan tanpa sepengetahuan Chika, ketika Chika sedang berbicara dengan Billa tadi, ternyata Nadirga ( kakak Ayesha ) juga datang untuk mencari Hamzah.
Nadirga menanyakan keberadaan Hamzah kepada Tari, karena Nadirga melihat kalau Hamzah tidak ada di meja kerjanya saat ini. Dan ketika Tari menjawab kalau Hamzah sedang pergi ke toilet, maka Nadirga pun bergegas untuk segera menyusul Hamzah ke toilet.
Begitu sampai di toilet Nadirga pun segera masuk ke dalam. Nadirga bisa melihat Hamzah yang saat ini sedang berdiri di depan wastafel. Tangan kiri Hamzah berpegangan erat pada pinggiran wastafel. Sementara tangan kanan Hamzah memegangi kepalanya seraya meringis menahan rasa sakit.
"Hamzah," panggil Nadirga dengan nada khawatir.
Nadirga segera berlari dan menghampiri Hamzah.
"Kak Dirga," ucap Hamzah begitu menyadari kedatangan kakak dari kekasihnya itu.
"Kamu nggak pa-pa kan, Ham?" tanya Nadirga seraya memegangi pundak Hamzah.
"Sial. Ternyata feeling Yesha bener, sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, Ham," kata Nadirga dengan mengumpat pelan.
Ya, Nadirga mencari Hamzah karena tadi dia mendapatkan telepon dari adiknya, Ayesha. Ayesha mengatakan kalau dia tiba-tiba memiliki firasat buruk. Seolah-olah sesuatu yang buruk akan terjadi pada Hamzah, kekasihnya itu. Itu kenapa Ayesha meminta tolong kepada Nadirga untuk sekedar melihat keadaan Hamzah dan memastikan kalau Hamzah memang baik-baik saja.
Tetapi ternyata di luar dugaan Nadirga, firasat Ayesha ternyata benar. Sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Hamzah saat ini.
"Kamu tunggu dulu sebentar ya, Ham," kata Nadirga.
Nadirga kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya dan mendial nomor telepon Sean, atasannya di perusahaan SR Group ini.
"Assalamu'alaikum, Ga," salam Sean dari seberang panggilan.
"Wa'alaikumsalam, Bang. Bang gue ijin pulang lebih awal, ya," jawab salam Nadirga sekaligus langsung meminta ijin kepada Sean.
__ADS_1
"Pulang lebih awal? Memangnya kenapa, Ga? Ada apa?" tanya Sean.
"Sesuatu terjadi sama Hamzah, Bang. Ini aku mau langsung bawa Hamzah pulang dulu. Sekalian juga nanti aku minta ijin ke Pak Azril juga untuk bawa Hamzah pulang lebih awal juga," jawab Nadirga menjelaskan.
"Oh, oke kalau gitu. Hati-hati ya, Ga. Semoga Hamzah juga baik-baik saja," kata Sean.
"Iya, Bang, aamiin. Makasih ya, Bang. Aku tutup dulu kalau gitu. Assalamu'alaikum, Bang," pamit Nadirga kemudian.
"Iya, Ga. Wa'alaikumsalam," balas Sean.
Nadirga pun kemudian mengakhiri panggilan teleponnya dengan Sean. Setelah itu Nadirga juga langsung menghubungi Pak Azril dan meminta ijin kepada Pak Azril untuk membawa Hamzah pulang lebih awal.
Selesai menghubungi Pak Azril, Nadirga pun lalu menyimpan kembali ponselnya.
"Ayo, Ham. Kamu ikut kakak pulang sekarang juga. Kakak akan bawa kamu ke rumah sakit," kata Nadirga seraya merangkul pundak Hamzah.
"Nggak perlu ke rumah sakit, Kak. Aku nggak mau membuat ibu dan yang lainnya jadi khawatir. Aku nggak pa-pa kok, Kak. Cuma pusing aja," tolak Hamzah.
Nadirga mengesah pelan. Nadirga tau bagaimana sifat Hamzah. Dan Nadirga juga sangat bisa memahami keinginan Hamzah itu untuk tidak membuat khawatir keluarganya yang lain. Tapi tetap saja, kondisi Hamzah sekarang ini tidak memungkinkan bagi Nadirga untuk mengantar Hamzah pulang ke rumahnya sekarang.
"Hmh, ya udah kalau gitu. Kita nggak ke rumah sakit. Kita pulang ke apartemen kakak, ya. Biar Yesha nanti nyusulin kesana," kata Nadirga kemudian.
"Iya, Kak, boleh," balas Hamzah lemah.
Nadirga kemudian membantu Hamzah untuk berjalan keluar dari toilet tersebut.
"Kita langsung pulang aja ya, Ham. Barang-barang kamu ditinggal dulu aja. Nanti biar kakak suruh orang buat ngambil barang-barang kamu dan bawa ke apartemen kakak," kata Nadirga.
"Iya, Kak," balas Hamzah lagi.
Nadirga kemudian segera membawa Hamzah untuk pulang ke apartemennya terlebih dahulu.
__ADS_1