
Diluar kesadaran Hamzah, tiba-tiba saja tangan kirinya sudah turun ke bawah. Meninggalkan pipi Ayesha, lalu berhenti di salah satu bagian menonjol yang terdapat di depan tubuh Ayesha. Menemukan kelembutan dan kehangatan dari gunung kembar milik Ayesha itu.
Hamzah meremas lembut. Meresapi kekenyalan dari benda yang baru pertama kali ini dia sentuh dengan tangannya itu. Dan apa yang dilakukan oleh Hamzah itu sukses membuat mulut mungil Ayesha mengeluarkan desahannya secara refleks.
"Aaahhhhh," de sa han lolos begitu saja dari mulut Ayesha sehingga membuat pertautan bibir antara dirinya dengan Hamzah pun menjadi terlepas.
Tetapi bukannya berhenti, bibir Hamzah justru turun dan menyapu di leher jenjang Ayesha. Ayesha seketika langsung mengangkat wajahnya, membuat Hamzah justru memiliki akses yang lebih leluasa untuk bermain di leher jenjang Ayesha itu. Mencium, menghisap, dan menggigit kecil, meninggalkan tanda kemerahan di leher Ayesha.
Semua rasa asing yang baru pertama kali dirasakan oleh Ayesha ini rasanya hampir membuat Ayesha gila. Tetapi sedikit kesadaran Ayesha masih bisa membuat Ayesha untuk bisa berpikir dengan jernih.
"Kak Hamzah. Mmmhhh, jangan Kak," ucap Ayesha susah payah di sela-sela menahan desahannya sendiri itu.
Sayangnya Hamzah menulikan telinganya. Pengaruh dari obat yang tanpa sengaja diminum oleh Hamzah tadi benar-benar membuat Hamzah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat ini.
Sekuat tenaga Ayesha berusaha untuk menghentikan perbuatan Hamzah kepada dirinya. Ayesha mengumpulkan seluruh kekuatannya. Setelah itu Ayesha pun langsung mencekal tangan Hamzah yang sedang bermain di dadanya itu. Tangan Ayesha yang satu lagi juga berusaha untuk menjauhkan wajah Hamzah dari ceruk leher Ayesha saat ini.
Air mata sudah mulai turun dan membasahi wajah cantik Ayesha saat ini. Di dalam hatinya Ayesha bertekad bahwa dia harus bisa menyadarkan kekasihnya itu. Ayesha harus bisa menghentikan semua kesalahan ini agar tidak menjadi sebuah bencana.
__ADS_1
Sekuat tenaga Ayesha mencoba untuk mendorong tubuh Hamzah.
"Kak Hamzah. Cukup Kak! Kita nggak boleh melakukan semua kesalahan ini. Ingat janji kita, Kak. Ingat komitmen yang sudah kita sepakati sejak awal," hardik Ayesha berusaha untuk sekeras mungkin.
Dan beruntungnya, ucapan Ayesha itu berhasil menyadarkan Hamzah. Mungkin pengaruh obat itu juga sedang sedikit berkurang saat ini, sehingga Hamzah pun bisa menarik kembali sedikit kesadarannya sendiri.
Hamzah langsung menegakkan tubuhnya dan menjauh dari tubuh Ayesha. Kedua mata Hamzah membulat sempurna setelah tersadar dari semua yang sudah dia lakukan tadi.
"Astaghfirullah hal adziim. Yaa Allah. Astaghfirullah hal adziim. Apa yang udah kakak lakuin ke kamu, Sha?" ucap Hamzah penuh dengan penyesalan.
"Yaa Allah, Sha. Apa yang sudah kakak lakuin? Astaghfirullah hal adziim," sesal Hamzah lagi dan lagi.
Tangan kanan Hamzah terulur hendak menyentuh wajah Ayesha dan menghapus air mata di wajah cantik kekasihnya itu. Tetapi kemudian Hamzah mengurungkan niatnya. Tangan Hamzah itu berhenti di udara.
"Maaf, Sha. Maaf. Tolong maafin kakak," lirih Hamzah sendu.
Hamzah lalu berdiri dari duduknya dan langsung berbalik, melangkah cepat untuk kembali masuk ke dalam kamar yang tadi dia tempati itu.
__ADS_1
"Kak Hamzah," teriak Ayesha seraya berdiri dari duduknya begitu melihat kekasihnya itu pergi.
Brak!
Pintu kamar itu kembali tertutup dengan cukup keras. Ayesha pun lalu kembali jatuh terduduk di sofa. Air mata itu semakin mengalir deras di kedua pipi Ayesha. Tangisan Ayesha akhirnya pecah juga. Ayesha menangkup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya sendiri. Ayesha pun menangis tersedu seraya menyembunyikan wajahnya saat ini.
Hal yang tidak jauh berbeda juga sedang dialami oleh Hamzah di dalam kamar tamu apartemen Nadirga itu saat ini. Hamzah langsung bergegas untuk masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Tanpa melepaskan pakaiannya terlebih dahulu, Hamzah langsung menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya itu menggunakan air yang mengalir dari kran shower tersebut.
Air mata itu akhirnya jatuh juga. Hamzah begitu menyesali apa yang sudah dia perbuat tadi kepada Ayesha. Tubuh Hamzah seketika luruh ke lantai kamar mandi yang dingin itu. Hamzah mengusap wajahnya dengan kasar. Kedua tangan Hamzah lalu meremas rambut di kepalanya itu dengan cukup keras. Seolah Hamzah ingin menghukum dirinya sendiri saat ini.
"Apa yang sudah aku lakukan, Yaa Allah? Bagaimana bisa aku perbuat sampai sejauh itu kepada Ayesha? Aku sudah sangat bersalah kepada Ayesha. Ayesha pasti membenciku sekarang," sesal Hamzah lagi.
Baik Ayesha maupun Hamzah sama-sama sedang menangis saat ini. Menyesali apa yang sudah sempat terjadi kepada mereka berdua tadi. Terutama Hamzah. Hamzah sangat menyesalkan dirinya sendiri yang sempat hilang kendali dan terbawa oleh hawa nafsunya tadi. Sehingga Hamzah sampai berbuat seperti itu kepada Ayesha.
Sementara itu, di dalam hati kecilnya, Ayesha juga merasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Karena Allah Subhanahu wa ta'ala masih memberikan kesempatan kepada Hamzah untuk sadar dari hawa nafsunya sendiri. Sehingga hal yang lebih buruk lagi tidak sampai terjadi kepada mereka berdua tadi.
__ADS_1