
Setelah meninggalkan pelataran kantor Gerald, Devano melajukan mobilnya menuju apartemen Silvi untuk menjemput kekasih sekaligus sekretaris nya itu.
Sepanjang perjalanan ia tampak kesal karena hari ini telah gagal mendekati Pelangi. Sepertinya Gerald akan menjadi penghalang untuknya bisa mendekati Pelangi lagi.
Sesampainya di apartemen Silvi, laki-laki itu langsung masuk setelah sang kekasih membukakan pintu apartemen.
"Bagaimana, Dev, apa kau sudah menemui Pelangi?" Tanya Silvi yang bergelayut manja di lengan kekasihnya itu.
Devano tak menjawab, ia menarik pinggang Silvi merapat ke tubuhnya. Rasa kesalnya karena tak berhasil mendekati Pelangi hari ini akan ia tumpahkan pada Silvi dengan meminta jatah paginya di atas ranjang. Begitulah Devano, setiap apapun permasalahan yang membuat suasana hatinya menjadi tak baik ia akan meluapkan dengan cara menuntaskan hasratnya.
Mengerti dengan keinginan kekasihnya ini, Silvi pun langsung menuntun Devano menuju kamarnya.
"Bagaimana Dev, apa kau sudah menemui Pelangi? Silvi mengulang pertanyaan setelah beberapa saat lalu selesai dengan permainan ranjangnya dengan Devano.
"Sudah." Jawab Devano singkat sambil mengenakan kembali pakaiannya.
"Terus bagaimana? Apa Pelangi...
Ucapan Silvi terhenti ketika melihat Devano menggelengkan kepalanya.
"Gerald, sepertinya dia akan menjadi penghalang untuk aku bisa mendekati Pelangi lagi." Ujar Devano. "Mantan tunangan mu itu sepertinya menyukai Pelangi." Imbuhnya dengan raut wajah yang masih saja terlihat kesal.
"Masa kau akan kalah sebelum berperang." Silvi yang belum mengenakan apapun memeluk kekasihnya dari belakang yang duduk di tepi ranjang. " Apa kau lupa? Pernah mengalahkan Gerald dengan mengambilku darinya, hum? Jadi aku rasa tidak akan sulit untuk mu kembali menaklukkan Pelangi, karena mungkin saja Pelangi juga masih menyimpan rasa padamu. Dan untuk Gerald, ah lupakan dia. Dia itu laki-laki yang tidak bisa membuat wanita merasa nyaman, dia sama sekali tidak romantis. Pelangi tidak akan nyaman dengannya. Ayolah Dev tunjukkan pesonamu, buat Pelangi terbuai lagi denganmu agar kau dengan mudah bisa melenyapkan kandungnya. Jangan sampai perut Pelangi membesar dan akan menjadi masalah buatmu, aku juga tidak rela jika kau harus bertanggungjawab pada bayi yang dikandungnya itu."
"Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi. Aku pasti bisa mendekati Pelangi lagi kemudian melenyapkan kandungnya." Ucapan Devano sangat meyakinkan, namun jika saja Silvi melihat ekspresi wajahnya. Kekasihnya itu pasti dapat melihat jika ucapannya tak sejalan dengan hatinya. Sejujurnya, Devano merasa bimbang akan melenyapkan darah dagingnya sendiri. Terlebih mengingat bagaimana kebersamaannya dengan Pelangi selama ini. Wanita itu selalu menunjukkan kebesaran cintanya. Tidak pernah sekalipun Pelangi mengeluh tentang dirinya, berbeda dengan Silvi yang kerap kali meminta ini dan itu. Namun, bagi Devano, Pelangi hanyalah bonekanya sementara Silvi adalah cintanya sehingga ia tidak bisa menolak apapun permintaan Silvi. Termasuk ketika Silvi mengusulkan saat pertama kali menjalin kerjasama dengan perusahaan Pelangi, kekasihnya itu memintanya mendekati Pelangi untuk merebut seluruh hartanya.
"Sekarang cepat lah pakai pakaianmu, kita harus segera berangkat ke kantor."
Silvi pun melepas pelukannya dari tubuh Devano, kemudian bergegas memakai pakaiannya.
__ADS_1
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang waktu setempat. Gerald dan Pelangi beriringan keluar dari ruangan meeting. Setelah berada di ruangan Gerald, Pelangi dikejutkan oleh Gerald yang tiba-tiba saja menggenggam tangannya.
"Kau hebat sekali, Pelangi. Kau bisa meyakinkan para rekan bisnis untuk bergabung di perusahaan ini." Gerald tersenyum sumringah seolah tidak melihat raut terkejut Pelangi karena ia menggenggam tangannya secara tiba-tiba.
"Sekarang cepat katakan apa yang kau mau, aku akan mengabulkan dan anggap saja untuk merayakan kesuksesanmu hari ini." Ucap Gerald.
Pelangi nampak berpikir sejenak, dan beberapa saat kemudian ia tersenyum karena terpikirkan sesuatu. "Sungguh, kau akan mengabulkan apapun yang ku mau?" Tanyanya.
Gerald mengangguk dengan antusias. "Iya, apa yang kau mau?"
"Aku hanya mau, kau berhenti memintaku memasak!" Ujar Pelangi dengan nada di tekan.
"No! Minta yang lain. Apapun akan aku kabulkan, tapi jika meminta menyuruhmu berhenti memasak itu tidak bisa. Karena aku sudah terbiasa dengan masakanmu."
Pelangi menghela nafasnya lalu membawa dirinya duduk di sofa, "Kau berlebihan sekali, Gerald. Tapi lihat saja nanti, setelah aku kembali pada kehidupanku. Aku tidak akan mau memasak lagi untukmu!"
Gerald terkekeh, iapun mendudukkan tubuhnya di samping Pelangi. "Justru itu kau harus memasak setiap hari untukku, karena nanti jika kau sudah kembali menjadi orang kaya mana mungkin aku berani menyuruhmu memasak lagi."
Pelangi tak menanggapi, ia meliukkan kepalanya ke kanan dan ke kiri kemudian menyandarkan kepalanya. Menjadi sekertaris ternyata cukup melelahkan juga. Belum lagi ia punya pekerjaan tambahan yaitu pagi-pagi sekali harus sudah bangun untuk memasak.
"Oh ya Pelangi, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Pelangi menoleh menatap Gerald yang duduk disampingnya. "Apa? Tanyanya.
__ADS_1
"Ini tentang rencana Devano."
Pelangi mengerutkan keningnya, "Rencana apalagi yang akan dia lakukan? Dia sudah merebut segalanya."
"Kandungan mu." Jawab Gerald.
Membuat Pelangi refleks menatap kearah perutnya.
"Devano ingin mendekatimu lagi karena ingin menggugurkan kandunganmu."
Pelangi terperangah mendengar penuturan Gerald, "Bagaimana bisa kau tahu?"
"Aku mendengar percakapannya dengan Silvi beberapa hari lalu."
"Dia sudah gila, darah dagingnya sendiri ingin dilenyapkan. Tapi untung saja aku sudah keguguran." Pelangi benar-benar tak habis pikir jika Devano sekejam itu.
"Karena Devano tidak tahu kau sudah keguguran maka buatlah seakan-akan janin mu masih ada. Jangan katakan jika kau sudah keguguran untuk mengelabuhi nya. Kita ikuti saja permainannya." Saran Gerald.
"Tapi aku tidak mau lagi berurusan dengannya."
"Terserah kau saja, tapi jika dia mencoba mendekatimu lagi jangan katakan apapun tentang kandunganmu."
"Baiklah Tuan Gerald." Ujar Pelangi sembari mengusap wajahnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Devano. Laki-laki itu memang sudah keterlaluan telah mengkhianati dirinya dan juga mengambil semua hartanya. Tetapi, apakah tidak ada sedikit saja rasa perikemanusiaan atas darah dagingnya sendiri sehingga ingin melenyapkannya. Jika saja janinnya masih ada, ia juga tidak akan meminta pertanggungjawaban Devano dan akan mengurus bayi nya sendiri.
"Sudah, sekarang lupakan soal Devano. Sekarang hidangkan lah makanan untukku, aku sudah sangat lapar."
"Astaga Gerald, aku sudah memasak nya dan kau juga minta aku yang hidangkan untukmu? Apa susah nya kau ambil sendiri didalam rantang itu." Ujar Pelangi sembari menunjuk rantang makanan di atas meja.
"Bahkan jika perlu, aku juga akan memintamu untuk menyuapi ku." Kekeh Gerald.
__ADS_1
Membuat Pelangi berdecak kesal, kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk menghidangkan makanan buat Gerald.