
📞: Halo. Assalamu'alaikum, Dek.
📞: Wa'alaikumsalam, Kak. Kak Awan, suaminya Kak Shofi, udah balik, Kak. Dia udah ketemu dan udah kembali lagi sekarang.
📞: Apa?
📞: Iya, Kak. Bahkan sekarang Kak Shofi juga udah lahiran. Anaknya cowok. Dan kemarin katanya Kak Awan juga yang nemenin Kak Shofi pas lahiran.
📞: Sial. Proses perceraian kakak dengan Alya lumayan alot, makanya makan waktu cukup lama. Eh, malah udah ketikung duluan.
📞: Sama pun, Kak. Aku juga ngerasa gitu. Udah seneng-seneng bisa satu kantor sama Kak Hamzah, bahkan udah satu bagian juga. Eh, tapi tetep aja dilirik pun enggak. Selalu aja Ayesha lagi - Ayesha lagi yang diperhatiin. Bikin kesel aja.
📞: Hmh, ya udah deh, Dek. Kakak usahain bisa balik secepatnya. Nanti kita pikirin lagi rencana kedepannya gimana buat merebut kembali hati mereka.
📞: Iya. Aku tungguin ya, Kak. Aku bingung mau gimana kalau nggak ada Kak Bayu. Nggak ada yang bisa aku mintain pendapat.
📞: Iya, Dek. Kakak paham kok. Kakak usahain bisa balik secepatnya, ya.
📞: Iya. Ya udah deh, kalau gitu. Chika tutup dulu teleponnya, ya. Assalamu'alaikum, Kak.
📞: Wa'alaikumsalam, Dek.
Tut.
Sambungan telepon pun terputus.
🍁🍁🍁
"MAS AWAN!!!"
Tanpa sadar aku langsung memekik memanggil nama Mas Awan dalam tidurku. Sontak aku langsung membuka kedua mataku. Nafasku terasa ngos-ngosan. Entah kenapa aku tiba-tiba bisa bermimpi buruk tentang Mas Awan seperti itu.
"Astaghfirullah hal adziim," lirihku pelan seraya mengusap wajahku menggunakan kedua telapak tanganku sendiri.
"Ada apa, sayang? Kok sampai teriak gitu?" tanya Mas Awan yang ternyata juga ikut terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Aku menoleh. Bisa aku lihat Mas Awan yang nampak sedang menutup mulutnya karena sedang menguap itu.
"Hmm, nggak pa-pa kok, Mas. Maaf ya jadi bangunin Mas Awan," sesalku.
Mas Awan kemudian bangun dari tidurnya lalu mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Diusapnya lembut kepalaku. Aku pun kemudian ikut bangun dan mendudukkan tubuhku, duduk saling berhadapan dengan Mas Awan saat ini.
"Nggak perlu minta maaf. Kayak belum biasa aja sih kamu itu, sayang. Jadi kenapa tadi? Kamu mimipi buruk, ya? Kok sampai teriak manggil nama Mas gitu?" tanya Mas Awan lagi seraya menggenggam tanganku.
"Mmmhhhh, iya, Mas," jawabku pada akhirnya.
"Mimpi apa emangnya?" tanya Mas Awan lagi.
"Aku mimpi lagi jalan berdua sama Mas Awan. Terus tiba-tiba ada yang narik Mas Awan dan bawa Mas Awan pergi ninggalin aku sendirian," jawabku cemas, menceritakan apa yang aku lihat dalam mimpiku tadi kepada Mas Awan.
Mas Awan tersenyum. Diusapnya lembut tanganku yang sedang dia genggam saat ini. Aku tau kalau saat ini Mas Awan sedang mencoba untuk mengurangi rasa cemas yang sedang aku rasakan sekarang ini.
"Jangan terlalu dipikirin, sayang. Itu cuma mimpi. Anggap aja itu cuma sekedar bunga tidur aja. Ya sayang, ya," kata Mas Awan mencoba menenangkan hatiku.
"Hmm, iya, Mas. Semoga aja itu emang cuma sekedar mimpi aja dan bukan suatu pertanda buruk. Aku beneran takut, Mas. Aku nggak mau dan nggak bisa bayangin kalau sampai Mas Awan pergi lagi dan ninggalin aku sama anak-anak, Mas," keluhku benar-benar merasa takut dan cemas.
Mas Awan mengusap lembut pipiku.
"Iya, Mas. Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," aku pun ikut meng-amin-kan do'a suamiku itu.
Mas Awan kemudian menarik tubuhku dan membawa aku masuk ke dalam pelukannya. Mas Awan memelukku dengan penuh kasih sayang seraya menciumi kepalaku beberapa kali. Seolah-olah mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja dan Mas Awan tidak akan pernah meninggalkan aku lagi.
Aku membalas memeluk Mas Awan dengan sangat erat. Jujur saja aku masih kepikiran dengan mimpiku tadi. Dan sungguh, aku sangat takut kalau sampai Mas Awan benar-benar pergi lagi meninggalkan kami seperti dulu lagi.
Nauzubillahi min dzalik. Kami meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dari hal itu ( hal yang buruk itu ). Semoga saja hal buruk itu tidak akan pernah menghampiri keluarga kami lagi. Aamiin Yaa robbal 'aalamiin.
🍁🍁🍁
Saat jam makan siang.
Hari ini Hamzah sengaja mengajak Ayesha untuk makan siang bersama. Dan karena mereka berdua bekerja di perusahaan yang berbeda, maka Hamzah pun menjemput Ayesha dan mengajaknya untuk makan siang di sebuah rumah makan tidak jauh dari kantor perusahaan SA Group, tempat Ayesha bekerja saat ini.
__ADS_1
"Kakak tumben banget sih ngajakin aku makan siang bareng di luar kayak gini? Mana dibela-belain jemput ke kantor lagi. Kan lumayan jauh loh, Kak," tanya Ayesha di sela-sela makan siang antara dirinya bersama dengan Hamzah itu.
"Ya nggak pa-pa dong, sayang. Kan demi pacarnya kakak yang cantik ini," jawab Hamzah dengan menggombal.
"Dih, gombal. Kak Hamzah belajar dari siapa sih? Kok sekarang jadi pinter ngegombal kayak gini," kata Ayesha dengan wajah yang sudah merona merah karena merasa malu.
"Apapun demi bisa nyenengin hati kamu, pasti kakak lakuin, sayang," balas Hamzah masih dengan berkata-kata manis.
"Iiihhh, Kak Hamzah udah dong. Jangan godain aku terus. Aku jadi malu nih," ucap Ayesha yang semakin tersipu.
"Hahaha,,, iya deh, sayang. Udah kok. Nggak godain kamu lagi. Ya udah, yuk kita lanjutin aja makannya," kata Hamzah kemudian.
Ayesha menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka berdua kemudian melanjutkan acara makan siang bersama mereka tersebut. Hamzah menyendok sepotong udang asam manis dari atas piring kemudian mendekatkan sendoknya tersebut ke mulut Ayesha.
"Nih, sayang, kamu belum cobain udang asam manisnya, kan? Ini kan makanan favorit kamu. Sini buka mulut kamu, biar kakak suapin. Aaa,,," kata Hamzah hendak menyuapi Ayesha.
"Iya deh," balas Ayesha yang kemudian membuka mulutnya dan menerima suapan dari kekasihnya itu.
"Gimana rasanya?" tanya Hamzah.
"Mmm, enak kak. Enak banget," jawab Ayesha dengan wajah berbinar.
"Oh ya?" tanya Hamzah lagi.
"Iya, Kak. Nih, coba kakak rasain sendiri aja," jawab Ayesha yang kemudian juga menyendok sepotong udang kemudian mendekatkannya ke mulut Hamzah, berniat untuk gantian menyuapi kekasihnya itu.
Hamzah membuka mulutnya dan menerima suapan dari gadis yang sangat dia cintai itu.
"Hmm, iya, sayang. Rasanya enak banget. Apalagi kalau kamu yang suapin kayak gini. Rasanya jadi tambah lebih enak lagi," kata Hamzah yang kembali menggoda kekasihnya itu.
"Kak Hamzah," rajuk Ayesha kembali tersipu.
"Hahahaha, iya deh. Udah. Nggak godain lagi," ucap Hamzah pada akhirnya.
Sepasang kekasih itupun kemudian melanjutkan acara makan siang bersama mereka tersebut dengan sesekali diselingi percakapan dan canda tawa mereka berdua. Sesekali Hamzah juga masih menyuapi Ayesha makan, begitu juga dengan sebaliknya.
__ADS_1
Tanpa Hamzah dan Ayesha sadari, tidak jauh dari meja mereka berdua saat ini, ternyata Chika sedang memperhatikan mereka berdua diam-diam. Chika mengepalkan kedua tangannya erat. Chika merasa emosi dan begitu marah melihat kemesraan sepasang kekasih di depannya itu.
Chika cemburu kepada Ayesha. Dan Chika juga sangat berharap bahwa saat ini dia yang berada di posisi Ayesha itu. Chika ingin dia yang mendapatkan semua perhatian dan rasa cinta dari Hamzah itu, bukan Ayesha. Chika bersumpah dalam hati kalau dia pasti akan bisa merebut semuanya itu dari Ayesha suatu saat nanti.