Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
72. Membulatkan Tekad


__ADS_3

Ayesha langsung dibawa pulang oleh Nadirga dan Hamzah. Sementara untuk urusan Chika dan orang-orang suruhan Chika yang lainnya itu diurusi oleh Alvin, Sammy, dan yang lainnya.


Nadirga yang menyetir mobilnya. Sementara Hamzah menemani Ayesha duduk di kursi belakang. Selama dalam perjalanan pulang menuju ke rumah mereka, Ayesha terus saja memeluk Hamzah. Ayesha juga masih terlihat sangat ketakutan.


Bahkan sesekali masih terdengar isak tangis kecil dari Ayesha. Dan Hamzah akan selalu dengan sigap menenangkan kekasih hatinya itu. Nadirga yang melihat semuanya itu dari kaca spion tengah mobilnya tersebut merasa sangat sedih. Adik perempuan satu-satunya yang sangat dia sayangi sampai menjadi seperti itu. Nadirga rasanya sangat marah sekali.


Sesampainya di rumah mereka, ternyata Yas, Nia, Ayumi, Hana, Sylvia, dan Max sudah menunggu kedatangan Nadirga, Hamzah, dan Ayesha dengan sangat cemas.


"Yesha," teriak Nia begitu melihat putrinya itu turun dari mobil dengan dibantu oleh Hamzah.


Nia segera berlari dan langsung memeluk tubuh putrinya itu. Air mata Nia juga langsung mengalir. Nia merasa sangat bersyukur akhirnya putrinya itu bisa kembali pulang dengan selamat.


"Mama," panggil Ayesha yang juga sudah kembali menangis dalam pelukan mamanya itu.


"Syukurlah kamu sudah pulang dengan selamat, nak. Mama, Papa, dan semuanya sangat mengkhawatirkan keadaan kamu, Sha," kata Nia masih dengan memeluk erat tubuh putrinya itu.


Beberapa saat kemudian, Nia pun melepaskan pelukannya kepada Ayesha. Nia lalu menghapus air mata Ayesha, kemudian juga menghapus air matanya sendiri.


"Kita masuk dulu yuk, semuanya," ajak Nia kemudian.


Nadirga, Ayesha, Hamzah, dan yang lain pun kemudian menganggukkan kepala mereka masing-masing, mengiyakan. Ayumi kemudian menghampiri Nia dan Ayesha. Ayumi lalu membantu memapah Ayesha, bersebelahan dengan sang ibu mertua saat ini.


Ayumi dan Nia membawa Ayesha untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Yas, Max, Sylvia, dan Hana memilih untuk tinggal sebentar. Mereka ingin menanyai Nadirga dan Hamzah terlebih dahulu.


"Siapa, Ga?" tanya Yas.


"Chika, Pa. Orang yang sama yang sudah menjebak Hamzah dengan obat kemarin itu," jawab Nadirga.


"Lalu sekarang?" tanya Yas lagi.


"Kak Alvin, Kak Sammy, dan yang lainnya sudah membawa mereka semua ke kantor polisi untuk menerima hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang sudah mereka lakukan ini," jawab Nadirga lagi.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu," balas Yas.


"Jadi sekarang Kak Sammy lagi ikut nganterin para penjahat itu ke kantor polisi, Ga?" tanya Hana, menanyakan keberadaan suaminya itu.


"Iya, Han," jawab Nadirga.


"Tapi Kak Sammy baik-baik aja kan, Ga?" tanya Hana lagi, merasa khawatir.


"Kak Sammy nggak pa-pa kok, Han. Kami semua bisa melumpuhkan para penjahat itu dengan mudah," jawab Nadirga, sangat bisa memahami kekhawatiran Hana tersebut.


"Syukurlah," lirih Hana dengan menghembuskan nafas lega.


"Ya udah. Ayo kita semuanya masuk ke dalam dulu," ajak Yas kemudian.


Nadirga, Hamzah, Max, Sylvia, dan Hana pun menganggukkan kepala mereka masing-masing. Mereka semua kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Yas.


Beberapa saat kemudian.


"Maaf ya, Om. Karena secara tidak langsung, semuanya ini terjadi karena aku. Chika sampai menjadikan Ayesha target kejahatannya hanya demi bisa dapetin aku," sesal Hamzah.


"Hmh, udah lah, Ham. Yang penting Yesha sudah selamat dan dia baik-baik saja," kata Yas.


Hamzah menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, berusaha untuk mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya saat ini.


"Om Yas, Kak Dirga, setelah semua yang terjadi pada hari ini, aku sudah membulatkan tekadku untuk segera menikah dengan Ayesha dan meresmikan hubungan kami," ucap Hamzah kemudian dengan mantap.


Yas dan Nadirga sempat terkejut. Keduanya kemudian saling berpandangan sesaat. Setelah itu senyuman terbit di wajah ayah dan anak itu.


"Alhamdulillaah," ucap Yas dan Nadirga bersamaan


Hamzah pun menghembuskan nafas lega setelah mengetahui reaksi dari Yas dan Nadirga tersebut.

__ADS_1


"Kamu beneran udah yakin, Ham?" tanya Nadirga mencoba memastikan sekali lagi.


"Iya, Kak. Aku udah sangat yakin. Setelah kejadian buruk yang menimpa Ayesha hari ini, aku jadi sadar bahwa aku ingin selalu berada di samping Ayesha agar aku bisa selalu melindungi Ayesha dari bahaya apapun yang mungkin akan terjadi. Terutama juga dari Chika. Dan aku juga berharap, semoga setelah aku dan Ayesha resmi menikah nanti, Chika sudah tidak lagi memiliki niatan buruk untuk merusak hubungan aku dan Ayesha lagi," jawab Hamzah sekaligus mengutarakan alasannya.


"Kakak sangat mendukung niat baik kamu itu, Ham. Dan semoga seperti yang sudah kamu bilang tadi, setelah ini Chika sudah jera dan tidak akan lagi memiliki niatan untuk merusak hubungan kamu dengan Ayesha lagi ya, Ham," ucap Nadirga.


"Iya, Kak, semoga seperti itu," balas Hamzah.


Yas tersenyum. Dirinya pun ikut meng-amin-kan di dalam hatinya dan berharap semoga kedepannya hubungan antara Hamzah dan Ayesha tidak lagi menghadapi masalah yang berarti.


"Syukurlah kalau akhirnya kamu sudah mantap untuk menghalalkan putri Om, Ham. Jujur Om dan keluarga sudah sangat menantikan hal ini sejak lama. Tapi kami juga tidak ingin memaksa kamu. Kami tau kamu juga sedang berusaha untuk bisa segera menghalalkan Ayesha. Itu kenapa kami memilih untuk menunggu. Syukurlah kalau akhirnya sekarang kamu sudah mantap untuk menikah dengan Ayesha, Ham," kata Yas.


"Maaf ya, Om. Bukannya aku ingin menunda-nunda. Hanya saja memang aku sedang mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Terutama dari segi materi. Dan juga, sebelumnya aku mau minta maaf sama Om Yas dan Kak Dirga, karena aku mungkin tidak bisa memberikan seserahan yang mewah apalagi pesta yang meriah untuk Ayesha nanti," ucap Hamzah begitu berat.


Yas tersenyum lembut, sangat bisa memahami keresahan Hamzah saat ini.


"Hamzah, dari awal Om udah pernah bilang sama kamu kan, Om dan keluarga Om tidak ingin memberatkan kamu sama sekali. Kami sangat memahami kondisi keluarga kamu. Dan sungguh, kami juga tidak akan pernah menuntut kamu atau keluarga kamu untuk memberikan seserahan atau pesta pernikahan yang mewah. Bagi kami, yang paling penting adalah prosesi ijab kabul antara kamu dan Ayesha bisa berjalan dengan baik dan lancar. Itu sudah sangat cukup," kata Yas, menjelaskan panjang lebar.


Nadirga yang saat ini duduk di sebelah Hamzah pun kemudian menepuk pelan pundak calon adik iparnya itu.


"Papa benar, Ham. Kami tidak menuntut seserahan atau pesta yang mewah. Yang paling penting kamu dan Ayesha sah menjadi sepasang suami istri, kami sudah sangat bahagia," ucap Nadirga juga.


Hamzah tersenyum senang setelah mendengar semua perkataan dari calon mertua dan calon kakak iparnya itu.


"Terima kasih banyak, Om, Kak. Aku akan segera memberitahukan tentang masalah ini kepada ibu dan keluargaku yang lainnya. Secepatnya kami akan segera datang untuk melamar Ayesha secara resmi," ucap Hamzah kemudian.


"Iya, Ham. Kami tunggu kabar dari kamu, ya. Secepatnya," kata Yas.


"Pasti, Om. Sesegera mungkin," balas Hamzah.


Hamzah, Yas, dan Nadirga pun kemudian tersenyum bersamaan. Lagi-lagi Nadirga menepuk-nepuk pelan pundak Hamzah. Nadirga bersyukur karena kejadian buruk yang dialami oleh Ayesha pada hari ini, akhirnya justru membawa kabar gembira tentang kemantapan niat Hamzah untuk segera menikah dengan adik perempuannya itu.

__ADS_1


__ADS_2