
Akhir pekan ini aku, Mas Awan, Keinan, dan Angkasa menginap di rumah ibu. Sekalian, Hamzah bilang kalau ada sesuatu yang sangat penting yang ingin dia bicarakan dengan kami semua.
Malam harinya, selesai makan malam bersama, Hamzah mengumpulkan kami semua di sofa ruang tamu untuk membicarakan tentang hal penting yang ingin Hamzah sampaikan kepada kami semua itu.
"Jadi, ada apa, Ham? Hal penting apa yang mau kamu bicarakan dengan kami semua?" tanya ibu memulai pembicaraan.
"Ibu, Kak Shofi, Kak Awan, aku akan segera menikahi Ayesha. Dalam waktu dekat ini aku juga akan melamar Ayesha secara resmi," kata Hamzah menjawab pertanyaan ibu tadi sekaligus memberitahukan tentang niatannya itu kepada kami semua.
"Syukur alhamdulillaah," ucap syukurku, Mas Awan, dan ibu secara bersamaan.
Kami bertiga merasa bahagia mendengar tentang kabar baik yang disampaikan oleh Hamzah tersebut. Hamzah pun juga terlihat menghembuskan nafas lega seraya tersenyum senang melihat reaksi dari kami bertiga.
"Syukurlah, Ham. Ibu senang karena akhirnya kamu sudah memantapkan hati kamu juga setelah sekian lama," ucap bahagia ibu.
"Iya, Dek. Setelah sekian lama akhirnya kamu sudah mantap juga untuk menikah dengan Ayesha dan meresmikan hubungan kalian berdua. Kakak juga ikut senang, Ham," ucapku dengan tersenyum bahagia juga.
"Iya, Bu, Kak. Setelah semua yang terjadi belakangan ini, akhirnya aku menyadari kalau aku sangat takut kehilangan Ayesha. Aku ingin selalu bisa berada di sisi Ayesha dan bisa melindungi Ayesha setiap saat. Aku menyayangi Ayesha, Bu, Kak. Dan aku tidak ingin terjadi hal yang buruk terhadap Ayesha lagi. Apalagi seperti kejadian kemarin itu," kata Hamzah.
"Bagus, Ham. Kakak sangat mendukung niat baik kamu itu. Dan juga, semoga setelah kamu dan Ayesha resmi menikah nanti, maka Chika sudah benar-benar mundur dan tidak berusaha untuk terus memisahkan kalian berdua dengan cara-cara yang licik seperti kemarin itu lagi," ucap Mas Awan juga.
"Itu juga yang menjadi pertimbangan awalku, Kak. Chika sudah benar-benar nekat dan keterlaluan. Kalau hanya dengan ucapan penolakanku saja masih belum bisa menghentikan Chika, semoga setelah aku menikah dengan Ayesha nanti maka Chika bisa benar-benar berhenti dan tidak terus-terusan mengejar aku lagi, apalagi berusaha untuk memisahkan aku dan Yesha lagi," balas Hamzah.
"Semoga seperti itu ya, Ham," ucap ibu.
"Iya, Ham. Semoga setelah ini Chika benar-benar sadar dan berhenti mengejar kamu lagi," ucapku juga.
"Iya, Bu, Kak. Aamiin," balas Hamzah.
"Jadi kapan rencananya kamu mau membawa kami untuk datang ke rumah Ayesha dan melamar Ayesha secara resmi, Ham?" tanya ibu kemudian.
"Rencana Hamzah minggu depan, Bu, Kak. Kemarin Om Yas dan Kak Dirga juga sudah berpesan, tidak perlu terlalu repot dan membawa banyak barang. Sederhana saja yang penting semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar," jawab Hamzah.
"Tetapi meskipun begitu kita juga tetap akan membawa buah tangan kan, Ham. Masak iya kita mau datang dengan tangan kosong," kata ibu.
__ADS_1
"Iyalah, Bu. Kita tetap bawa dong. Tetapi sewajarnya saja, tidak perlu terlalu mewah. Aku juga sudah beli cincin untuk Ayesha juga kok kemarin," ucap Hamzah.
"Syukurlah kalau gitu, Ham," balas ibu.
"Oke, Ham. Minggu depan kami temani kamu untuk datang ke rumah Ayesha dan melamar Ayesha. Kalau ada sesuatu yang bisa kami bantu, kamu jangan sungkan-sungkan untuk bilang ya, Ham," kata Mas Awan.
"Iya, Kak. Makasih ya sebelumnya. Oh iya, besok lusa setelah pulang kerja aku juga akan datang ke rumah kakak untuk menemui Om Surya dan Tante Wulan. Memberitahu tentang kabar ini kepada beliau berdua sekalian meminta tolong kepada Om Surya dan Tante Wulan untuk ikut pada acara lamaran nanti juga," kata Hamzah memberitahu.
"Iya, Ham. Nanti biar kakak beritahu Papa dan Mama juga, biar mereka berdua nggak kaget pas kamu datang nanti," balasku.
"Iya, Kak. Makasih," ucap Hamzah.
🍁🍁🍁
Keesokan harinya.
Sekitar jam sepuluh pagi, tiba-tiba saja kami semua dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tua Bayu dan Chika, Pak Arya dan Bu Winna. Bahkan Bu Winna juga langsung marah-marah begitu sampai di rumah ibu tersebut.
Aku dan Mas Awan langsung bergegas untuk keluar dari kamar begitu mendengar suara teriakan keras dari luar tersebut. Ternyata ibu dan Hamzah juga sudah bergegas untuk segera menuju keluar rumah. Aku dan Mas Awan pun kemudian juga menyusul langkah ibu dan Hamzah menuju keluar rumah.
Dan begitu terkejutnya kami ketika kami mendapati kehadiran Pak Arya dan Bu Winna di teras rumah ibu tersebut.
"Pak Arya, Bu Winna. Ada apa ini?" tanya ibu bingung dan terkejut.
"Bu Aminah, kedatangan kami ---"
"Shofi! Hamzah! Kalian berdua benar-benar sudah keterlaluan," kata Bu Winna memotong perkataan suaminya sendiri yang hendak menjelaskan tentang maksud kedatangan mereka berdua itu.
Aku dan Hamzah mengurutkan kening kami berdua, begitu juga dengan Mas Awan dan ibu. Kami semua merasa bingung dengan maksud dari perkataan Bu Winna itu tadi.
"Bu, tenang dulu, Bu," kata Pak Arya seraya merangkul kedua lengan Bu Winna, mencoba untuk menenangkan istrinya yang terlihat sangat emosi itu.
"Maaf, tapi maksud Bu Winna apa ya?" tanya ibu bingung.
__ADS_1
"Iya, Bu, maksud perkataan Bu Winna tadi apa? Saya dan Kak Shofi keterlaluan kenapa, Bu?" tanya Hamzah juga.
"Kalian berdua sudah membuat Bayu dan Chika ditangkap oleh polisi. Kedua anak saya itu saat ini sedang ditahan di kantor polisi. Kenapa kalian berdua setega itu kepada Bayu dan Chika?" jawab Bu Winna masih dengan emosinya.
Ah, ternyata karena masalah itu. Akhirnya kami mengerti kenapa tiba-tiba Pak Arya dan Bu Winna datang kesini bahkan dengan marah-marah seperti itu. Hamzah kemudian langsung maju ke depan, mencoba untuk menjelaskan.
"Bu Winna, maaf, tapi bukan kami yang keterlaluan. Justru Kak Bayu dan Chika sendiri yang sudah berbuat hal yang sangat jahat dan keterlaluan, Bu. Tindakan Kak Bayu dan Chika itu sudah termasuk perbuatan kriminal. Jadi sudah seharusnya kalau mereka berdua mempertanggungjawabkan semua perbuatan buruk mereka itu kepada pihak yang berwajib," kata Hamzah.
"Apanya yang jahat dan keterlaluan? Bayu dan Chika hanya berusaha untuk memperjuangkan cinta mereka. Lalu dimana salahnya mereka berdua?" tanya Bu Winna masih belum terima.
Kali ini aku yang maju ke depan. Mas Awan sempat memegangi lenganku dan mencoba untuk menghentikanku. Tetapi aku berhasil meyakinkan suamiku itu dengan senyuman dan anggukan kepalaku. Akhirnya Mas Awan pun membiarkan aku untuk maju, menyusul Hamzah saat ini.
"Bu, memperjuangkan cinta memang tidak salah. Tetapi kalau sudah sampai pada tahap membahayakan nyawa dan keselamatan orang lain, itu sangat tidak benar, Bu. Bayu sudah menyebabkan Mas Awan sampai kecelakaan seperti itu. Sementara Chika juga sudah melakukan penculikan dan percobaan pemerkosaan terhadap Ayesha. Perbuatan mereka berdua itu sudah termasuk dalam tindakan kriminal, Bu. Jadi sudah sewajarnya kalau mereka berdua harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka itu secara hukum," ucapku juga, menjelaskan kepada mantan ibu mertuaku itu.
Kali ini Bu Winna terdiam. Sepertinya beliau menyadari kalau perkataanku itu tadi adalah benar.
"Shofi, Hamzah, maaf kalau kami tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Maaf juga kalau tadi istri bapak sudah marah-marah terhadap kalian berdua. Kami hanya merasa sangat terkejut dan masih belum bisa menerima karena kedua anak kami tiba-tiba ditahan oleh pihak kepolisian seperti ini," kata Pak Arya kemudian, meminta maaf sekaligus menjelaskan kepada kami.
"Tidak apa-apa, Pak Arya. Kami bisa memahami bagaimana perasaan bapak dan ibu saat ini. Tetapi seperti yang sudah dibilang oleh Hamzah dan Shofi tadi, perbuatan Bayu dan Chika itu sudah termasuk dalam tindakan kriminal, jadi sudah seharusnya kalau mereka berdua mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka itu secara hukum juga," kali ini ibu yang menjawab perkataan dari mantan ayah mertuaku itu.
"Tapi tidak bisakah kalau Hamzah dan Shofi membantu kami untuk memohon kepada pihak kepolisian untuk bisa meringankan hukuman untuk Bayu dan Chika tersebut?" tanya Pak Arya, memohon.
"Maaf Pak, bukannya kami tidak mau. Tetapi polisi juga memiliki peraturan mereka sendiri. Pihak kepolisian juga pasti melakukan penyelidikan yang menyeluruh tentang semua yang sudah terjadi. Jadi biarkan semuanya berjalan sesuai dengan peraturan dari pihak kepolisian. Dan untuk masalah hukuman untuk Kak Bayu dan Chika, biarkan juga itu menjadi keputusan dari pihak pengadilan nantinya, Pak," jawab Hamzah.
Pak Arya mengesah pelan. Pasti rasanya berat bagi beliau. Karena biar bagaimanapun juga, semua yang sudah aku, ibu, dan Hamzah katakan itu adalah benar. Bu Winna tiba-tiba saja justru mulai menangis.
"Tolonglah, Shofi, Hamzah. Tolong kalian berdua cabut tuntutan kalian terhadap Bayu dan juga Chika. Kasihanilah ibu. Bagaimana bisa ibu membiarkan kedua anak ibu itu ditahan oleh polisi seperti ini? Huhuhuuu," pinta Bu Winna dengan menangis.
"Ibu, tolong maafkan kami. Bukannya kami tidak mau membantu ibu. Tetapi proses penyelidikan dari pihak kepolisian tidak bisa kita hentikan begitu saja. Jadi biarkan semuanya berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku ya, Bu. Dan lagi, tuntutan terhadap Chika bukan Hamzah yang mengajukan, melainkan dari pihak keluarga Ayesha. Jadi kami tidak bisa membantu apapun," kataku menjelaskan.
"Bapak, ibu, kami sangat memahami bagaimana kekhawatiran bapak dan ibu saat ini. Tetapi biar bagaimanapun juga Bayu dan Chika tetap harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan buruk mereka berdua kemarin itu. Jadi biarkan mereka berdua menerima hukuman yang sepantasnya untuk perbuatan yang sudah mereka berdua lakukan. Semoga dengan begitu, mereka berdua bisa mengambil pelajaran dan tidak akan mengulangi lagi semua perbuatan buruk mereka seperti kemarin itu," kata ibu.
Pak Arya dan Bu Winna nampak terdiam. Mereka berdua tidak bisa menyangkal ataupun melakukan pembelaan lagi. Mereka berdua sepertinya juga menyadari kalau kedua anak mereka itu memang terbukti bersalah dan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan buruk mereka kemarin itu secara hukum.
__ADS_1