Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 41. KITA PASTI AKAN BERTEMU LAGI


__ADS_3

"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" Tanya Pelangi, sedari tadi ia memperhatikan Gerald menatapnya tak biasa. Seperti ada yang kemarahan yang tertahan diwajahnya, jika saja calon suaminya itu tidak tampan pasti akan terlihat menyeramkan.


"Aku cemburu," ujar Gerald dengan ketus yang membuat Pelangi langsung mengerutkan keningnya merasa bingung.


"Cemburu? Cemburu kenapa?"


"Kamu terlalu mengkhawatirkan Devano, dan aku tidak suka! Kamu seperti masih memiliki perasaan padanya." Ujar Gerald.


Dan Pelangi pun langsung terkekeh, "Astaga Gerald, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu. Aku sama sekali enggak...


"Tapi cara kamu khawatir sama dia tadi, itu terlalu berlebihan jika hanya untuk seorang teman." Sahut Gerald memotong ucapan Pelangi.


Pelangi pun terdiam, ia tidak menyangka jika Gerald masih memiliki keraguan padanya. Padahal kini seluruh cinta, hati dan perasaannya telah teralihkan pada calon suaminya itu.


Sementara itu didalam ruang rawat Devano.


.

__ADS_1


.


.


"Gimana rasanya, sakit gak?" Tanya Devi menatap Devano dengan tatapan mengejek. Ia merasa puas melihat laki-laki yang menabraknya itu mengalami kecelakaan dan mendapatkan luka yang lebih banyak darinya.


Devano hanya tersenyum tipis, luka di sekujur tubuhnya membuat terasa kaku bahkan sekedar untuk berbicara. Beberapa saat lalu, saat baru tersadar ia cukup terkejut melihat keberadaan wanita yang habis di tabrak nya itu berada didalam ruang rawatnya. Dan wanita tersebut mengatakan jika dirinya baru saja selesai mendonorkan darah untuknya.


"Gimana ceritanya sih, kamu bisa jadi pendonor darah untuk aku?" Tanya Devano akhirnya, suaranya sangat pelan karena terdapat luka di sekitar mulutnya namun beruntung Devi masih bisa mendengarnya.


"Ceritanya panjang, dan ini semua juga gara-gara kamu yang habis nabrak aku." Ujar Devi tampak acuh.


Devi pun menceritakan bagaimana beberapa saat lalu ia yang berniat kabur dari rumah sakit karena uang yang dimiliki tidak cukup untuk membayar biaya pengobatannya dan pada akhirnya bertemu dengan Pelangi dan Gerald.


"Oke, aku minta maaf karena ternyata uang yang aku kasih itu gak cukup. Tapi kan aku juga kasih kartu nama aku, kamu bisa langsung hubungi aku jika ada masalah." Ujar Devano.


Devi terkekeh, "Emangnya kalau aku hubungi Kamu, bakal kamu respon? Kamu nya aja sekarat gini, aku pikir tadi kamu itu sudah mau mati." Ujarnya tanpa perasaan.

__ADS_1


Namun, bukannya marah Devano malah merasa terhibur dengan sikap cuek wanita itu. Baru kali ini ia bertemu wanita seperti itu, selama ini wanita yang berada di sekelilingnya memiliki sikap lembut seperti Pelangi dan manja seperti Silvi, dan beberapa wanita lainnya suka menggoda ketampanannya. Sepertinya akan menjadi hal baru bila ia bisa berteman dengan wanita itu.


"Oh ya ngomong-ngomong terimakasih karena sudah donor kan darah kamu untuk aku, dan kalau boleh tahu nama kamu siapa biar enak gitu manggilnya?"


"Devi," jawabnya dengan acuh.


"Nama panjangnya?" Tanya Devano


"Perlu ya kamu tahu nama kepanjangan aku?" Devi mendengus kesal, menurutnya laki-laki itu terlalu banyak bicara padahal sedang sakit begitu.


"Ya terserah kamu sih mau kasih tau apa enggak."


"Ya udah, aku mau pamit pulang. Aku udah terlalu lama pergi, nanti ibuku mencari." Ujar Devi kemudian melangkah cepat meninggalkan ruangan Devano.


"Hei tunggu..." Panggil Devano, karena tas wanita itu tertinggal, namun sayangnya Devi telah keluar dan tak mendengar panggilannya.


Devano pun tersenyum, merasa memiliki kesempatan untuk bertemu wanita itu lagi. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia meraih tas Devi yang berada diatas nakas di samping ranjangnya.

__ADS_1


"Lihat saja, kita pasti akan bertemu lagi." Ucapnya sambil menatap tas Devi.


__ADS_2