
Siang ini Kang Yudha jadi menjemput aku dan mengajakku untuk datang ke kafe Kang Awan. Dan aku sangat bersyukur karena ternyata teman-teman Kang Yudha, karyawan Kang Awan yang lainnya di kafe tersebut, mereka semua menyambut kedatanganku dengan sangat baik. Mbak Maya, Kang Adit, Kang Danu, dan Kang Dedi, mereka semua adalah orang yang baik dan ramah.
Melihat kebersamaan di antara Kang Awan, Kang Yudha, dan yang lainnya itu, aku merasa sangat tersentuh. Mereka sudah menganggap satu sama lain seperti keluarga sendiri.Tetapi disana mereka juga selalu menggoda aku dan Kang Yudha yang baru saja resmi menjalin hubungan ini. Bahkan Kang Awan juga selalu ikut menggoda kami berdua juga. Aku jadi merasa malu sendiri.
Lalu setelah Keinan pulang sekolah, Kang Awan dan Keinan mengajakku untuk datang berkunjung ke rumah mereka. Tentu saja aku langsung mau. Karena jujur saja aku juga sudah kangen dengan Teh Shofi dan dedek Angkasa juga.
Sesampainya di rumah Kang Awan, aku juga disambut dengan baik oleh Teh Shofi dan Tante Wulan. Aku kemudian diajak untuk makan siang bersama dengan mereka. Aku tentu saja merasa sangat canggung pada awalnya. Tetapi karena keramahan dan sambutan yang hangat dari seluruh keluarga Kang Awan itu, akhirnya aku pun bisa merasa nyaman dan tidak merasa canggung lagi.
Setelah selesai makan siang bersama, Tante Wulan kemudian pamit kepada kami untuk beristirahat dulu di kamarnya. Sementara aku, Kang Awan, Teh Shofi, dan Keinan, kami berkumpul di ruang keluarga. Menemani Keinan bermain, sekaligus menunggui dedek Angkasa yang masih setia terlelap dalam tidurnya itu.
"Bunda, masih ada puding buah enggak?" tanya Keinan tiba-tiba.
"Mmm, kayaknya di kulkas masih ada kok, Kak. Kakak mau?" jawab Teh Shofi yang kemudian balik menawari Keinan.
"Mau-mau, Bun. Tolong ambilin ya, Bun. Sekalian buat kakak cantik juga. Biar kakak cantik bisa ngerasain enaknya puding buah buatan Bunda," pinta Keinan bersemangat.
Aku mengulum senyum kecil melihat tingkah laku Keinan yang menggemaskan itu.
"Iya deh, sayang. Bunda ambilin dulu, ya," ucap Teh Shofi yang kemudian berdiri dari duduknya itu.
"Mau Eneng temenin, Teh?" tanyaku menawarkan untuk menemani Teh Shofi.
"Nggak usah, Neng. Cuma ambil puding buah aja kok. Eneng tunggu disini aja dulu sama Keinan, ya," tolak halus Teh Shofi dengan tersenyum.
"Iya, Teh. Ya udah kalau gitu," balasku kemudian, mengiyakan.
"Aku ke dapur bentar ya, Mas," pamit Teh Shofi kepada Kang Awan.
"Iya, sayang," balas Kang Awan dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Lagi-lagi aku mengulum senyum kecil melihat kemesraan hubungan antara Kang Awan dengan Teh Shofi tersebut. Teh Shofi kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Aku pun kemudian kembali menemani Keinan bermain di karpet yang digelar di depan televisi itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian,
"Kak, Papa ke dapur bentar, ya. Mau ambil air dingin," pamit Kang Awan kepada Keinan.
"Iya, Pa," balas Keinan.
"Neng, Akang titip Keinan sama Angkasa sebentar, ya," pamit Kang Awan kepadaku juga.
"Iya, Kang," balasku.
Kang Awan kemudian bangun dari duduknya dan langsung berjalan menuju ke arah dapur, seperti Teh Shofi tadi.
Tetapi kemudian, tidak lama setelah Kang Awan pergi, tiba-tiba ponsel Kang Awan yang tergeletak di atas meja sofa itu berbunyi. Sepertinya ada panggilan telepon yang masuk.
"Keinan, ponsel Papa kamu bunyi terus itu. Coba kamu panggilin Papa kamu dulu," kataku kepada Keinan.
"Lagi nanggung, kakak cantik, bentar lagi pesawat legoku jadi ini. Nanti jadi lupa susunannya kalau aku tinggal," jawab Keinan dengan menoleh sekilas ke arahku.
"Tolong kakak cantik aja deh, ya, yang manggilin Papa ke dapur," jawab Keinan meminta tolong kepadaku.
"Hmm, ya udah deh. Kakak yang panggilin Papa kamu ke dapur," kataku kemudian.
Aku lalu berdiri dan berjalan menuju ke arah dapur juga, bermaksud untuk memanggil Kang Awan dan memberitahu dia kalau ponselnya berbunyi.
Tetapi belum juga sampai di dapur, aku sudah bisa melihat Kang Awan yang sedang memeluk Teh Shofi dari belakang saat ini. Aku sedikit terkejut. Kemudian secara refleks aku justru langsung menyembunyikan diriku di balik dinding yang menuju ke arah dapur itu. Tidak ingin kalau sampai Kang Awan dan Teh Shofi mengetahui kedatanganku saat ini.
Setelah itu, entah kenapa, aku justru kemudian kembali mengintip ke arah Kang Awan dan Teh Shofi yang sedang berpelukan itu. Secara tidak sadar aku pun lalu memperhatikan interaksi mereka berdua dari balik dinding tempatku bersembunyi saat ini.
"Emang nggak boleh apa? Suka-suka Mas dong. Kangenin istri sendiri ini, kok," kata Kang Awan yang masih bisa aku dengar dari tempatku bersembunyi saat ini.
Bisa aku lihat Kang Awan yang menguselkan wajahnya di ceruk leher Teh Shofi dengan manja itu.
__ADS_1
"Mas Awan iiihhh, geli tau," protes Teh Shofi.
"Biarin. Mas suka," balas Kang Awan terdengar cuek.
"Maaasss... Lepasin ah. Nanti ada yang lihat gimana? Ini di dapur loh, Mas. Mana siang hari gini pula," tegur Teh Shofi kemudian.
Sepertinya Teh Shofi khawatir kalau nanti sampai ada yang melihat mereka berdua sedang berpelukan seperti itu. Dan memang kenyataannya saat ini aku juga sedang melihat mereka berdua yang sedang berpelukan mesra itu.
"Biarin aja kenapa sih, sayang? Kamu kan istrinya Mas. Jadi ya sah-sah aja dong Mas peluk kamu kayak gini," bantah Kang Awan terdengar ngeyel.
"Ya tapi kan nggak enak, Mas, kalau sampai dilihatin sama Bik Sani atau yang lainnya," rajuk Teh Shofi lagi.
"Biarin. Udah ah, diem. Pokoknya Mas lagi pengen mengobati rasa kangen Mas sama istri Mas yang cantik ini," balas Kang Awan dengan nada tegasnya.
Dari tempatku bersembunyi saat ini, bisa aku lihat dengan jelas Kang Awan yang kembali menguselkan wajahnya di ceruk leher Teh Shofi itu. Bisa aku dengar juga Teh Shofi yang tertawa kecil. Mungkin karena merasa kegelian dengan tingkah Kang Awan itu.
Tanpa aku sadari, senyuman itu justru langsung tersungging di bibirku, melihat kemesraan hubungan antara Kang Awan dengan Teh Shofi tersebut. Dan jujur saja, apa yang aku rasakan saat ini sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan ketika aku melihat kemesraan Kang Awan dengan Teh Shofi sewaktu di rumah sakit setelah kelahiran dedek Angkasa beberapa waktu yang lalu itu.
Dulu, sewaktu melihat kemesraan antara Kang Awan dengan Teh Shofi sewaktu di rumah sakit itu, jujur saja saat itu aku merasa sedikit cemburu dan merasa tidak rela. Tetapi saat ini, ketika aku kembali melihat kemesraan antara Kang Awan dengan Teh Shofi itu, aku justru ikut merasa bahagia untuk mereka berdua.
Aku tersenyum sendiri. Sepertinya semenjak aku memutuskan untuk menjalani hubungan bersama dengan Kang Yudha, aku jadi mulai bisa mengikhlaskan dan melupakan perasaan suka yang pernah aku punya untuk Kang Awan dulu itu. Ya, sepertinya sekarang rasa sukaku untuk Kang Awan itu sudah benar-benar bisa aku lupakan.
Aku mengucap syukur dalam hatiku. Kehadiran Kang Yudha dalam hidupku sudah membawa banyak perubahan yang baik untuk diriku saat ini. Meskipun kami masih belum terlalu lama saling mengenal, tapi jujur saja aku sudah merasa sangat nyaman bersama dengan Kang Yudha.
Tidak ingin mengganggu Kang Awan yang sedang bermesraan dengan Teh Shofi saat ini, aku pun kemudian melangkah meninggalkan tempat persembunyianku saat ini dan berjalan kembali menuju ke ruang keluarga, menghampiri Keinan kembali.
"Loh, kok kakak cantik sendirian? Papa mana?" tanya Keinan ketika melihat aku datang sendiri saja.
"Papa kamu masih sibuk sama Bunda. Nanti kalau udah selesai juga mereka berdua pasti balik kesini kok. Biar nanti Papa kamu telepon balik aja, nggak pa-pa," jawabku seraya tersenyum.
Keinan nampak ber-oh ria seraya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Setelah itu Keinan kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya menyusun lego-lego miliknya tersebut. Aku pun kemudian kembali mendudukkan diriku di sebelah Keinan, menemani Keinan yang sedang asyik bermain itu.
__ADS_1