Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
36. Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Tiga hari setelah kelahiran baby Angkasa, aku pun akhirnya sudah diperbolehkan untuk kembali pulang ke rumah. Karena alhamdulillaah kondisiku dan baby Angkasa semuanya sehat dan normal.


Aku, Mas Awan, Keinan, dan baby Angkasa pulang dengan mengendarai mobil milik Papa Surya bersama dengan Papa Surya dan Mama Wulan juga. Sementara ibuku dan Hamzah ikut dalam mobil Bang Langit, Kak Jani, Bintang, dan Inara.


Mobil yang dikendarai oleh Papa Surya dan Bang Langit saat ini sudah berhenti di halaman rumah dengan lancar. Kami semua pun kemudian turun dari mobil masing-masing.


Mas Awan sempat menghentikan langkahnya sesaat. Dipandanginya bangunan rumah ini dengan seksama. Aku yang saat ini sedang menggendong baby Angkasa pun kemudian juga ikut menghentikan langkahku di sebelah Mas Awan.


"Kenapa, Mas?" tanyaku lembut.


"Rasanya Mas masih belum percaya, sayang. Akhirnya hari ini Mas bisa pulang lagi ke rumah ini. Setelah hampir enam bulan lamanya," jawab Mas Awan masih dengan terus memandangi rumah ini.


Aku tersenyum. Aku sangat bisa memahami apa yang sedang dirasakan oleh Mas Awan saat ini. Tanpa kami berdua sadari, ternyata Mama Wulan dan yang lainnya juga sudah ikut menghentikan langkah mereka di belakang kami berdua.


"Kamu tau, sayang? Rumah ini adalah saksi bisu dari semua perjalanan hidup Mas selama ini. Sejak Mas baru lahir, bahkan sampai hari ini juga. Dan setelah hampir enam bulan lamanya Mas meninggalkan rumah ini, akhirnya hari ini Mas bisa pulang kembali ke rumah ini lagi. Rasanya hati Mas bahagia banget, sayang. Akhirnya Mas bisa pulang kembali ke rumah ini dan berkumpul kembali bersama dengan kalian semua, orang-orang yang paling Mas sayangi dan paling berharga dalam kehidupan Mas," kata Mas Awan lagi.


"Syukur alhamdulillaah ya, Mas. Allah Subhanahu wa ta'ala masih mengijinkan kita semua untuk kembali berkumpul bersama di rumah ini," ucapku dengan tersenyum lembut.


Greb!!!


Tiba-tiba saja Mama Wulan sudah berada di antara aku dan Mas Awan seraya merangkul kami berdua di sebelah kanan dan kirinya.


"Maha Besar Allah dengan segala kuasa-Nya. Akhirnya Allah Subhanahu wa ta'ala mengabulkan semua do'a-do'a kita selama ini dan mengembalikan Awan kepada kita hingga akhirnya kita semua bisa berkumpul bersama lagi seperti dulu lagi sekarang," kata Mama Wulan dengan menoleh bergantian ke arahku dan Mas Awan.


"Iya, Mama bener banget," balasku.


"Ya udah. Yuk kita langsung masuk aja. Kasihan Angkasa kalau terlalu lama diluar," ajak Mama Wulan kemudian.


"Iya, Ma," balasku dan Mas Awan bersamaan.


Kami bertiga kemudian melangkah beriringan menuju ke teras rumah untuk kemudian masuk ke dalam rumah. Papa Surya dan yang lainnya pun mengikuti di belakang kami.


Bik Sani segera menyambut kedatangan kami semua. Bik Sani juga kemudian membantu membawakan barang-barang bawaan kami dari rumah sakit tadi.


Mama Wulan kemudian mengajak kami semua untuk duduk bersama di ruang keluarga. Bang Langit dan Hamzah bahkan juga memindahkan beberapa kursi dari meja makan. Karena memang sofa di ruang keluarga ini tentu saja tidak cukup untuk duduk kami semua saat ini.

__ADS_1


"Alhamdulillaah, akhirnya kita semua sampai di rumah dengan selamat," ucap syukur Mama Wulan setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga ini bersama dengan kami semua.


"Iya, Ma. Alhamdulillaah," balasku dan yang lainnya juga.


Tidak lama kemudian Bik Sani datang dengan membawakan teh untuk kami semuanya. Kami semua pun kemudian segera meminum teh tersebut, sekedar untuk menghilangkan rasa haus setelah perjalanan pulang dari rumah sakit tadi.


Setelah berbincang dan bercengkrama beberapa saat, akhirnya ibu dan Hamzah pun kemudian pamit untuk pulang terlebih dahulu.


"Pak Surya, Bu Wulan, saya dan Hamzah mau pamit untuk pulang dulu, ya. Besok insya Allah kita kesini lagi," pamit ibuku.


"Kenapa harus buru-buru sih, Bu Aminah?" tanya Mama Wulan menyayangkan.


"Shofi, Awan, dan kita semuanya kan juga butuh istirahat dulu, Bu Wulan. Sepulang dari rumah sakit kan pasti masih capek juga. Lagian kan besok kami juga masih bisa kesini lagi, Bu," jawab ibu seraya tersenyum.


"Hmm, ya udah deh kalau gitu," kata Mama Wulan pada akhirnya.


"Kalau gitu Abang sama Jani dan anak-anak juga pamit pulang dulu ya, Pa, Ma. Sekalian mau nganterin Bu Aminah sama Hamzah juga," kata Bang Langit.


"Eh, nggak usah dianterin nggak pa-pa kok, nak. Ibu sama Hamzah bisa kok pulang sendiri. Nggak perlu ngerepotin kalian lagi," tolak ibu merasa sungkan.


"Iya, Bu Aminah. Biarkan Langit dan Jani yang nganterin ibu sama Hamzah pulang," imbuh Papa Surya juga.


"Hmm, ya sudah kalau begitu," kata ibu juga pada akhirnya.


Ibu kemudian bangun dari duduknya kemudian menghampiriku.


"Kak, ibu sama Hamzah pulang dulu, ya. Kakak istirahat yang cukup. Biar kondisinya segera pulih lagi dan jahitannya juga segera kering," pamit ibu sekaligus berpesan kepadaku.


"Iya, Bu. Hati-hati, ya. Ibu nanti di rumah harus istirahat juga. Pasti capek nungguin kakak di rumah sakit," balasku.


"Ibu nggak capek kok, Kak. Tapi kakak tenang aja, ibu pasti akan istirahat dengan baik," kata ibuku.


Ibu kemudian memelukku sekilas lalu mencium pipi baby Angkasa juga. Setelah itu kemudian ibu juga berpamitan kepada Mas Awan, Keinan, Mama Wulan, dan Papa Surya juga. Hamzah, Bang Langit, Kak Jani, Bintang, dan Inara pun kemudian juga ikut berpamitan kepadaku, Mas Awan, Keinan, Mama Wulan, dan Papa Surya secara bergantian.


Setelah selesai berpamitan, mereka berenam pun kemudian meninggalkan rumah ini untuk pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


"Awan, Shofi, kalian berdua juga sebaiknya langsung naik dan istirahat saja. Kalian berdua masih sama-sama membutuhkan istirahat yang cukup," kata Papa Surya kemudian setelah kepergian ibu, Hamzah, Bang Langit, Kak Jani, Bintang, dan Inara.


"Iya, Pa. Kalau gitu Awan sama Shofi langsung bawa Angkasa dan Keinan naik ke atas ya, Pa," pamit Mas Awan.


"Iya. Papa juga kemarin udah mindahin boks bayinya Angkasa ke sebelah tempat tidur kalian. Udah dibersihin juga. Jadi bisa langsung dipakai," kata Papa Surya.


"Siip. Papa memang terbaik. Makasih ya, Pa," ucap Mas Awan.


"Iya, sama-sama," balas Papa Surya.


"Ayo, Kak, kita naik ke atas. Kak Kei juga tidur siang dulu, biar nanti bisa main lagi sama dedek Angkasa-nya," kata Mas Awan kepada Keinan.


"Siap, Papa," balas Keinan.


"Shofi naik ke atas dulu ya, Pa, Ma," pamitku juga.


"Iya, Shofi," balas Papa Surya dan Mama Wulan.


Mas Awan kemudian membantuku untuk berdiri. Setelah itu Mas Awan lalu menggendong Keinan dan merangkulku juga. Kami berjalan bersama menaiki anak tangga menuju ke lantai atas dimana kamar kami berada.


Sesampainya di dalam kamar, Mas Awan kemudian membawa Keinan untuk mencuci tangan dan kakinya di kamar mandi. Setelah itu Mas Awan juga langsung mengeloni Keinan untuk tidur siang. Sementara aku juga sedang menyusui baby Angkasa.


Beberapa saat kemudian, Keinan sudah terlelap dalam tidurnya. Begitu juga dengan baby Angkasa yang sudah selesai menyusu dan kembali tertidur lagi. Aku pun kemudian meletakkan baby Angkasa ke dalam boks bayinya.


"Sini, sayang," panggil Mas Awan yang sudah mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


"Iya, Mas," balasku seraya tersenyum.


Aku pun kemudian berjalan menghampiri Mas Awan dan duduk di sebelahnya. Kami berdua duduk dengan saling berhadapan. Mas Awan kemudian mengangkat tangan kanannya dan membelai lembut pipiku.


"Mas bahagia banget, sayang. Akhirnya kita bisa berkumpul bersama lagi seperti dulu. Bahkan sekarang keluarga kecil kita juga semakin lengkap dengan kehadiran baby Angkasa juga," kata Mas Awan.


"Iya, Mas. Aku juga bahagia banget. Setelah hampir enam bulan akhirnya Mas Awan kembali juga dan bisa berkumpul lagi bersama dengan kami semua," ucapku.


Mas Awan kemudian mencium keningku penuh sayang. Setelah itu Mas Awan pun langsung memelukku dengan erat. Aku membalas pelukan Mas Awan dengan sama eratnya. Kami berdua kembali mencurahkan rasa rindu kami melalui pelukan hangat penuh kasih sayang ini.

__ADS_1


__ADS_2