Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
66. Terbongkar


__ADS_3

"Sayang," panggil Mas Awan seraya berjalan menghampiriku yang saat ini sedang duduk di tepi tempat tidur dengan menggendong Angkasa.


"Iya, Mas," balasku.


Mas Awan kemudian mendudukkan dirinya di sebelahku.


"Angkasa udah tidur?" tanya Mas Awan.


"Ini, baru aja, Mas," jawabku seraya memperlihatkan Angkasa yang sudah kembali terlelap dalam gendonganku setelah selesai menyusu padaku tadi.


"Syukurlah," ucap Mas Awan.


Mas Awan kemudian mencium lembut kening Angkasa.


"Keinan juga udah tidur, Mas?" tanyaku kemudian.


Ya, setelah kelahiran adiknya, Angkasa, dan juga setelah Mas Awan akhirnya kembali bersama dengan kami semua setelah insiden kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya Mas Awan dulu itu, Keinan kemudian memutuskan untuk memiliki kamar sendiri.


Meskipun letaknya masih berada di sebelah kamarku dan Mas Awan ini, tetapi kami tetap menghargai niat Keinan yang ingin belajar mandiri dengan mulai tidur sendiri di kamarnya sendiri itu.


"Udah juga kok. Makanya udah Mas tinggal balik kesini," jawab Mas Awan.


"Syukurlah kalau gitu," balasku.


"Angkasa udah nyenyak belum tidurnya? Taruh di boks bayi aja dulu kalau dia udah tidur nyenyak," kata Mas Awan kemudian.


"Hmm," gumamku seraya memicingkan mata.


Sepertinya ada sesuatu yang lain dari suamiku ini. Seperti ada sesuatu yang sedang mengganjal di hati Mas Awan dan ingin segera dia sampaikan kepadaku.


"Udah kok, Mas. Ya udah, aku tidurin Angkasa di boks bayinya dulu ya, Mas," balasku.


Tidak ingin berlama-lama, aku pun kemudian bangun dari dudukku, hendak meletakkan Angkasa kembali ke dalam boks bayinya.


Setelah meletakkan kembali Angkasa ke dalam boks bayinya, aku pun kemudian kembali menghampiri Mas Awan dan duduk di sebelah suamiku itu. Kami duduk dengan saling berhadapan saat ini.


"Ada apa, Mas? Sepertinya ada yang sedang mengganjal di hati Mas Awan saat ini. Ada masalah apa emangnya, Mas?" tanyaku.

__ADS_1


Mas Awan nampak menarik nafasnya dalam-dalam terlebih dahulu sebelum akhirnya berbicara kepadaku.


"Sayang, pihak kepolisian sudah berhasil menemukan orang yang berniat untuk mencelakakan Mas kemarin itu," jawab Mas Awan hati-hati.


"Apa, Mas? Jadi pihak kepolisian sudah berhasil mengetahui identitas pelaku yang sengaja ingin menabrak Mas Awan kemarin itu?" tanyaku begitu antusias.


Mas Awan menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya, sayang. Pihak kepolisian sudah berhasil menemukan pengemudi mobil yang menyerempet Mas waktu itu. Dan berdasarkan pengakuan dari pengemudi mobil tersebut, pihak kepolisian pun akhirnya berhasil mengetahui otak pelaku kejahatan yang sebenarnya dari rencana penabrakan itu," jawab Mas Awan.


"Otak pelaku kejahatan sebenarnya? Siapa dia, Mas? Siapa orang itu, yang sudah setega itu berniat untuk mencelakai Mas Awan seperti itu?" tanyaku mulai terbawa emosi.


Mas Awan nampak ragu untuk menjawab pertanyaanku itu.


"Mas Awan?" tanyaku sekali lagi.


Mas Awan kemudian menggenggam kedua tanganku. Diusapnya dengan lembut kedua telapak tanganku itu.


"Sayang, Mas kasih tau kamu siapa otak pelaku kejahatan yang sebenarnya, tapi kamu harus janji sama Mas kalau kamu nggak boleh emosi apalagi sampai kepikiran berlebihan, ya?" ucap Mas ?


Awan, memintaku untuk berjanji terlebih dahulu.


"Iya, Mas, aku janji," kataku kemudian, berusaha untuk meyakinkan Mas Awan.


Melihat Mas Awan yang masih terdiam dan terlihat masih merasa ragu itu, aku pun kemudian kembali bertanya.


"Siapa dia, Mas?" tanyaku lagi.


Mas Awan kembali menarik nafasnya dalam-dalam.


"Dia adalah Bayu," jawab Mas Awan pelan dan hati-hati.


"APA???"


Seketika aku berjengit karena merasa sangat terkejut. Aku tidak menyangka sama sekali kalau Bayu akan sampai berbuat senekat itu. Aku tidak menyangka sama sekali kalau Bayu bahkan sampai setega itu untuk mencelakai Mas Awan seperti kemarin itu.


Air mata langsung lolos begitu saja, membasahi kedua pipiku. Aku marah. Aku kecewa.

__ADS_1


"Jahat sekali dia, Mas," ucapku.


"Sssttt,,, udah, sayang. Kamu jangan nangis seperti ini," kata Mas Awan seraya menghapus air mata di kedua pipiku menggunakan jari tangannya.


Mas Awan kemudian menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku pun kemudian menumpahkan tangisanku di dada bidang suamiku itu. Mas Awan mengusap-usap lembut punggungku, mencoba untuk menenangkanku.


Untuk beberapa saat aku menangis di dalam pelukan suamiku itu. Sampai akhirnya perasaanku sedikit merasa lega.


"Sayang, Mas menceritakan semua ini sama kamu, karena Mas ingin meminta pendapat dari kamu," kata Mas Awan kemudian setelah tangisanku sedikit mereda.


"Minta pendapat soal apa, Mas?" tanyaku pelan.


"Sayang, biar bagaimanapun juga Bayu adalah ayah kandung dari Keinan. Jadi, apakah kita tetap akan melanjutkan proses hukum terhadap Bayu ini?" tanya Mas Awan hati-hati.


Seketika aku langsung bangun dari pelukan suamiku itu.


"Harus, Mas. Kita harus tetap melanjutkan semua proses hukum terhadap Bayu ini. Bayu harus menerima hukuman yang setimpal untuk perbuatannya ini, Mas," jawabku dengan yakin.


"Tapi, sayang, biar bagaimanapun juga Bayu adalah ayah kandung dari Keinan. Bagaimana dengan pendapat Keinan nanti kalau dia tau ayah kandungnya terlibat kasus hukum seperti ini?" tanya Mas Awan.


"Mas, itu adalah resiko yang harus ditanggung oleh Bayu sendiri, Mas. Dia yang sudah memilih jalan ini, berarti dia juga harus siap dengan semua konsekuensinya. Dia sudah melakukan kejahatan, Mas. Perbuatannya ini sudah termasuk tindakan kriminal. Jadi biarkan dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya ini secara hukum, Mas," jawabku dengan mantap.


"Lalu Keinan?" tanya Mas Awan lagi.


Aku bisa melihat kekhawatiran itu di wajah Mas Awan. Aku tersenyum lembut, Mas Awan memang begitu menyayangi Keinan. Bahkan sampai Mas Awan tetap memikirkan perasaan Keinan terlebih dahulu sebelum dia mengambil keputusan.


Aku gantian menggenggam lembut kedua telapak tangan Mas Awan saat ini.


"Keinan punya kita, Mas. Kita nanti bisa menjelaskan dengan baik-baik kepada Keinan. Dan aku sangat yakin, Keinan pasti bisa memahami keputusan yang kita ambil ini, Mas. Keinan sangat menyayangi Mas Awan. Dia pasti tidak rela kalau ada seseorang yang berniat untuk mencelakai Mas Awan, meskipun itu adalah ayah kandungnya sendiri, Mas," jawabku panjang lebar, mencoba meyakinkan suamiku itu.


"Baiklah kalau begitu. Mas ikuti kata kamu. Kita akan tetap melanjutkan proses hukum terhadap Bayu ini. Tapi nanti kamu bantu Mas untuk menjelaskan sama Keinan ya, sayang," kata Mas Awan kemudian.


"Pasti, Mas," balasku dengan tersenyum.


"Terima kasih banyak, sayang," ucap Mas Awan.


"Mas Awan tidak perlu berterima kasih padaku, Mas," balasku.

__ADS_1


Mas Awan kemudian menarik tubuhku untuk masuk ke dalam pelukannya lagi. Aku membalas pelukan Mas Awan dengan sangat erat. Mas Awan kemudian mencium kepalaku penuh sayang.


__ADS_2