Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
57. Mas Awan Dirawat


__ADS_3

Begitu sampai di rumah sakit, aku dan Danu langsung menuju ke bagian IGD rumah sakit tersebut. Dan ternyata Papa Surya sama Bang Langit juga sudah sampai disana saat ini. Aku dan Danu langsung menghampiri Papa Surya, Bang Langit, Chef Yudha, dan Adit yang sedang menunggu di depan ruangan IGD tersebut.


"Assalamu'alaikum," salamku dan Danu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Papa Surya, Bang Langit, Chef Yudha, dan Adit bersamaan.


Aku mencium punggung tangan kanan Papa Surya dan Bang Langit.


"Gimana keadaan Mas Awan, Pa?" tanyaku kepada Papa Surya.


"Dokternya masih belum keluar, Shof. Kita tunggu dulu sama-sama, ya," jawab Papa Surya.


Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban. Aku kemudian beralih kepada Chef Yudha dan Adit.


"Sebenarnya gimana ceritanya sih, Chef, Dit? Dan bagaimana keadaan Mas Awan pas kalian bawa kesini tadi?" tanyaku kepada Chef Yudha dan Adit.


Rasanya aku sudah tidak bisa menunggu lagi untuk bisa mengetahui bagaimana keadaan Mas Awan dan apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Mas Awan.


"Tadi pas Bos Awan mau jemput Keinan ke sekolahnya, pas lagi nyebrang jalan, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju kencang banget, Bu Bos. Terus Bos Awan katanya sempat menghindar gitu, makanya Bos Awan cuma keserempet aja akhirnya," jawab Chef Yudha menjelaskan sesuai dengan yang dia ketahui.


"Astaghfirullah hal adziim," lirihku dengan menutup mulutku menggunakan telapak tanganku sendiri.


"Terus pas kita bawa kesini tadi, Bos Awan masih dalam keadaan sadar juga kok, Bu Bos. Memang ada beberapa luka pada tubuh Bos Awan, tetapi Bos Awan juga masih sanggup untuk bangun dan berjalan, meskipun harus kita papah. Jadi kayaknya sih luka Bos Awan nggak begitu parah banget. Tapi nggak tau juga gimana hasil pemeriksaan dokter nanti. Kita tunggu dulu aja hasil dari pemeriksaan dokter nanti gimana, Bu Bos," lanjut Chef Yudha lagi.


"Kamu tenang aja, Shofi. Kita berdo'a sama-sama, ya. Semoga Awan baik-baik saja," kata Papa Surya mencoba menenangkanku.


"Iya, Pa," balasku, lemah.


Tidak lama kemudian pintu ruangan IGD itupun terbuka. Seorang dokter nampak keluar dari dalam ruangan IGD tersebut.


"Keluarga bapak Awan?" tanya dokter tersebut.


"Kami, Dok," jawabku, Papa, Surya, dan Bang Langit bersamaan.

__ADS_1


Kami semua lalu menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanyaku memburu.


"Berdasarkan hasil rontgen ( rongsen ) dan pemeriksaan menyeluruh, kondisi bapak Awan tidak terlalu parah. Hanya terkilir di bagian bahu sebelah kiri, juga beberapa luka lecet dan memar di tangan dan kaki. Tapi untungnya ketika jatuh posisi kepala bapak Awan tidak terbentur, sehingga tidak terjadi masalah yang serius," jawab dokter tersebut menjelaskan.


"Syukurlah," ucapku dan yang lainnya merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar semua penjelasan dari dokter tersebut.


"Tetapi bapak Awan harus tetap menjalani rawat inap dulu untuk sementara waktu ini. Setidaknya untuk perawatan luka-luka di tubuh bapak Awan itu, agar segera membaik," kata dokter itu lagi.


"Iya, Dok, nggak pa-pa," balas Papa Surya.


"Boleh kami masuk untuk menemui pasien, Dok?" tanya Bang Langit.


"Boleh, tetapi bergantian saja, ya. Maksimal dua orang setiap kali masuk. Pasien masih butuh istirahat," jawab dokter tersebut sekaligus berpesan.


"Baik, Dok. Terima kasih banyak," ucap Bang Langit.


"Saya permisi dulu kalau begitu," pamit dokter tersebut kemudian.


Dokter tersebut lalu masuk kembali ke dalam ruangan IGD.


"Shofi, kamu dan Papa aja yang masuk duluan. Kami nunggu di luar dulu," kata Bang Langit.


"Iya, Bang," balasku.


"Ayo, Shofi," ajak Papa Surya.


Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban. Aku dan Papa Surya kemudian masuk ke dalam ruangan IGD rumah sakit tersebut. Kami pun kemudian mencari brankar tempat Mas Awan dirawat.


"Mas Awan," panggilku begitu sampai di brankar tempat Mas Awan dirawat saat ini.


"Sayang," balas Mas Awan.

__ADS_1


"Yaa Allah, Mas," lirihku ketika melihat kondisi suamiku itu.


Air mataku langsung mengalir begitu saja. Hatiku rasanya hancur melihat luka di beberapa bagian tubuh Mas Awan itu. Aku berdiri di samping kiri Mas Awan saat ini. Kuraih tangan kiri suamiku itu kemudian aku cium penuh sayang.


"Sssttt, jangan nangis, sayang. Mas nggak pa-pa kok," kata Mas Awan mencoba menenangkanku dengan mengusap lembut kepalaku.


Tapi tetap saja aku menangis sesenggukan meski tidak dengan suara yang keras.


"Gimana keadaan kamu, Wan?" tanya Papa Surya.


"Awan nggak pa-pa kok, Pa. Nggak ada luka yang serius juga kok. Cuma yang terkilir ini aja yang agak parah. Soalnya kan tadi aku jadiin tumpuan pas jatuh tadi. Sengaja, biar kepalaku nggak terbentur ke aspal jalan," jawab Mas Awan.


"Kenapa bisa jadi seperti ini sih, Mas?" tanyaku juga setelah tangisanku sedikit mereda.


"Ya, namanya juga cobaan, sayang. Nggak pa-pa kok, yang penting kan kondisi Mas sekarang juga udah lumayan baik. Nggak ada luka yang serius juga," jawab Mas Awan dengan tersenyum.


Aku sangat tau kalau saat ini suamiku itu pasti tidak ingin membuat aku merasa lebih khawatir lagi. Senyumannya itu adalah untuk mencoba menenangkanku dari rasa kekhawatiranku saat ini.


"Kalau kamu kesini, Keinan sama Angkasa gimana, sayang?" tanya Mas Awan mengalihkan pembicaraan, aku tau itu.


"Sama Mama di rumah, Mas," jawabku.


"Mas beneran nggak pa-pa kok, sayang. Lebih baik kamu pulang saja dulu. Ya? Kasihan Keinan sama Angkasa," kata Mas Awan, membujukku.


Aku tau semua yang dikatakan oleh Mas Awan itu benar. Tapi rasanya aku juga tidak mau meninggalkan suamiku itu saat ini. Apalagi dalam kondisi Mas Awan yang seperti ini.


"Hmh, iya deh, Mas. Nanti aku pulang kalau Mas Awan udah dipindahin ke kamar rawat inap. Oke?" tawarku pada akhirnya.


"Ya sudah. Tapi kamu tetap harus pulang. Ya? Kasihan Keinan sama Angkasa. Apalagi kan Angkasa juga masih minum ASI dari kamu. Jangan khawatir soal Mas. Ada banyak orang nanti yang bisa bergantian nemenin Mas disini. Papa, Mama, Bang Langit, Hamzah, dan anak-anak di kafe juga. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Ya sayang, ya?" kata Mas Awan meyakinkanku.


"Iya, Mas," balasku mengiyakan.


Aku dan Mas Awan sama-sama tersenyum. Di dalam hati aku bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala karena luka yang dialami oleh Mas Awan tidak terlalu serius dan parah.

__ADS_1


Dan akhirnya, seperti kata Mas Awan tadi, setelah Mas Awan dipindahkan ke kamar rawat inap, aku pun kemudian pulang ke rumah bersama dengan Papa Surya dan Bang Langit.


Untuk sementara Mas Awan ditemani oleh Chef Yudha dan Adit terlebih dahulu, sembari menunggu kedatangan Mama Wulan nanti. Danu juga kembali ke kafe untuk membantu Mbak Maya dan Dedi menutup kafe lebih awal.


__ADS_2