
"Assalamu'alaikum," salam Awan dan Keinan begitu membuka pintu kafe.
"Wa'alaikumsalam, Bos, Bos kecil," jawab Adit yang memang stay di dekat pintu masuk kafe tersebut.
Awan baru saja menjemput Keinan pulang sekolah.
"Kakak cantik dimana, Kak Adit?" tanya Keinan begitu masuk ke dalam kafe.
"Hah, kakak cantik?" tanya balik Adit, bingung.
"Nisa maksudnya, Dit," jawab Awan dengan tertawa kecil.
"Oalah, Neng Nisa tho. Ada di dapur tuh, Bos kecil. Lagi nungguin Chef Yudha masak dia," kata Adit kemudian setelah tau kalau yang dimaksud dengan 'kakak cantik' oleh Keinan itu adalah Nisa.
"Di dapur? Oke, aku langsung kesana," balas Keinan dengan bersemangat.
Keinan kemudian langsung berlari menuju ke arah dapur di kafe tersebut.
"Hati-hati, Kak. Jangan lari-larian," peringat Awan seraya mengikuti Keinan dari belakang.
"Iya, Pa," balas Keinan yang masih tetap berlari itu.
Awan hanya bisa tersenyum dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah laku putranya itu.
"Kakak cantik," teriak Keinan begitu memasuki dapur kafe tersebut.
Nisa dan Chef Yudha pun langsung mengalihkan perhatian mereka berdua ke arah datangnya suara teriakan Keinan itu.
"Eh, Keinan," balas Nisa begitu melihat Keinan berlari menghampiri dirinya.
"Hai, Bos kecil," sapa Chef Yudha juga.
Keinan berhenti di hadapan Nisa dan Chef Yudha kemudian langsung mencium punggung tangan kanan Nisa.
"Assalamu'alaikum, kakak cantik, Om Yudha," salam Keinan.
"Wa'alaikumsalam, Keinan sayang," jawab Nisa dengan tersenyum manis.
"Wa'alaikumsalam, Bos kecil. Sama Om Yudha nggak usah salim aja, ya. Tangan Om kotor, lagi masak soalnya," jawab Chef Yudha seraya mengangkat kedua tangannya yang memang sedikit kotor karena terkena bahan masakan itu.
"Iya, Om. Nggak pa-pa kok," balas Keinan.
"Keinan udah pulang sekolah, ya?" tanya Nisa.
"Udah, Kak. Kakak cantik ikut ke rumah Keinan, yuk! Nanti kita main bareng sama dedek Angkasa," ajak Keinan.
"Wah, mau banget, dong. Boleh nggak, Kang?" tanya Nisa kepada Awan, terlihat bersemangat.
"Tentu saja boleh dong. Shofi juga tadi udah bilang suruh ngajakin Eneng main ke rumah kok, pas Akang telepon dia tadi," jawab Awan mengijinkan.
"Yah, Bos, terus gue ditinggal gitu? Padahal tadi gue udah bilang loh sama Abah sama Umi kalau nanti Neng Nisa gue yang anterin balik ke rumah sakit dengan selamat," protes Chef Yudha.
"Ck, dasar bucin Lo, Yud. Cuma ditinggal bentar doang juga. Lagian kan Lo juga lagi kerja ini. Iya-iya, nanti sore Lo jemput Neng Nisa ke rumah gue, terus Lo yang anterin dia balik ke rumah sakit dengan selamat. Gimana?" balas Awan sedikit jengah dengan kebucinan pasangan yang baru baru saja resmi jadian itu.
Sementara Nisa hanya bisa tersipu mendengar semua perkataan Chef Yudha dan Awan tersebut.
__ADS_1
"Yes. Nah, gitu dong, Bos. Cocok gue kalau gitu. Oke, Neng Nisa ikut ke rumah Bos Awan dulu, ya. Nanti sore Akang jemput Neng kesana," kata Chef Yudha sumringah.
"Iya, Kang," balas Nisa.
"Yeay, asyik, kakak cantik main ke rumah Keinan," girang Keinan.
Awan, Chef Yudha, dan Nisa sama-sama tersenyum melihat sorak gembira Keinan itu.
🍁🍁🍁
Mobil yang dikendarai oleh Pak Yanto baru saja berhenti di halaman rumah saat ini. Mas Awan, Keinan, dan Nisa pun kemudian turun dari mobil tersebut dan bergegas untuk masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," salam Mas Awan, Keinan dan Nisa bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Mama Wulan yang memang sedang duduk di ruang tamu menunggu kedatangan mereka bertiga.
"Eh, cucu sayangnya Oma udah pulang," kata Mama Wulan menyambut Keinan.
"Oma," panggil Keinan yang kemudian mencium punggung tangan kanan Mama Wulan.
Keinan kemudian juga bergantian mencium punggung tangan kananku. Mas Awan lalu juga mencium punggung tangan kanan Mama Wulan. Dan setelah itu gantian aku yang mencium punggung tangan kanan suamiku itu.
"Angkasa bobok, sayang?" tanya Mas Awan seraya mengusap lembut pipi baby Angkasa yang sedang aku gendong.
"Iya, Mas. Habis minum ASI tadi, terus bobok lagi dia," jawabku.
"Neng Nisa, selamat datang di rumah Tante," sambut Mama Wulan kepada Nisa.
"Iya, Tante. Terima kasih," balas Nisa yang kemudian juga mencium punggung tangan kanan Mama Wulan.
Nisa kemudian beralih kepadaku. Aku langsung menyambut hangat Nisa dan memeluknya sekilas.
"Alhamdulillaah Eneng baik, Teh. Teteh, Tante, dan yang lainnya juga gimana kabarnya?" tanya balik Nisa.
"Syukurlah kalau gitu. Alhamdulillaah kabar kita semua juga baik kok, Neng," jawabku.
"Syukur alhamdulillaah kalau gitu, Teh," balas Nisa.
"Kakak, langsung naik ke atas terus ganti baju, ya. Setelah itu kita makan siang bareng," kataku kemudian kepada Keinan.
"Siap, Bunda," balas Keinan patuh.
"Yuk, Kak, Papa temenin. Papa juga sekalian mau ganti baju juga," kata Mas Awan.
"Oke, Pa. Ayo! Oma, kakak cantik, Kak Kei ganti baju dulu, ya," pamit Keinan kemudian.
"Iya, sayang," balas Mama Wulan dan Nisa.
"Mas ke atas dulu ya, sayang. Ma, Eneng, Akang tinggal ke atas dulu sebentar, ya," pamit Mas Awan juga kepadaku, Mama Wulan, dan Nisa.
Aku, Mama Wulan, dan Nisa pun mengangguk mengiyakan. Mas Awan kemudian mengajak Keinan untuk naik ke lantai atas, menuju ke kamar kami untuk berganti baju terlebih dahulu.
"Ayo, Neng, kita duduk dulu disini. Sekalian nungguin Mas Awan sama Keinan selesai ganti baju," ajakku kepada Nisa.
"Iya, Teh," jawab Nisa.
__ADS_1
Aku, Mama Wulan, dan Nisa kemudian duduk bersama di sofa ruang tamu. Kami mengobrol ringan, sembari menunggu Mas Awan dan Keinan yang sedang berganti baju.
Setelah Mas Awan dan Keinan selesai berganti baju, kami semua pun kemudian makan siang bersama.
Awalnya Nisa memang sempat merasa canggung juga, tetapi karena sikap ramah kami semua akhirnya Nisa pun bisa merasa nyaman dan tidak merasa canggung lagi.
Setelah selesai makan siang, Mama Wulan kemudian pamit untuk beristirahat di kamarnya. Sementara aku dan Mas Awan mengajak Nisa untuk duduk di ruang keluarga. Sekalian menemani Keinan bermain dan menunggui baby Angkasa yang juga masih bobok dengan pulas itu.
"Bunda, masih ada puding buah enggak?" tanya Keinan tiba-tiba.
"Mmm, kayaknya di kulkas masih ada kok, Kak. Kakak mau?" aku bertanya balik kepada Keinan.
"Mau-mau, Bun. Tolong ambilin ya, Bun. Sekalian buat kakak cantik juga. Biar kakak cantik bisa ngerasain enaknya puding buah buatan Bunda," pinta Keinan.
"Iya deh, sayang. Bunda ambilin dulu, ya," ucapku seraya berdiri dari dudukku.
"Mau Eneng temenin, Teh?" tanya Nisa.
"Nggak usah, Neng. Cuma ambil puding buah aja kok. Eneng tunggu disini aja dulu sama Keinan, ya," jawabku dengan tersenyum.
"Iya, Teh. Ya udah kalau gitu," balas Nisa.
"Aku ke dapur bentar ya, Mas," pamitku kepada Mas Awan.
"Iya, sayang," balas Mas Awan dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Aku kemudian berjalan menuju ke dapur. Sampai di dapur aku langsung membuka pintu kulkas dan mengambil puding buah yang ada di dalam kulkas. Aku keluarkan puding buah tersebut dari dalam kulkas kemudian menatanya di atas piring.
Grep!
Aku tersentak kaget ketika tiba-tiba ada yang memeluk tubuhku dari belakang. Aku langsung menolehkan kepalaku dan ternyata itu adalah Mas Awan. Aku pun kemudian membuang nafas lega.
"Mas Awan iiihhh,,, ngagetin aja deh," keluhku.
"Gitu aja kaget," ledek Mas Awan seraya mencium pipiku kemudian meletakkan kepalanya di pundakku.
"Ya Mas Awan tiba-tiba langsung meluk gini, siapa yang nggak kaget coba?" balasku sedikit kesal.
"Biarin. Mas emang sengaja kok. Habisnya kangen,,," keluh Mas Awan seperti anak kecil.
"Mas Awan ada-ada aja, deh. Barusan juga duduk bareng, eh sekarang udah bilang kangen aja," ledekku menertawakan tingkah menggemaskan suamiku itu.
"Emang nggak boleh apa? Suka-suka Mas dong. Kangenin istri sendiri ini, kok," balas Mas Awan yang justru semakin mengusel di ceruk leherku.
"Mas Awan iiihhh, geli tau," protesku.
"Biarin. Mas suka," balas Mas Awan cuek.
"Maaasss... Lepasin ah. Nanti ada yang lihat gimana? Ini di dapur loh, Mas. Mana siang hari gini pula," tegurku, khawatir kalau sampai nanti ada yang melihat kami berdua seperti ini.
"Biarin aja kenapa sih, sayang? Kamu kan istrinya Mas. Jadi ya sah-sah aja dong Mas peluk kamu kayak gini," bantah Mas Awan, ngeyel.
"Ya tapi kan nggak enak, Mas, kalau sampai dilihatin sama Bik Sani atau yang lainnya," rajukku.
"Biarin. Udah ah, diem. Pokoknya Mas lagi pengen mengobati rasa kangen Mas sama istri Mas yang cantik ini," tegas Mas Awan kemudian dengan kembali mengusel di ceruk leherku.
__ADS_1
Aku tertawa kecil. Di satu sisi karena merasa geli, sebab Mas Awan yang terus mengusel di ceruk leherku itu. Dan di sisi lain karena merasa lucu mendengar perkataan Mas Awan yang merajuk seperti anak kecil itu.
Tanpa aku dan Mas Awan sadari, ternyata Nisa sedang memperhatikan apa yang terjadi antara aku dan Mas Awan dari balik tembok menuju ke dapur ini sedari tadi.