
Awan segera dibawa ke rumah sakit oleh Adit dan Chef Yudha menggunakan mobil milik Awan sendiri. Karena kebetulan hanya Chef Yudha yang sudah bisa menyetir mobil dengan lancar di antara karyawan Awan yang lainnya di kafe tersebut.
Tadi begitu terjadi kecelakaan yang menimpa Awan itu, beberapa bapak-bapak yang berjualan di depan sekolah Keinan, yang memang mengetahui kalau Awan adalah pemilik kafe di seberang jalan, itupun langsung memberikan kabar kepada karyawan Awan di kafenya tersebut. Itu kenapa Adit dan Chef Yudha bisa dengan segera membawa Awan ke rumah sakit.
Sementara Keinan diantar pulang oleh Danu. Sekaligus Danu hendak menyampaikan berita tentang kecelakaan yang dialami oleh Bos Awan-nya itu tadi kepada Shofi dan keluarga Awan yang lainnya.
🍁🍁🍁
Terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman rumah kami. Tidak lama kemudian,
"Assalamu'alaikum," salam seseorang dari luar.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Mama Wulan yang saat ini sedang berada di ruang keluarga bersama dengan baby Angkasa.
Aku dan Mama Wulan saling berpandangan.
"Kok kayak suara Danu ya, Ma," ucapku mengutarakan tebakanku.
"Kayaknya sih iya. Yuk kita ke depan dulu," ajak Mama Wulan kemudian.
Baru juga aku dan Mama Wulan bangun dari duduk kami, tiba-tiba saja sudah terdengar suara tangisan Keinan. Aku dan Mama Wulan semakin terkejut dan kebingungan. Tidak lama kemudian Keinan sudah terlihat berlari menghampiri kami dengan menangis terisak-isak. Danu mengikuti Keinan di belakangnya.
"Bunda,,, Oma... Huhuhu,,, Papa, Bun. Papa berdarah terus dibawa ke rumah sakit sama Kak Adit sama Om Yudha. Huhuhu,,,," adu Keinan seraya memelukku.
Aku dan Mama Wulan langsung membulatkan kedua mata kami masing-masing karena sangat terkejut mendengar semua perkataan Keinan itu.
__ADS_1
"A-apa maksud kamu, sayang? Papa kamu kenapa? Papa berdarah kenapa?" tanyaku seketika langsung merasa sangat khawatir.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Dan?" tanya Mama Wulan kepada Danu.
"Begini, nyonya Bos, Bu Bos, tadi Bos Awan mengalami kecelakaan di depan sekolahnya Keinan," jawab Danu.
"APA???" aku dan Mama Wulan sontak berteriak bersamaan.
Kabar mengejutkan ini seperti petir yang menyambar di siang hari. Aku dan Mama Wulan benar-benar merasa sangat terkejut saat ini. Kedua mataku seketika langsung berkaca-kaca. Segala macam pikiran buruk segera saja sudah memenuhi isi kepalaku saat ini. Aku sangat mengkhawatirkan bagaimana keadaan Mas Awan saat ini.
"Tadi pas Bos Awan mau jemput Keinan, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju dengan sangat kencang. Bos Awan yang sedang dalam posisi menyeberang jalan pun akhirnya terserempet dan terjatuh," kata Danu, menceritakan tentang detail kejadian yang dia dapatkan dari beberapa orang warga yang melihat terjadinya kecelakaan yang menimpa Bos Awan-nya itu tadi.
"Lalu bagaimana dengan kondisi Awan sekarang, Dan?" tanya Mama Wulan memburu .
Air mata sudah mengalir juga di kedua pipiku. Dengan cepat aku segera menghapus air mataku itu. Aku harus bisa kuat dan tetap tenang untuk saat ini. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan dan kekhawatiranku sendiri. Memastikan kondisi Mas Awan sesegera mungkin adalah hal yang paling penting.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Dan. Tolong anterin aku ke rumah sakit sekarang juga," pintaku kepada Danu.
"Iya, Bu Bos. Tadi Chef Yudha juga udah bilang kayak gitu. Aku disuruh nganterin Keinan pulang sekalian jemput Bu Bos terus bawa Bu Bos ke rumah sakit. Bos Langit sama Bos besar juga udah dihubungi tadi. Dan mereka berdua juga langsung menuju ke rumah sakit katanya," kata Danu juga, menjelaskan.
"Syukurlah kalau gitu," ucap Mama Wulan merasa sedikit lega karena mengetahui Papa Surya dan Bang Langit juga sudah menuju ke rumah sakit.
"Ma, aku titip Angkasa sama Keinan dulu ya, Ma. Aku mau ke rumah sakit sekarang buat lihat kondisinya Mas Awan, Ma," ijinku kepada Mama Wulan.
"Iya, Shofi. Kamu buruan ke rumah sakit sama Danu. Nanti langsung kabarin Mama kalau udah sampai disana, ya. Masalah Angkasa sama Keinan kamu tenang aja. Mereka berdua biar sama Mama dulu," balas Mama Wulan.
__ADS_1
"Iya, Ma. Makasih. Kakak, kakak di rumah dulu sama Oma sama dedek Angkasa, ya. Bunda mau ikut Kak Danu ke rumah sakit buat jengukin Papa. Ya sayang, ya," pamitku juga kepada Keinan yang masih menangis itu.
Keinan tidak kuasa untuk menjawab. Putraku itu masih terlihat sesenggukan. Keinan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku dan Danu berangkat sekarang ya, Ma. Assalamu'alaikum," pamitku yang kemudian mencium punggung tangan kanan Mama Wulan.
"Iya, Shofi. Wa'alaikumsalam. Kalian berdua juga hati-hati, ya," pesan Mama Wulan.
"Iya, Ma. Bunda berangkat dulu ya, Kak," pamitku kepada Keinan juga.
Keinan mencium punggung tangan kananku dan menganggukkan kepalanya kembali.
"Langsung kabarin kakak ya, Bun, gimana kondisi Papa. Hiks hiks," pinta Keinan dengan sisa-sisa tangisannya itu.
"Iya, Kak, pasti," jawabku seraya mengusap lembut kepala Keinan, mencoba menenangkan putraku itu.
"Ayo, Dan," kataku kepada Danu.
"Iya, Bu Bos, mari. Saya permisi dulu, nyonya Bos. Assalamu'alaikum," pamit Danu kepada Mama Wulan juga.
"Iya, Dan, wa'alaikumsalam. Hati-hati ya kalian berdua," pesan Mama Wulan.
"Pasti, nyonya Bos," balas Danu.
Aku menyempatkan untuk mencium kening baby Angkasa dan Keinan terlebih dahulu. Setelah itu aku dan Danu pun melangkah keluar, hendak menuju ke rumah sakit. Di dalam hatiku aku terus berdo'a, meminta kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, semoga kondisi Mas Awan baik-baik saja dan tidak terjadi hal yang serius kepada suamiku itu.
__ADS_1