
📞: Assalamu'alaikum, Neng. Tumben nih Neng Nisa telepon Akang duluan. Ada apa, Neng?
📞: Wa'alaikumsalam, Kang Yudha. Mmh, Eneng cuma mau ngabarin kalau tadi kata dokter keadaan Abah sudah sangat baik. Jadi, kemungkinan besar lusa Abah udah boleh keluar dari rumah sakit, Kang.
📞: Hah? Oh, emh, syukurlah kalau keadaan Abah sudah sangat baik, Neng. Alhamdulillaah. Akang ikut seneng dengernya.
📞: Iya, Kang, alhamdulillaah.
📞: Mmh, jadi lusa kalau Abah keluar dari rumah sakit, Eneng dan seluruh keluarga juga langsung akan kembali ke kampung halaman, ya? ( nada suara tidak bersemangat )
📞: Eneng juga belum tau, Kang. Tapi sepertinya begitu. ( nada suara ikut tidak bersemangat juga )
Hening. Baik Chef Yudha maupun Nisa sama-sama tidak bersuara. Keduanya sedang merasa dilema dengan perasaan masing-masing saat ini karena mereka terancam akan berpisah jarak.
Sampai akhirnya, Chef Yudha yang lebih dulu bersuara.
📞: Ehem. Ya udah, Neng. Udah malem, Neng Nisa istirahat aja dulu, ya. Nggak usah mikirin masalah ini terlalu berlebihan. Besok pagi sebelum berangkat ke kafe insya Allah Akang akan datang ke rumah sakit. Tapi satu yang harus Eneng tau, Akang beneran sayang banget sama Neng Nisa. Eneng percaya kan sama Akang?
📞: Iya, Kang, Eneng percaya kok. Ya udah deh, Eneng tunggu besok ya, Kang. Kang Yudha juga istirahat, ya. Jangan begadang.
📞: Iya, Neng. Akang janji nggak akan begadang kok.
📞: Ya udah, kalau gitu Eneng tutup dulu ya, Kang. Assalamu'alaikum.
📞: Iya, Neng. Wa'alaikumsalam.
Tut.
Panggilan telepon pun berakhir.
Chef Yudha menyimpan kembali ponselnya. Setelah itu dia pun kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terdapat di dalam kamarnya tersebut.
Pikiran Chef Yudha menerawang jauh. Baru saja dirinya akhirnya menemukan seorang gadis yang mampu mengisi kekosongan di dalam hatinya. Sosok Nisa yang hadir dalam kehidupannya saat ini, mampu mendatangkan rasa nyaman dan rasa bahagia yang selama ini belum pernah Chef Yudha rasakan sebelumnya.
Tetapi tiba-tiba muncul ancaman bahwa dirinya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan sang pujaan hati. Chef Yudha menghembuskan nafasnya gusar. Kisah cerita cinta antara dirinya dengan Nisa yang masih seumur jagung ini sepertinya sedang diuji saat ini.
🍁🍁🍁
Pagi Harinya.
Seperti janjinya semalam, pagi ini sebelum berangkat ke kafe Chef Yudha menyempatkan diri untuk datang berkunjung ke rumah sakit. Sekalian membawakan makanan untuk Abah Imron, Umi Nur, dan Nisa, seperti biasanya.
__ADS_1
Setelah berbasa-basi dan mengobrol sebentar, Chef Yudha pun kemudian pamit kepada Abah Imron dan Umi Nur untuk pergi berangkat kerja. Dan seperti biasa juga, Nisa pun kemudian mengantarkan Chef Yudha sampai ke depan rumah sakit.
Lagi dan lagi, Chef Yudha dan Nisa memanfaatkan kesempatan itu untuk duduk berbincang di taman kecil yang ada di rumah sakit tersebut.
"Jadi besok udah positif pulang ya, Neng?" tanya Chef Yudha memulai obrolan mereka kali ini.
"Iya, Kang. Dokter bilang hari ini pemeriksaan terakhir. Dan kalau nanti hasil pemeriksaannya masih bertahan bagus seperti hari-hari kemarin, insya Allah besok Abah udah boleh keluar dari rumah sakit, Kang," jawab Nisa terdengar tidak bersemangat.
Chef Yudha mengela nafas. Dirinya juga sama dilemanya dengan Nisa saat ini.
"Neng, kalau misalnya Akang berniat untuk melamar Eneng, apakah Eneng bersedia?" tanya Chef Yudha tiba-tiba.
Nisa tersentak kaget. Dirinya sangat terkejut dan tidak menyangka sama sekali dengan pertanyaan yang tiba-tiba disampaikan oleh Chef Yudha tadi.
Sementara Chef Yudha sendiri sebenarnya juga hanya bermodalkan nekat dulu saja. Setidaknya Chef Yudha ingin tau terlebih dahulu bagaimana pendapat dari Nisa mengenai masalah lamaran ini. Sebelum akhirnya nanti Chef Yudha mengambil keputusan dan juga mengambil tindakan selanjutnya yang harus dia lakukan.
Chef Yudha memang sudah sempat membicarakan tentang masalah hubungan antara dirinya dengan Nisa ini kepada sang ibu. Tetapi kalau untuk masalah lamaran, apalagi masalah pernikahan, Chef Yudha sama sekali belum pernah membicarakannya dengan sang ibu.
"Gimana, Neng? Apakah Eneng bersedia dan sudah siap seandainya Akang berniat untuk melamar Neng Nisa?" tanya Chef Yudha sekali lagi.
Nisa menundukkan kepalanya seraya meremasi jemari tangannya sendiri.
"I-insya Allah, Eneng bersedia, Kang," jawab Nisa lirih dengan malu-malu.
Chef Yudha kemudian menyerongkan duduknya dan menghadap ke arah Nisa. Nisa pun kemudian mengangkat wajahnya dan melihat ke arah sang kekasih hati.
"Tolong do'ain Akang ya, Neng. Akang akan segera membicarakan tentang masalah ini kepada keluarga Akang terlebih dahulu. Dan Akang harap, Neng Nisa bisa bersabar untuk menunggu kedatangan Akang melamar Neng Nisa nanti. Akang usahakan untuk bisa mewujudkan semuanya itu secepatnya. Ya, Neng? Jadi Akang minta sama Neng Nisa tolong bersabar dulu untuk sementara waktu ini. Dan tolong do'akan Akang agar semuanya bisa berjalan dengan lancar ya, Neng," kata Chef Yudha panjang lebar.
"Iya, Kang. Nisa akan bersabar menunggu kedatangan Kang Yudha. Dan Nisa juga akan selalu mendo'akan Kang Yudha, agar semuanya bisa berjalan dengan lancar, Kang," balas Nisa dengan tersenyum lembut.
Sepasang kekasih itupun kemudian saling melempar senyum manis. Setelah itu Chef Yudha pun kemudian berpamitan kepada Nisa dan melanjutkan perjalanannya untuk berangkat menuju ke kafe Awan, tempatnya bekerja.
🍁🍁🍁
Awan sengaja mendatangi Chef Yudha di dapur kafe saat ini. Awan tentu saja juga sudah mengetahui tentang kabar bahwa Abah Imron rencananya akan keluar dari rumah sakit besok itu. Dan Awan sengaja ingin mengetahui bagaimana tindakan yang akan diambil oleh Chef Yudha mengenai hubungannya dengan Nisa kedepannya nanti.
"Yud," panggil Awan begitu sampai di samping Chef Yudha.
"Eh, Bos Awan. Iya, Bos, ada apa?" tanya Chef Yudha seraya menoleh ke arah sang Bos.
"Gue udah dapet kabar juga. Tentang Abah Imron yang besok sudah boleh keluar dari rumah sakit. Lo juga pasti udah tau, kan?"
__ADS_1
Chef Yudha sempat terkejut sesaat. Tetapi kemudian dia pun berusaha untuk menjawab dengan tenang.
"Iya, Bos. Gue juga udah tau kok."
"Terus apa rencana Lo kedepannya? Nggak mungkin kan Lo akan biarin Nisa pergi begitu aja?"
"Ya enggak lah, Bos. Tadi gue juga udah bicarain tentang masalah ini sama Nisa juga kok "
"Terus apa yang akan Lo lakuin?"
Chef Yudha menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Sepertinya dia bisa membicarakan tentang masalah ini kepada Bos Awan-nya itu. Dan Chef Yudha sangat berharap semoga saja Bos Awan bisa memberinya sedikit masukan nanti.
"Jadi gini, Bos, gue berniat untuk melamar Nisa. Dan tadi pas gue tanyain tentang masalah ini ke Nisa, alhamdulillaah Nisa juga bersedia.Cuma masalahnya kan semua ini terlalu mendadak, Bos. Gue juga belum sempat cerita tentang niatan gue untuk melamar Nisa itu ke keluarga gue. Sementara besok Abah Imron udah boleh keluar dari rumah sakit. Jadi gue juga lagi bingung ini mau gimana. Waktunya mepet banget, Bos," jawab Chef Yudha menjelaskan tentang niatannya tadi kepada sang Bos.
"Lo beneran serius mau ngelamar Nisa, Yud?"
"Iya, Bos. Gue serius kok. Lo tau sendiri gimana gue, Bos. Gue bukan tipe orang yang suka main-main, apalagi yang hubungannya dengan masalah perasaan. Gue beneran serius ketika gue menyatakan perasaan suka gue sama Nisa kemarin itu. Makanya gue juga mantap buat ngelamar Nisa. Cuma masalahnya ya itu tadi, waktunya mepet banget, Bos. Gue belum mempersiapkan semuanya. Gue juga belum memberitahu ke keluarga gue tentang masalah ini."
Chef Yudha mengesah kasar. Awan merasa tidak tega juga melihat karyawannya yang terlihat sangat kebingungan itu. Awan bisa melihat keseriusan Chef Yudha tentang hubungannya dengan Nisa. Awan pun kemudian berusaha untuk memutar otaknya. Awan ingin membantu Chef Yudha.
"Tiga hari, Yud," kata Awan tiba-tiba.
"Hah? Apa, Bos? Apanya yang tiga hari?" tanya Chef Yudha bingung.
"Gue kasih Lo waktu tiga hari untuk mempersiapkan semuanya. Segera beritahu tentang masalah ini ke keluarga Lo. Lalu ajak keluarga Lo untuk datang dan melamar Nisa ke rumah gue dalam waktu tiga hari itu," jawab Awan.
"Ma-maksudnya Bos Awan? Jadi Nisa dan keluarganya nggak jadi pulang besok gitu, Bos?" tanya Chef Yudha, masih belum bisa mencerna semua perkataan bosnya itu dengan baik.
"Besok ketika Abah Imron dan keluarganya pulang dari rumah sakit, gue akan ajak mereka semua untuk tinggal dulu di rumah gue selama tiga hari. Entah dengan alasan apa nanti, tapi gue pastikan gue akan menahan kepulangan mereka selama tiga hari kedepan. Jadi gue minta Lo bisa memanfaatkan waktu tiga hari itu dengan sebaik-baiknya," jawab Awan menjelaskan rencananya.
Senyum sumringah langsung terlihat di wajah Chef Yudha.
"Oke-oke, Bos. Gue akan manfaatin waktu tiga hari itu dengan sebaik-baiknya. Gue akan segera memberitahu keluarga gue tentang niat gue ini. Dan gue juga akan membawa keluarga gue untuk datang melamar Nisa dalam waktu tiga hari itu. Gue janji, Bos," ucap Chef Yudha mantap.
"Oke, Yud. Gue pegang janji Lo."
"Iya, Bos. Thanks ya, Bos. Terima kasih banyak untuk kesempatan yang udah Bos berikan sama gue ini, Bos. Dan gue janji gue nggak akan ngecewain Bos Awan," kata Chef Yudha penuh keyakinan.
"Iya, Yud, sama-sama. Gue do'ain semoga semuanya lancar ya, Yud. Aamiin," do'a Awan.
"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin. Thanks banget ya, Bos," balas Chef Yudha lagi.
__ADS_1
Awan menganggukkan kepalanya pelan seraya menepuk pundak Chef Yudha. Awan sungguh berharap untuk kebahagiaan Chef Yudha dan Nisa kedepannya nanti.