
Rijal mengerutkan keningnya begitu mendengar nama 'Shofi' yang sedang dibicarakan oleh Langit dan keluarganya itu.
'Shofi? Bukannya itu adalah nama yang selalu disebut Awan dalam tidurnya? Mungkinkah mereka semua ini benar-benar keluarga Awan yang sesungguhnya?' tanya batin Rijal.
"Ayo, Bu. Kita langsung ke ruangan bersalin aja. Sudah nggak sabar nih pengen lihat cucu kita," ajak Wulan begitu antusias kepada Aminah.
"Iya, Bu Wulan. Mari," balas Aminah yang juga terlihat begitu bahagia.
Wulan dan Aminah kemudian melangkah bersama menuju ke arah ruangan bersalin.
"Awan?" tanya Surya lirih begitu Wulan dan Aminah sudah beberapa langkah menjauh dari mereka.
"Di dalam, Pa. Tadi dia pingsan. Sekarang sedang ditangani dokter," jawab Langit yang juga ikut berbicara pelan.
"Oke. Kamu urusin dulu. Papa ikut mamamu lihat Shofi dulu," kata Surya.
"Iya, Pa," balas Langit.
"Jangan lupa kabarin Papa," pesan Surya.
"Pasti, Pa."
Surya kemudian langsung bergegas untuk menyusul Wulan dan Aminah yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.
"Maaf ya, Kang. Itu tadi Papa sama Mama saya dan Awan. Terus yang satu lagi itu ibu mertuanya Awan, ibunya Shofi," kata Langit menjelaskan kepada Rijal.
"Iya Kang, nggak pa-pa kok. Mmm, Shofi itu?" tanya Rijal yang begitu penasaran.
"Shofi adalah istrinya Awan, Kang," jawab Langit.
"Ah, pantas saja," ucap Rijal.
"Maksud Kang Rijal?" tanya Langit bingung.
"Saat pertama kali saya dan Abah saya menemukan Awan di sungai di dekat ladang kami, Awan memang dalam keadaan terluka. Dia juga sempat tidak sadarkan diri selama tiga hari. Dan ketika dalam keadaan tidak sadar itu, Awan beberapa kali mengigau dan menyebutkan nama 'Shofi' itu, Kang. Seolah-olah itu adalah ingatan dari alam bawah sadar dia," jawab Rijal menjelaskan.
"Sungguh, Kang?" tanya Langit memastikan.
"Iya, Kang. Sungguh. Bahkan Awan juga pernah cerita sama saya, kalau dia juga seringkali tiba-tiba terbangun di malam hari dan menyebut nama 'Shofi' itu juga."
"Masya Allah. Maha Besar Allah dengan segala kuasa-Nya," ucap Langit memuji kebesaran Allah Subhanahu wata'ala.
__ADS_1
"Jadi, hampir bisa dipastikan kalau Awan ini adalah benar adik kandung dari Kang Langit, ya?" gumam Rijal, menarik kesimpulan.
"Semoga saja memang benar seperti itu, Kang. Saya sangat berharap seperti itu," imbuh Langit yang terlihat penuh harap itu.
"Lalu kenapa ini tadi Awan bisa pingsan, Kang?" tanya Rijal menyuarakan kebingungannya sedari tadi.
"Awan pingsan setelah dia mengumandangkan adzan pertama untuk putranya tadi, Kang," jawab Langit.
"Putra?" tanya Rijal bingung.
"Iya, Kang. Sewaktu kecelakaan itu terjadi, Shofi memang sedang hamil tiga bulan. Dan saya juga belum tau gimana ceritanya ini tadi sampai Awan akhirnya bisa bertemu kembali dengan Shofi. Karena begitu saya datang, Shofi sudah berada dalam pelukan Awan dan sedang mengalami kontraksi serta pecah ketuban dini," jawab Langit.
"Astaghfirullah hal adziim," lirih Rijal.
"Terus akhirnya dokter memutuskan kalau Shofi harus melahirkan lebih awal dari perkiraan sebelumnya karena kejadian itu. Dan Awan yang menemani Shofi selama proses persalinannya itu. Sampai akhirnya tadi Awan pingsan karena merasakan sakit di kepalanya setelah selesai mengumandangkan adzan pertama untuk putranya yang baru lahir itu dan langsung dibawa kesini ini, Kang," lanjut Langit menceritakan sesuai yang dia ketahui.
"Yaa Allah," lirih Rijal lagi.
"Kita tunggu aja ya, Kang. Semoga keadaan Awan baik-baik saja dan dia juga bisa segera sadar kembali," kata Langit.
"Iya, Kang. Aamiin," balas Rijal yang juga mengaminkan.
Rijal yang menceritakan bagaimana dulu dirinya dan Abah Imron menemukan Awan sampai akhirnya Awan bisa tinggal bersama dengan keluarga mereka. Dan Langit yang menceritakan tentang kejadian kecelakaan yang dialami oleh Awan serta bagaimana keadaan keluarga setelah kecelakaan tersebut terjadi. Juga usaha apa saja yang sudah dilakukan untuk mencari keberadaan Awan.
Sampai akhirnya tiba-tiba ada seorang perawat yang keluar dari ruangan IGD dan memanggil mereka.
"Keluarga pasien atas nama Awan," panggil perawat tersebut.
"Saya, sus," ucap Langit dan Rijal bersamaan yang langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri perawat tersebut.
"Bagaimana kondisi adik saya, sus?" tanya Langit.
"Pasien sudah sadar. Bapak diperbolehkan untuk masuk ke dalam dan menemui pasien. Mari, Pak," jawab perawat tersebut sekaligus mempersilahkan agar Langit dan Rijal mengikuti dirinya.
Langit dan Rijal kemudian mengikuti perawat tersebut untuk masuk ke dalam ruangan IGD.
"Awan," panggil Langit dan Rijal bersamaan begitu sampai di brankar milik Awan.
"Bang Langit, Kang Rijal," balas Awan masih sedikit lemah.
"Gimana keadaan kamu sekarang, Dek?" tanya Langit.
__ADS_1
"Bang, Awan udah ingat semuanya, Bang. Kang Rijal, Awan udah bisa ingat semua masa lalu Awan dulu, Kang," kata Awan begitu antusias seraya melihat bergantian ke arah Langit dan juga Rijal.
"Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin," pekik Langit dan Rijal begitu bahagia.
"Jadi kamu udah ingat semuanya, Dek? Kamu udah ingat sama Abang dan yang lainnya?" tanya Langit memburu.
"Iya, Bang. Awan udah ingat," jawab Awan.
"Syukur alhamdulillaah," lirih Langit yang diikuti oleh Rijal juga.
"Shofi. Gimana dengan Shofi dan baby Angkasa, Bang?" tanya Awan begitu teringat dengan istri dan putranya yang baru lahir itu.
"Mereka baik-baik saja, Wan. Tadi sih masih di ruang persalinan. Masih ada beberapa tindakan dari dokter kayaknya. Tapi nggak tau juga kalau sekarang, udah dipindahkan ke ruang rawat inap atau belum," jawab Langit.
"Awan mau kesana sekarang, Bang. Awan mau ketemu sama Shofi sama baby Angkasa juga. Dan Keinan,,," ucapan Awan terhenti begitu mengingat tentang Keinan, putra sambung yang sangat dia sayangi itu.
Langit mengulum senyum, adiknya itu memang sesayang itu kepada Keinan.
"Keinan juga baik, Wan. Dia ada di rumah Abang sekarang, sama Kak Jani," kata Langit memberitahu.
"Syukurlah. Awan kangen banget sama Keinan, Bang," ucap Awan dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Keinan juga kangen banget sama kamu, Wan," balas Langit.
"Sekarang Awan mau lihat Shofi sama baby Angkasa dulu, Bang. Tolong anterin Awan kesana, Bang," pinta Awan.
"Tapi kamu kan baru aja sadar, Wan. Kondisi kamu juga masih lemas," kata Langit.
"Awan udah nggak pa-pa kok, Bang. Tolong anterin Awan, Bang. Awan pengen ketemu sama Shofi dan baby Angkasa, Bang," pinta Awan lagi setelah meyakinkan Langit kalau dia baik-baik saja.
"Tapi, Wan ---"
Tepukan pelan di pundak Langit dari Rijal membuat Langit menghentikan ucapannya. Langit kemudian menoleh ke arah Rijal. Dapat Langit lihat Rijal yang menganggukkan kepalanya pelan. Langit paham apa yang dimaksud oleh Rijal tersebut.
"Ya udah. Abang minta ijin sama perawat dulu, ya," kata Langit pada akhirnya, mengiyakan keinginan Awan.
Awan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang. Langit kemudian meminta ijin kepada perawat yang sedang bertugas untuk membawa Awan pergi menemui istri dan juga putranya di ruangan bersalin.
Setelah mendapatkan ijin dari perawat, Langit dan Rijal kemudian membantu Awan untuk berjalan keluar dari ruangan IGD tersebut. Dan baru saja mereka berjalan beberapa langkah meninggalkan pintu ruangan IGD itu, langkah mereka tiba-tiba berhenti karena mendengar sebuah teriakan.
"PAPA AWAN!!!"
__ADS_1