Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
41. Rutinitas Yang Dirindukan


__ADS_3

Kedatangan Mas Awan ke kafe hari ini memang tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada para karyawan di kafe milik Mas Awan itu. Itu kenapa pada saat Adit, Danu, Dedi, Mbak Maya, dan Chef Yudha datang ke kafe hari ini, mereka dikejutkan dengan kehadiran Mas Awan di kafe miliknya ini.


"Eh, kok udah nggak kekunci sih?" gumam Adit kebingungan.


Adit bingung karena ketika dirinya datang ke kafe pagi hari ini dirinya mendapati pintu depan kafe yang sudah dalam keadaan tidak terkunci lagi. Sementara kunci kafe yang memegang adalah Adit sendiri dan Shofi, sang Bu Bos.


"Masak iya Bu Bos datang ke kafe hari ini? Kan Bu Bos baru aja lahiran. Terus baby Angkasa gimana dong?" gumam Adit, bertanya kepada dirinya sendiri.


Sesaat kemudian Adit teringat sesuatu hal.


"Mungkinkah?" tanya Adit dengan membulatkan kedua matanya.


Adit kemudian langsung bergegas untuk membuka pintu kafe tersebut dan melangkah masuk ke dalam kafe itu. Dan begitu terkejutnya Adit ketika dirinya melihat Mas Awan, sang Bos, sedang berdiri di depan meja barista.


"Bos Awan," panggil Adit, antara tidak percaya dan bahagia.


Mas Awan langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Adit.


"Adit," balas Mas Awan dengan tersenyum.


Adit tersenyum sumringah. Adit lalu berjalan cepat menghampiri sang Bos itu.


"Beneran Bos Awan rupanya," kata Adit seraya memeluk Mas Awan sekilas.


"Iya, Dit. Ini gue. Gue mulai datang ke kafe lagi sejak hari ini. Meski belum bisa full kayak biasanya dulu," ucap Mas Awan setelah pelukannya dengan Adit terlepas.


"Syukurlah kalau gitu. Ya nggak pa-pa, Bos. Kan Bos juga baru aja balik, masih butuh cukup istirahat juga kan. Nggak pa-pa deh nggak full kayak biasanya. Seenggaknya bisa ngobatin rasa rindu kami selama ini. Kita semua kangen bisa kerja bareng sama Bos Awan seperti ini, kayak dulu lagi," balas Adit.


"Iya, Dit. Gue juga kangen kerja bareng sama kalian semua kayak dulu lagi," ucap Mas Awan lagi.

__ADS_1


"Oke deh, Bos. Kalau gitu Bos lanjutin aktivitas Bos aja. Gue juga mau siap-siap buat buka kafe dulu ya, Bos," pamit Adit kemudian.


"Iya, Dit," balas Mas Awan.


Adit lalu meninggalkan Mas Awan di dekat meja barista. Adit pun kemudian berjalan menuju ke arah kamar istirahat para karyawan di kafe Mas Awan itu, hendak meletakkan barang-barang bawaannya di dalam lokernya yang terdapat di dalam kamar istirahat tersebut.


Reaksi yang sama juga ditunjukkan oleh Chef Yudha, Mbak Maya, Danu, dan Dedi, ketika mereka datang ke kafe pagi ini dan melihat Mas Awan yang ternyata sudah kembali datang ke kafe lagi mulai pagi hari ini.


Jam sepuluh pagi kafe pun dibuka seperti biasanya. Mas Awan tersenyum lembut melihat bagaimana para karyawannya itu bekerja. Mereka dengan begitu cekatan melayani para pengunjung yang datang ke kafe hari ini dengan pelayanan terbaik mereka.


Siang harinya, Mas Awan pun menjemput Keinan pulang dari sekolah. Setelah beristirahat sejenak, Mas Awan kemudian mengajak Keinan untuk segera kembali pulang ke rumah. Mas Awan lalu berpamitan kepada Mbak Maya dan karyawannya yang lain juga.


"Mbak Maya, aku sama Keinan pulang dulu, ya," pamit Mas Awan kepada Mbak Maya.


"Oke, Bos. Hati-hati, ya," balas Mbak Maya sekaligus berpesan.


"Iya, Mbak, pasti. Adit, Danu, Dedi, gue sama Keinan balik dulu, ya. Pamitin ke Chef Yudha juga nanti," pamit Mas Awan juga kepada karyawannya yang lain.


"Assalamu'alaikum semuanya," salam Mas Awan dan Keinan.


"Wa'alaikumsalam, Bos, kakak Bos. Hati-hati," jawab Mbak Maya, Adit, Danu, dan Dedi hampir bersamaan.


Mas Awan kemudian menggandeng tangan Keinan dan mengajaknya untuk berjalan keluar dari kafe miliknya itu. Mereka berdua lalu bergegas untuk kembali pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan pulang mereka, Mas Awan selalu tersenyum dengan lembut. Dirinya juga selalu mengucapkan rasa syukur di dalam hatinya. Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala karena dirinya masih diberi kesempatan untuk bisa kembali dan berkumpul bersama dengan keluarga dan semua orang yang dia sayangi lagi, seperti sekarang ini.


Mas Awan sangat mensyukuri karena sekarang ini dia kembali bisa menjalani rutinitas yang sangat dia rindukan itu. Bekerja bersama dengan para karyawannya di kafe miliknya itu. Mengantar dan menjemput Keinan sekolah. Dan tentu saja berkumpul bersama dengan keluarganya lagi seperti sekarang ini.


🍁🍁🍁

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," salam Mas Awan dan Keinan begitu sampai di rumah.


"Wa'alaikumsalam," aku dan Mama Wulan menjawab bersamaan.


Mas Awan dan Keinan lalu berjalan menghampiri aku dan Mama Wulan yang saat ini sedang menemani baby Angkasa di ruang keluarga.


"Bunda,,, Oma,,, dedek Angkasa," panggil Keinan seraya berlari riang menghampiri kami bertiga di sofa ruang keluarga.


"Eh, cucu sayangnya Oma udah pulang," kata Mama Wulan.


"Udah, Oma," balas Keinan.


Keinan kemudian mencium punggung tangan kananku dan Mama Wulan secara bergantian. Mas Awan juga mencium punggung tangan kanan Mama Wulan. Baru setelah itu aku yang mencium punggung tangan kanan Mas Awan.


"Ya udah, kalau gitu sana kalian berdua naik dulu. Ganti baju. Setelah itu kita makan siang bareng. Oke?" kata Mama Wulan lagi.


"Siap, Oma," balas Keinan bersemangat.


"Oke kalau gitu. Yuk Kak kita naik ke atas dulu buat ganti baju. Setelah itu kita makan siang bareng," ajak Mas Awan kepada Keinan.


"Oke, Pa," balas Keinan lagi.


"Mas bawa Keinan naik buat ganti baju dulu ya, sayang," pamit Mas Awan kepadaku juga.


"Iya, Mas," balasku dengan tersenyum.


Mas Awan kemudian mengajak Keinan untuk naik ke lantai atas, menuju ke kamar kami yang berada di lantai atas. Mas Awan dan Keinan lalu mengganti baju mereka terlebih dahulu. Setelah selesai berganti baju, Mas Awan dan Keinan pun kembali turun ke bawah dan langsung menuju ke meja makan.


Aku dan Mama Wulan sudah menunggu Mas Awan dan Keinan di meja makan. Sementara baby Angkasa tertidur dengan nyenyak di atas stroller bayinya. Aku, Mas Awan, Keinan, dan Mama Wulan pun kemudian memulai acara makan siang bersama kami pada siang hari ini.

__ADS_1


Lagi-lagi aku melihat Mas Awan yang terus tersenyum lembut sejak tadi. Aku pun lalu ikut tersenyum juga. Aku tau kalau saat ini Mas Awan pasti merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa berkumpul kembali bersama dengan kami semua seperti sekarang ini. Menjalani rutinitas sehari-hari bersama dengan kami semua, seperti dulu ketika Mas Awan masih bersama dengan kami semua.


__ADS_2