
"Kamu kenapa nggak ngerelain Hamzah aja sih, Dek? Udah lupain aja perasaan suka kamu ke Hamzah itu. Lagian juga kan Hamzah udah punya pacar juga. Dia juga udah berkali-kali bilang ke kamu kalau dia nggak bisa membalas perasaan suka kamu ke dia itu. Terus kenapa kamu masih bersikeras sih, Dek?" tanya Bayu kepada Chika, tidak habis pikir.
Saat ini keduanya sedang duduk berhadapan di atas tempat tidur Chika, di dalam kamar Chika.
"Kak Bayu nggak usah sok-sokan ngatur-ngatur aku gitu deh. Kayak Kak Bayu sendiri juga bisa aja ngerelain Kak Shofi. Kak Bayu kan juga sama aja kayak aku. Kak Bayu juga masih mengharapkan untuk bisa bersama dengan Kak Shofi lagi, iya kan?" sewot Chika, memutar-balikkan perkataan kakaknya itu tadi.
Bayu tersentak. Dirinya seakan tertohok mendengar semua perkataan adiknya itu. Ya, semua yang dikatakan oleh Chika itu memang benar. Bayu akui kalau sekarang ini Bayu memang masih sangat mengharapkan untuk bisa kembali menjalin hubungan dengan Shofi seperti dulu lagi.
Bayu terdiam. Dirinya tidak tau harus berkata apa lagi sekarang.
"Udah deh, Kak, nggak usah ngomongin hal yang nggak penting lagi. Sekarang aku mau nagih janji kakak sama aku. Kakak bilang kalau kakak mau bantuin aku setelah pulang kesini, iya kan? Jadi, sekarang kakak udah siap kan buat bantuin aku?" tanya Chika kemudian, mengingatkan janji Bayu kepada dirinya beberapa saat yang lalu itu.
"Hmm, iya deh, iya. Kakak masih ingat kok. Dan kakak juga udah sangat siap untuk bantuin kamu. Jadi sekarang, coba bilang sama kakak, rencana apa yang udah terpikirkan sama kamu untuk mendapatkan Hamzah?" tanya balik Bayu, mengiyakan perkataan adiknya itu tadi.
Chika nampak berpikir sejenak.
"Mmm, kalau aku jebak Kak Hamzah pakai obat, gimana menurut kakak? Ya, nggak harus sampai benar-benar ngelakuin hal itu nggak pa-pa deh. Pokoknya biar Kak Hamzah ngerasa bersalah sama aku terus bersedia untuk bertanggung jawab sama aku, gitu. Gimana menurut kakak?" kata Chika, menyampaikan salah satu rencananya kepada Bayu dan meminta pendapat dari kakaknya itu.
Sekarang giliran Bayu yang nampak berpikir. Memikirkan apa yang sudah disampaikan oleh adiknya itu tadi.
"Hmm, kamu mau jebak Hamzah pakai obat gitu maksud kamu, Dek?"
"Iya, Kak. Gimana menurut Kak Bayu?"
__ADS_1
"Sepertinya boleh dicoba sih, Dek. Terus rencana kamu kapan mau ngelakuin hal itu?"
"Secepatnya deh, Kak. Lebih cepat lebih baik. Nanti aku mau campurin obat itu ke minuman Kak Hamzah pas udah mendekati jam pulang kantor aja. Jadi efek obatnya bisa bereaksi setelah waktunya pulang kerja. Terus habis itu aku bisa pura-pura bantuin Kak Hamzah, lalu aku bawa Kak Hamzah ke hotel terdekat deh. Gimana menurut kakak kalau seperti itu?" tanya Chika lagi, setelah menjabarkan rencananya untuk menjebak Hamzah tersebut.
"Boleh sih, Dek. Tapi kalau rencana kamu itu sampai meleset atau bahkan gagal, kamu udah ada persiapan lain, Dek? Dan juga, kalau sampai rencana kamu itu ketahuan sama Hamzah, resikonya buruk loh, Dek," kata Bayu, menanggapi.
"Semua pasti ada resikonya kan, Kak. Dan kalau kita nggak berani mengambil resiko itu, gimana kita bisa tau kalau rencana kita itu akan berhasil atau enggak? Iya kan, Kak?"
"Iya, juga sih, Dek. Terus rencana cadangan kamu apa kalau misalkan rencana kamu yang itu gagal dan nggak berjalan sesuai dengan rencana?" tanya Bayu lagi, menanyakan rencana cadangan yang dimiliki oleh Chika.
"Kalau rencana pertama aku itu gagal dan nggak berjalan sesuai dengan rencana, maka seperti yang udah pernah aku bilang ke kakak di telepon kemarin itu, aku akan ganti menjebak Ayesha pada saat ulang tahun perusahaan yang diadakan bulan besok itu. Karena aku yakin kalau Ayesha juga pasti akan datang di acara tersebut. Kakaknya Ayesha kan sekretarisnya Pak Sean, CEO di perusahaan aku itu, Kak," jawab Chika.
"Terus apa rencana kamu untuk menjebak Ayesha?"
Bayu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Merasa heran juga dengan niat buruk yang dimiliki oleh adiknya itu cuma demi mendapatkan orang yang dia sukai. Bahkan adiknya itu juga sudah merencanakan semuanya dengan begitu matang seperti itu.
"Kakak nggak nyangka kamu bakalan sampai senekat itu, Dek," kata Bayu seakan tidak percaya setelah mendengar semua rencana penjebakan yang akan dilakukan oleh adiknya itu.
"Mau gimana lagi, Kak? Aku harus berusaha keras dan nggak boleh setengah-setengah. Atau hasil yang akan aku dapatkan tidak bisa sesuai dengan apa yang aku harapkan," ucap Chika penuh keyakinan.
"Hmh, kamu benar, Dek. Semua yang kamu katakan itu memang ada benarnya juga."
"Terus Kak Bayu sendiri gimana? Kakak udah punya rencana apa untuk bisa mendapatkan Kak Shofi kembali?" tanya balik Chika, menanyakan rencana yang dimiliki oleh kakaknya itu untuk bisa kembali mendapatkan hati mantan istrinya dulu, Shofi.
__ADS_1
Bayu nampak mengesah pelan.
"Entahlah, Dek. Mendekati Keinan sekarang agak susah. Apalagi kalau mau mendekati Shofi. Ditambah lagi sekarang Awan juga udah balik. Kakak jadi pesimis kakak masih punya harapan atau enggak," jawab Bayu tidak bersemangat.
"Ck, kakak cemen banget sih jadi laki-laki. Yang semangat dong, Kak. Gimana kakak bisa mendapatkan Kak Shofi dan Keinan lagi kalau kakak aja udah melempem gini dari awal?" tegur Chika, menyayangkan sikap pesimis kakaknya itu.
"Ya habisnya mau gimana lagi, Dek? Kakak ngerasa udah bener-bener nggak ada kesempatan lagi buat kakak," ucap Bayu begitu pesimis.
"Ya usaha dong, Kak. Kalau emang udah nggak ada lagi kesempatan, ya udah, kakak aja yang menciptakan kesempatan itu sendiri buat kakak," kata Chika mencoba menyemangati kakaknya itu.
"Maksud kamu, Dek?" tanya Bayu, tidak mengerti apa maksud dari perkataan adiknya itu tadi.
"Seperti yang aku bilang tadi, Kak Bayu menciptakan kesempatan itu sendiri buat kakak. Kak Bayu bisa membuat Kak Awan kembali pergi sehingga Kak Bayu memiliki kesempatan untuk bisa kembali mendekati Kak Shofi dan Keinan. Kakak paham kan maksud aku gimana?" jawab Chika menyampaikan pemikirannya kepada Bayu.
Bayu kembali berpikir sejenak. Memikirkan semua yang sudah dikatakan oleh Chika tadi. Dan sesaat kemudian, senyuman itu tersungging di bibir Bayu.
"Iya, Dek. Kakak paham apa yang kamu maksudkan itu. Oke, biar nanti kakak coba saran dari kamu itu, ya," kata Bayu kemudian setelah memahami maksud dari perkataan Chika tadi.
"Nah, gitu dong, Kak. Yang semangat," ucap Chika menyemangati kakaknya itu.
"Iya, Dek. Makasih, ya."
"Sama-sama, Kak."
__ADS_1
Sepasang kakak dan adik itu kemudian saling melemparkan senyuman. Mereka berdua merasa sangat bersemangat untuk bisa mendapatkan kembali hati orang-orang yang mereka sayangi masing-masing itu, Hamzah, Shofi, dan Keinan.