Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu
39. Double Syukuran


__ADS_3

Setelah Mas Awan memberitahukan tentang rencana kami untuk mengadakan acara syukuran aqiqah baby Angkasa sekaligus juga peringatan satu tahun ulang tahun pernikahan kami, semua keluarga pun menyambut dengan baik rencana kami tersebut dan bersedia untuk membantu mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk acara syukuran itu nantinya.


Sedikit kerepotan memang, mengingat waktu yang mepet dan tinggal dua hari saja itu. Tetapi alhamdulillaah semuanya bisa terselesaikan dengan tepat waktu karena bantuan dari semua keluarga dan juga para karyawan di kafe Mas Awan.


Dan hari ini, acara dobel syukuran itupun akhirnya tiba juga. Siang ini, ba'da Dzuhur, acara dobel syukuran itu akan diadakan di rumah Papa Surya ini. Tidak ada acara yang khusus, karena memang aku dan Mas Awan hanya menginginkan acara yang sederhana saja. Mengingat waktu persiapan yang hanya sebentar juga.


Dengan mengundang seluruh keluarga dan kerabat, para tetangga, teman-teman kami, dan juga anak-anak dari sebuah panti asuhan yang letaknya tidak jauh dari kompleks perumahan Papa Surya ini, acara pengajian dan syukuran siang ini pun dilaksanakan.


Alhamdulillaah semua rangkaian acara syukuran pada siang hari ini berjalan dengan lancar. Mulai dari pembukaan, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, pengajian dan tausiyah, pembacaan do'a untuk baby Angkasa Isnan Putra juga untuk kebaikan rumah tanggaku dan Mas Awan kedepannya, dan juga penutupan. Aku bersyukur karena semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar.


Dan sekarang adalah acara ramah tamah dan juga jamuan untuk semua tamu undangan yang sudah hadir siang hari ini. Satu per satu dari mereka semua pun kemudian memberikan ucapan selamat dan do'a-do'a baik untuk baby Angkasa dan juga rumah tanggaku bersama dengan Mas Awan.


"Kak Shofi," panggil Ayesha yang datang bersama dengan kedua orang tuanya, Om Yas dan Tante Nia.


"Ayesha," balasku.


Aku dan Ayesha kemudian berpelukan.


"Selamat ya Kak untuk kelahiran baby Angkasa. Semoga jadi anak yang shalih dan jadi kebanggaan keluarga nantinya. Selamat juga untuk ulang tahun pertama pernikahan Kak Shofi dan Kak Awan. Semoga bahagia selalu dan langgeng selalu sampai akhir hayat nanti. Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," kata Ayesha setelah melepaskan pelukan kami.


"Aamiin, Yaa Allah. Terima kasih banyak ya, Sha, untuk semua do'anya. Terima kasih juga untuk kedatangannya," balasku mengucapkan terima kasih.


"Iya, Kak, sama-sama," kata Ayesha. "Selamat ya, Kak Awan," ucap Ayesha kepada Mas Awan di sebelahku.


"Makasih ya, Sha," balas Mas Awan.


Ayesha menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Aku kemudian beralih kepada Om Yas dan Tante Nia.


"Om Yas, Tante Nia," sapaku kepada kedua orang tua Ayesha tersebut.


"Selamat ya, Shofi. Semua do'a terbaik untuk kamu dan keluarga kecilmu, ya," kata Tante Nia seraya memelukku.


"Aamiin. Terima kasih banyak, Tante," balasku.


Tante Nia kemudian melepaskan pelukannya kepadaku. Setelah itu aku pun lalu menyalami Om Yas. Mas Awan pun kemudian ikut menyalami Om Yas dan Tante Nia juga.


"Selamat ya, Shofi, Awan," kata Om Yas.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Om," aku dan Mas Awan menjawab bersamaan.


"Maaf ya, Shofi. Dirga nggak bisa dateng. Dia lagi ke luar kota sama Sean," kata Tante Nia.


"Iya, Tante, nggak pa-pa kok. Tante Nia, Om Yas, dan Ayesha datang aja aku udah seneng banget kok," balasku.


Setelah Ayesha dan kedua orang tuanya, sekarang giliran rombongan teman-temanku sewaktu masih bekerja di SR Group dulu. Om Azril, Mbak Billa, Mbak Tari, dan yang lainnya juga. Termasuk juga Chika. Karena Chika memang juga bekerja di SR Group sekarang, menggantikan posisi yang aku tinggalkan dulu. Sementara Hamzah menggantikan posisi Hana yang resign setelah menikah.


Aku bahagia sekali karena akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan semua teman-teman kerjaku dulu. Kami pun kemudian berbincang cukup lama, melepaskan rasa rindu kami.


Lalu, seperti yang sudah dikatakan oleh Umi Nur kemarin ketika meneleponku, hari ini hanya Nisa yang bisa datang ke acara syukuran ini, mewakili semua keluarga Abah Imron. Dan yang membuat aku juga Mas Awan dan yang lainnya kaget adalah ternyata Nisa datang bersama dengan Chef Yudha. Wah, sepertinya ada yang diam-diam sedang melakukan pendekatan nih.


Sekitar satu jam kemudian, akhirnya semua tamu undangan sudah selesai memberikan ucapan selamat dan juga mendo'akan kebaikan untuk baby Angkasa dan juga rumah tanggaku bersama dengan Mas Awan.


Kebetulan baby Angkasa terbangun karena mau minum ASI. Aku pun kemudian mengambil baby Angkasa dari ibuku lalu memberikannya ASI-ku, dengan ditemani oleh Mas Awan. Itung-itung sekalian beristirahat sejenak juga setelah tadi kami berdua menerima ucapan selamat dari semua tamu undangan yang hadir.


Selesai menyusui baby Angkasa, aku lalu mengembalikan baby Angkasa kepada ibuku. Aku pun kemudian melepas kembali apron menyusui yang tadi aku pakai. Setelah itu, tanpa sengaja pandanganku pun tertuju kepada Chika yang saat ini sedang menatap intens ke arah Hamzah dan Ayesha yang nampak sedang asyik bermain dengan Keinan.


"Lihatin apa sih, sayang?" tanya Mas Awan kepadaku.


"Oh, enggak kok, Mas. Itu, cuma lagi lihatin Chika aja," jawabku seraya menoleh ke arah Mas Awan.


"Iya, Mas," jawabku.


"Hmm, memangnya kenapa dengan Chika, sayang?" tanya Mas Awan.


"Enggak ada apa-apa sih, Mas. Cuma dari tadi kok aku perhatiin Chika selalu ngelihatin ke arah Hamzah dan Ayesha terus, ya," jawabku.


"Eh, masih belum bisa move on juga dia dari Hamzah, ya?"


"Nggak tau juga sih, Mas. Temenin aku yuk, Mas."


"Kemana?"


"Nyamperin Hamzah sama Ayesha. Ya seenggaknya aku mau memperingatkan mereka berdua aja, biar nggak terlalu memperlihatkan kemesraan mereka. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan untuk terjadi."


"Ya udah. Ayo Mas temenin."

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku. Aku dan Mas Awan kemudian berjalan menghampiri Hamzah dan Ayesha yang saat ini sedang asyik menemani Keinan bermain itu.


"Dek," panggilku begitu sampai di dekat Hamzah, Ayesha, dan Keinan.


Hamzah, Ayesha, dan Keinan menghentikan aktivitas bermain mereka dan menoleh ke arahku dan Mas Awan.


"Kak Shofi, Kak Awan," balas Hamzah.


"Bunda, Papa," panggil Keinan juga.


"Iya, kakak," aku membalas panggilan Keinan dengan tersenyum.


"Ada apa, Kak?" tanya Hamzah.


"Enggak ada apa-apa kok, Dek. Cuma kakak mau ngingetin sama kamu sama Ayesha aja," jawabku.


"Ngingetin apa, Kak?" tanya Ayesha juga.


"Kakak lihat dari tadi Chika selalu ngelihatin kalian berdua terus. Jadi kakak cuma mau ngingetin sama kalian berdua, jangan terlalu memperlihatkan kemesraan kalian berdua dulu. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan untuk terjadi," jawabku, memperingatkan Hamzah dan Ayesha.


"Oh, masalah itu. Iya sih, Kak. Yesha juga tau kok kalau dari tadi Chika selalu ngelihatin kami terus. Yesha juga udah bilang ke Kak Hamzah juga. Makasih ya, Kak Shofi, udah ngingetin kita," kata Ayesha.


"Iya, Sha, sama-sama. Kakak cuma nggak mau kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan aja," balasku.


"Iya, Kak, kami ngerti kok. Makasih, ya, udah diingetin," kata Hamzah juga.


"Iya, Dek, sama-sama," balasku lagi.


"Ternyata kamu hebat juga ya, Ham. Bisa buat Chika sampai susah move on gitu dari kamu," goda Mas Awan.


"Mas Awan."


"Kak Awan."


Aku dan Hamzah berucap bersamaan. Sementara Mas Awan justru langsung tertawa. Begitu juga dengan Ayesha yang juga ikut tertawa kecil.


"Ngomongnya itu loh," tegurku pelan.

__ADS_1


"Hehe, maaf, sayang. Bercanda," balas Mas Awan dengan cengirannya.


Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali. Suamiku ini kalau sudah kumat mode jahilnya memang susah. Ngomongnya sering seenaknya sendiri. Tapi justru itu yang selalu bisa menghidupkan suasana.


__ADS_2