
"Bos, siang ini gue ijin buat nganterin makan siang buat keluarga Abah Imron ke rumah sakit, ya. Sekalian mau jemput Nisa. Katanya dia mau main kesini. Pengen tau kafenya Bos sama tempat kerja gue juga gitu," ijin Chef Yudha ketika bertemu dengan Awan pagi ini.
"Oh, oke, Yud. Nggak masalah kok," balas Awan, mengijinkan.
"Makasih, Bos," kata Chef Yudha dengan tersenyum senang.
"Sama-sama. Hmm, kayaknya ada yang udah official nih," balas Awan seraya menggoda Chef Yudha.
"Hehe, Bos tau aja sih. Alhamdulillaah udah, Bos," ucap Chef Yudha dengan menyengir.
"Wah,,, alhamdulillaah. Selamat ya, Yud. Akhirnya punya cewek juga Lo. Syukurlah, jadi berkurang satu deh jomblo di kafe gue, hahahahaha," kata Awan mengucapkan selamat tetapi juga dengan tetap menggoda Chef Yudha.
"Ah, asem Lo, Bos. Kalau ngasih selamat yang ikhlas napa? Masih pakai acara ngeledek pula. Hadeh," gerutu Chef Yudha.
Tawa Awan justru semakin pecah begitu mendengar gerutuan dari Chef Yudha tersebut.
"Iya deh. Sorry-sorry. Bukan maksud gue buat ngeledek Lo kok. Tapi inget baik-baik ya, Yud, awas aja kalau Lo sampai macem-macem atau cuma mainin perasaan Nisa aja. Lo bakalan berhadapan langsung sama gue, Yud. Nisa udah gue anggap sebagai adek gue sendiri," peringat Awan serius setelah tawanya mereda.
"Iya, Bos. Tenang aja. Gue janji sama Bos Awan kalau gue nggak akan main-main sama perasaan Nisa. Gue serius suka sama Nisa, Bos. Dan gue juga akan berusaha dengan sekuat tenaga gue untuk bisa segera menghalalkan Nisa, membawa hubungan kami ini ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Do'ain gue ya, Bos. Semoga gue segera bisa mewujudkan keinginan gue itu, aamiin," balas Chef Yudha tak kalah serius juga.
"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin. Syukurlah kalau Lo emang benar-benar serius sama Nisa, Yud. Dan tenang aja, gue pasti selalu do'ain yang terbaik untuk hubungan kalian berdua kedepannya nanti," kata Awan merasa tenang.
"Makasih banyak ya, Bos," ucap Chef Yudha dengan tersenyum.
"Sama-sama, Yud," balas Awan yang juga ikut tersenyum, seraya menepuk pundak Chef Yudha beberapa kali.
🍁🍁🍁
Siang harinya, sesuai kesepakatan mereka kemarin, Chef Yudha pun kemudian menjemput Nisa ke rumah sakit, sekalian mengantarkan makan siang untuk Abah Imron, Umi Nur, dan Rijal.
Chef Yudha juga meminta ijin secara langsung kepada Abah Imron, Umi Nur, dan juga Rijal untuk mengajak Nisa datang berkunjung ke kafe milik Awan. Dan tentu saja Abah Imron dan yang lainnya pun mengijinkan. Tapi tentu saja mereka bertiga juga memberikan beberapa pesan dan nasehat sebelum akhirnya Chef Yudha membawa Nisa pergi.
Chef Yudha membonceng Nisa menggunakan sepeda motor miliknya menuju ke kafe Awan. Sesampainya di kafe, Chef Yudha pun kemudian langsung mengajak Nisa untuk masuk ke dalam kafe.
"Assalamu'alaikum," salam Chef Yudha dan Nisa begitu memasuki kafe Awan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Adit yang berdiri tidak jauh dari pintu.
"Wuih, si Chef udah berani bawa cewek nih. Cieee, ada yang udah nggak jomblo lagi nih kayaknya," goda Adit begitu melihat Chef Yudha datang bersama dengan Nisa.
__ADS_1
Wajah Nisa seketika langsung memerah mendengar perkataan Adit itu. Sementara Chef Yudha langsung memukul lengan Adit, dengan tidak terlalu keras tentu saja.
"Jangan usil. Ini tamu penting Bos Awan juga, bukan cuma tamu gue," tegur Chef Yudha garang.
"Dih, nyolot. Iya-iya, maaf," kata Adit dengan mengerucutkan bibirnya.
"Udah, Neng, jangan dengerin omongan Adit. Yuk, Akang bawa kamu ketemu sama Bos Awan," ajak Chef Yudha kemudian kepada Nisa.
"I-iya, Kang," balas Nisa.
Chef Yudha dan Nisa kemudian berjalan meninggalkan Adit yang masih memberengut itu. Tidak lama kemudian, kebetulan Awan juga keluar dari dalam ruangannya.
"Eh, Eneng. Udah sampai kamu, Neng?" tanya Awan seraya berjalan menghampiri Nisa dan Chef Yudha.
"Kang Awan. Iya, Kang, udah. Eneng baru saja sampai kok, Kang," jawab Nisa.
"Ayo sini, Akang kenalin sama karyawan Akang yang lainnya disini," ajak Awan setelah sampai di hadapan Nisa dan Chef Yudha.
"Iya, Kang," balas Nisa.
Awan kemudian mengajak Nisa untuk berjalan ke arah meja kasir Mbak Maya. Chef Yudha pun mengikuti di belakangnya.
"Bos, gue loh yang ngajak Neng Nisa kesini. Tapi kenapa jadi gue yang dilupain gini sih?" keluh Chef Yudha dengan nada protes.
"Udah, Neng, jangan dengerin omongan si Yudha. Anggap aja dia nggak ada," ucap Awan, sengaja bernada sarkastik.
"Dih, Bos mah tega. Habis manis sepah dibuang," gerutu Chef Yudha.
"Nah, itu tau," ucap Awan yang justru membenarkan.
"Ck, si Bos nggak asik ah," rajuk Chef Yudha lagi.
Awan justru tertawa kecil mendengar semua kalimat protes dari Chef Yudha yang disengaja itu. Sementara Nisa ikut mengulum senyum tipis melihat kedekatan hubungan antara Awan dengan Chef Yudha tersebut.
"Adit, Danu, Dedi, sini dulu," panggil Awan kepada Adit, Danu, dan Dedi begitu sampai di dekat meja kasir Mbak Maya.
"Ya, Bos," balas Adit, Danu, dan Dedi bersamaan.
Ketiganya kemudian berjalan menghampiri sang Bos di dekat meja kasir Mbak Maya tersebut.
__ADS_1
"Semuanya, kenalin ini Nisa. Dia dan keluarganya yang udah nolongin gue pas kecelakaan dulu dan juga mengijinkan gue untuk tinggal bersama dengan mereka selama ingatan gue belum kembali kemarin itu," kata Awan begitu semua karyawannya sudah berkumpul.
"Nisa, kenalin ini karyawan Akang disini selain Yudha. Mbak Maya, Adit, Danu, dan Dedi," lanjut Awan memperkenalkan Nisa juga kepada karyawannya yang lain tersebut.
"Assalamu'alaikum semuanya. Perkenalkan nama saya Nisa," salam Nisa sopan, memperkenalkan dirinya sendiri.
"Wa'alaikumsalam, Nisa," jawab semuanya.
"Selamat datang disini, Nisa. Dan terima kasih banyak karena kamu dan keluarga kamu sudah menolong Bos Awan selama ini. Oh iya, panggil aja aku Mbak Maya, ya," kata Mbak Maya dengan menyalami tangan kanan Nisa.
"Iya, Mbak Maya. Sama-sama kok, Mbak. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong," balas Nisa.
Adit, Danu, dan Dedi juga kemudian satu per satu menyalami Nisa dengan memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Nisa udah gue anggap seperti adik gue sendiri. Jadi kalau ada apa-apa, tolong kalian bantuin dia, ya," pinta Awan kemudian.
"Pasti dong, Bos," balas Danu.
"Pokoknya Bos tenang aja, kita semua selalu siap buat bantuin Nisa kok," imbuh Adit juga.
"Nggak usah macem-macem kalian bertiga, Nisa udah 'punya'-nya si Yudha. Udah nggak ada harapan lagi buat kalian bertiga," kata Awan memperingatkan kepada Adit, Danu, dan Dedi.
"Yah," kecewa Adit, Danu, dan Dedi langsung tidak bersemangat.
"Eh," ucap Mbak Maya juga, terkejut.
"Kang Awan," rajuk Nisa merasa malu.
"Uuhhh, Bos Awan memang terbaik deh pokoknya. Makasih Bos udah berlaku adil buat gue," kata Chef Yudha jumawa, merasa mendapat dukungan penuh dari sang Bos.
"Lo juga, awas aja kalau Lo sampai nyakitin hati Nisa. Gue yang pertama kali langsung kasih Lo pelajaran dengan tangan gue sendiri," peringat keras Awan kepada Chef Yudha.
"Siap, Bos. Gue berani bersumpah kalau gue nggak akan pernah nyakitin hati Neng Nisa," balas Chef Yudha mantap.
Nisa menundukkan kepalanya. Di satu sisi dia merasa semakin malu, tetapi di sisi lain dia juga sangat tersentuh dengan perkataan dari Chef Yudha yang penuh dengan keyakinan itu tadi.
"Ah, akhirnya. Berkurang juga satu jomblo di tempat kita ya, Bos," goda Mbak Maya.
"Iya, Mbak. Dan semoga tiga jomblo yang lainnya juga bisa segera mendapatkan jodoh mereka masing-masing. Aamiin," balas Awan diakhiri dengan do'a.
__ADS_1
"Aamiin," ucap Mbak Maya, Chef Yudha, Adit, Danu, dan Dedi bersamaan, meng-amin-kan do'a sang Bos tersebut.
Dan setelah itu, Awan dan kelima karyawannya justru tertawa bersama-sama. Nisa pun lagi-lagi ikut tersenyum lembut, melihat keakraban dan kehangatan yang terlihat dari hubungan Awan bersama dengan para karyawannya tersebut.