Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
58. Kecurigaan


__ADS_3

Empat hari Mas Awan dirawat di rumah sakit. Setiap hari aku selalu datang untuk menjenguk Mas Awan. Tetapi sayangnya aku tidak pernah bisa untuk menginap di rumah sakit dan menemani Mas Awan setiap saat. Mau bagaimana lagi, ada Keinan dan Angkasa yang juga sangat membutuhkan diriku di rumah.


Belum lagi Angkasa yang memang masih menyusu padaku. Aku tidak mungkin meninggalkan bayiku itu terlalu lama. Beruntungnya aku dan Mas Awan karena memiliki keluarga dan juga banyak teman yang baik, yang selalu siap sedia untuk membantu kami kapan saja.


Selama dirawat di rumah sakit, Mas Awan ditemani secara bergantian oleh Mama Wulan, Papa Surya, ibuku, Hamzah, Bang Langit, dan juga anak-anak di kafe. Chef Yudha, Adit, Danu, dan Dedi. Mbak Maya sama seperti diriku, hanya bisa datang menjenguk saja.


Dan hari ini, syukur alhamdulillaah Mas Awan sudah diijinkan untuk pulang dari rumah sakit. Kondisi Mas Awan sudah sangat lebih baik saat ini. Aku, Papa Surya, dan Bang Langit yang menjemput Mas Awan pulang dari rumah sakit. Keinan masih sekolah, sementara Angkasa aku titipkan pada Mama Wulan untuk sementara waktu.


Sesampainya di rumah, kami berempat sudah ditunggu oleh Mama Wulan, ibuku, dan Kak Jani juga. Kami semua kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di sofa ruang keluarga saat ini.


"Syukur alhamdulillaah, akhirnya kamu sudah boleh pulang dari rumah sakit juga, Wan," kata ibuku.


"Iya, Bu, alhamdulillaah. Awan mau mengucapkan terima kasih banyak ya sama ibu, Hamzah, Papa, Mama, Bang Langit, Kak Jani, dan yang lainnya juga untuk semua bantuannya selama beberapa hari ini. Kalian semua sudah bergantian menunggui Awan selama di rumah sakit kemarin. Juga udah bantuin Shofi buat jagain Keinan dan Angkasa selama Awan dirawat di rumah sakit," ucap Mas Awan, berterima kasih kepada semuanya.


"Sama-sama, Wan. Kamu nggak perlu bilang terima kasih seperti itu. Itu udah jadi kewajiban kita sebagai satu keluarga. Iya kan, Bu?" balas Kak Jani dengan meminta pendapat kepada ibuku.


"Iya, benar sekali apa yang dikatakan oleh nak Jani itu. Kamu nggak perlu bilang terima kasih seperti itu, Wan. Kita semua kan satu keluarga," kata ibuku, membenarkan.


"Iya, Bu, Kak Jani. Tapi tetap saja, Awan mau mengucapkan terima kasih banyak kepada kalian semua, untuk semua bantuan kalian selama ini," kekeuh Mas Awan.


"Udah-udah. Nggak usah dibahas lagi masalah 'terima kasih' ini. Nggak ada habisnya nanti," kata Papa Surya menengahi.


Perkataan Papa Surya itu memang benar. Akhirnya masalah ucapan terima kasih itupun selesai sampai disitu. Kami kemudian kembali mengobrol untuk beberapa saat.


Tidak lama kemudian, Bang Langit dan Kak Jani pamit karena mau menjemput Bintang dan Inara pulang sekolah. Sekalian, Bang Langit dan Kak Jani juga mau mengantarkan ibuku pulang juga. Setelah itu aku dan Mas Awan juga disuruh untuk beristirahat di dalam kamar oleh Papa Surya dan Mama Wulan.


Di dalam kamar.


Aku baru saja selesai menyusui putraku, Angkasa. Setelah memastikan Angkasa sudah tertidur dengan lelap, aku pun kemudian menidurkan putraku itu ke dalam boks bayinya.

__ADS_1


Aku melihat ke arah tempat tidur. Mas Awan sedang duduk bersandar pada headboard tempat tidur seraya tersenyum memperhatikanku. Aku pun lalu membalas senyuman suamiku itu.


"Sini, sayang," panggil Mas Awan.


"Iya, Mas," balasku.


Aku berjalan menuju ke tempat tidur dan langsung naik ke atas tempat tidur. Aku lalu mendudukkan diriku di sebelah Mas Awan. Mas Awan langsung menarikku untuk bersandar padanya. Akupun kemudian memeluk suamiku itu dari samping.


Mas Awan merangkul pundakku kemudian mencium kepalaku penuh sayang.


"Mas Awan lagi mikirin apa sih? Kok dari tadi aku perhatiin kayak lagi bingung gitu," tanyaku kemudian seraya mengangkat wajahku menghadap ke arah suamiku itu.


Mas Awan tersenyum kemudian mencium keningku sesaat


"Kamu ini, udah ketularan peka-nya Mas ya sekarang," kata Mas Awan.


Mas Awan justru tertawa kecil kemudian kembali mencium keningku sekali lagi.


"Pinter banget sih, istrinya Mas ini," puji Mas Awan.


"Harus-lah. Istrinya Mas Awan gitu loh. Jadi, coba cerita ke aku, Mas sebenarnya lagi mikirin apa kok sampai kelihatan bingung kayak gitu?" tanyaku sekali lagi.


"Tapi kamu janji ya, sayang, setelah nanti Mas ceritain masalah ini ke kamu, kamu nggak boleh terlalu memikirkannya dengan berlebihan. Oke, sayang?" tanya balik Mas Awan.


"Hmh, kok sampai segitunya. Jadi makin penasaran kan aku-nya," balasku yang sudah bangun dari pelukan Mas Awan dan menegakkan tubuhku, menghadap ke arah Mas Awan.


"Udah, janji dulu. Mau diceritain nggak nih?" tuntut Mas Awan.


"Iya deh, iya. Aku janji. Jadi, ada apa sebenarnya, Mas?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Jadi gini, sayang. Kemarin itu Papa sama Bang Langit kan ikut mencari pengemudi mobil yang sudah menyerempet Mas waktu itu. Tetapi sayangnya plat nomor mobil yang berhasil didapatkan oleh polisi dari rekaman CCTV di jalan kemarin itu ternyata adalah plat nomor palsu. Jadi pihak kepolisian masih belum bisa menemukan siapa pelaku di balik kecelakaan yang dialami oleh Mas kemarin itu," jawab Mas Awan, memulai ceritanya.


"Loh, kan udah dilaporin ke pihak yang berwajib, Mas, kenapa Papa sama Bang Langit harus ikut turun tangan juga?" tanyaku.


"Iya, sayang. Tapi katanya Papa sama Bang Langit mau ikut dalam pencarian pelaku tersebut secara langsung. Dan kebetulan kan Kepala polisinya itu teman Bang Langit sewaktu di SMA dulu. Jadi Papa dan Bang Langit juga bisa dengan mudah ikut dalam proses pencarian pengendara mobil yang sudah menyerempet Mas kemarin itu," jawab Mas Awan.


"Terus, selanjutnya gimana, Mas?" tanyaku lagi.


"Pihak kepolisian menilai kalau semuanya itu seperti sudah dipersiapkan dengan sangat matang, sayang. Itu kenapa akhirnya pihak kepolisian juga Papa dan Bang Langit mencurigai kalau kecelakaan yang dialami oleh Mas kemarin itu sepertinya adalah sesuatu yang memang disengaja dan sudah direncanakan sebelumnya oleh seseorang, sayang," jawab Mas Awan dengan hati-hati, tidak ingin membuatku merasa terkejut.


"Astaghfirullah hal adziim. Sudah direncanakan sebelumnya oleh seseorang? Siapa, Mas? Siapa orang yang sudah begitu tega merencanakan untuk mencelakai Mas Awan seperti itu?" tanyaku yang langsung merasa tersulut emosiku.


"Sabar, sayang. Kamu jangan kebawa emosi kayak gini dong. Hmh, ini nih alasannya kenapa Mas tadi minta kamu untuk janji dulu sama Mas kalau kamu nggak akan kepikiran berlebihan. Itu juga kenapa Papa dan Bang Langit nggak menceritakan hal itu langsung sama kamu. Papa dan Bang Langit nggak ingin kalau sampai kamu jadi kepikiran karena masalah itu. Dan lihat aja, ternyata bener kan kekhawatiran Papa sama Bang Langit. Reaksi kamu aja langsung seperti ini," kata Mas Awan panjang lebar.


"Maaf, Mas," sesalku dengan mengerucutkan bibirku.


Mas Awan tersenyum kemudian mencium bibirku sekilas.


"Iya, sayang, nggak pa-pa. Mas paham banget kok apa yang kamu rasakan sekarang ini. Kamu pasti sangat mengkhawatirkan Mas, itu kenapa kamu sampai seperti ini. Iya, kan?" tanya Mas Awan.


"Iya, Mas. Aku khawatir banget sama Mas Awan. Apalagi setelah tau kalau ada seseorang yang sudah dengan sengaja berniat untuk mencelakai Mas seperti ini. Aku jadi takut, Mas," jawabku dengan kedua mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Mas Awan tersenyum lembut kemudian menarikku untuk masuk ke dalam pelukannya. Mas Awan mencium kepalaku penuh sayang.


"Sayang, kamu jangan khawatir, ya. Seperti janji kamu tadi, kamu nggak boleh memikirkan tentang masalah ini secara berlebihan. Pihak kepolisian sudah menangani semuanya. Dan juga, kita kan punya Allah Subhanahu wa ta'ala. Do'akan saja supaya Mas selalu baik-baik saja dan rencana jahat orang itu tidak pernah berhasil. Ya sayang, ya," kata Mas Awan mencoba menenangkanku.


"Iya, Mas. Aku pasti selalu mendo'akan Mas Awan kok," balasku.


Aku memeluk suamiku itu semakin erat. Mas Awan juga kembali mencium kepalaku dengan penuh sayang.

__ADS_1


__ADS_2