Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 45.


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, resepsi pernikahan pun telah usai. Dan kini waktunya kedua mempelai untuk beristirahat di kamar pengantin mereka.


Sepanjang langkahnya menuju kamar yang menjadi kamar pengantin nya, Pelangi terus menatap tangannya yang bertautan dengan tangan sang suami. Hingga keduanya sudah berada di dalam kamar, Jantung Pelangi berdegup kencang saat tatapannya tertuju pada susunan kelopak bunga-bunga yang telah tertata rapi di atas ranjang membentuk hati. Padahal sebelumnya susunan kelopak bunga itu tidak ada diatas ranjang. Itu pasti mama mertuanya yang melakukan, pikirnya.


Disaat Pelangi tengah sibuk dengan pemikirannya, dia dikagetkan oleh tangan kekar suaminya yang melingkar indah di pinggangnya.


"Gimana? Kamu suka gak, sama dekorasi kamar pengantin kita?"


Deg... Jantung Pelangi semakin berdegup kencang mendengar kata 'kamar pengantin' yang baru saja diucapkan oleh Gerald.


Jantungnya seakan ingin loncat dari tempatnya, saat Gerald menarik dagunya, dan kini posisi mereka saling berhadapan serta pandangan mata mereka bertemu membuat pipi Pelangi merona karena malu. Meski hal-hal yang menjurus kedalam hubungan badan bukanlah yang pertama bagi Pelangi, namun tetap saja ia merasa gugup bersama Gerald. Karena kali ini ia akan melakukannya dengan laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya. Ada rasa sesal kenapa dulu ia begitu mudahnya terbuai dengan bujuk rayu Devano. Sekarang ia hanya mempersembahkan sebuah mahkota yang telah rusak kepada suaminya.


"Pelangi, apa aku boleh meminta hak ku sekarang?" Tanya Gerald, ia menangkup pipi istrinya itu sambil menatap kedua mata Pelangi dengan penuh harap. Sesungguhnya saat ini ia begitu gugup, namun ia juga sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Tak ada jawaban dari Pelangi, namun ia juga tak menolak perlakuan suaminya saat ini membuat Gerald semakin memberanikan diri melakukan hal lebih meski ia begitu sangat gugup.


Dan kini, Pelangi sudah berada di bawah kungkungan suaminya. Gerald dengan lembut membelai wajah istrinya itu sehingga si pemilik wajah memejamkan mata merasakan gelenyar aneh yang mulai menggerayangi tubuhnya.


Tangan Gerald terus membelai wajah Pelangi perlahan turun mengusap bibir ranum istrinya. Sejenak ia menatap wajah istrinya yang terlihat tegang, namun juga terlihat sangat menikmati sentuhannya.

__ADS_1


Melihat tak ada pergerakan dari istrinya, Gerald semakin memberanikan diri walau detak jantung nya kini kian berdegup kencang karena ini adalah yang pertama untuk nya.


Dan kini ia membawa bibir nya menelusuri setiap inci wajah istrinya. Menghujani wajah itu dengan kecupan yang lembut, dan berhenti pada bibir ranum istrinya.


Dengan gerakan pelan nan lembut, Gerald mulai menyatukan bibir nya dengan Pelangi. Dan tak di sangka istrinya itu membalas


tautan bibirnya.


Dengan bibir yang masih menyatu saling bertukar saliva, Gerald mulai menggerakkan tangan nya menelusuri setiap bagian tubuh Pelangi memberikan sentuhan pada tubuh istrinya itu.


Lenguhan kecil yang terdengar manja berhasil lolos dari bibir Pelangi saat tangan nakal Gerald bergerilya pada dua gunung kembarnya.


Gerald melepas tautan bibir nya, kemudian mengecup kening Pelangi sekilas lalu menatap dengan lekat wajah istrinya itu.


Namun, beberapa saat kemudian, ia mengulum senyum saat Gerald kembali berbisik di telinga nya.


"Aku sangat menginginkan mu sekarang, jadilah istriku seutuhnya. Mari kita saling memanjang tubuh kita." bisik Gerald, kemudian mengecup daun telinga telinga Pelangi sehingga istrinya itu menggelinjang merasa geli.


Dan tanpa di sangka Pelangi pun melakukan hal yang lebih dari pada Gerald. Ia menarik tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat, kemudian juga berbisik.

__ADS_1


"Aku akan memberikan semuanya, asalkan setelah ini Kamu berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku apa pun yang terjadi."


Gerald tersenyum mendengar ucapan Pelangi di telinga nya, ia membalas pelukan istrinya lebih erat.


"Tanpa kau meminta aku untuk berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkan mu, Pelangi, tidak akan pernah." Ucap Gerald dengan suara seraknya, ia sendiri mulai terbakar dengan gairah nya.


Mereka pun melepas pelukan nya. Sejenak saling menatap diiringi senyum di wajah kedua nya. Dan beberapa saat kemudian mereka saling melepas pakaian nya lalu menarik selimut menutupi tubuh polos mereka.


"Maaf..." Ucap Pelangi ketika Gerald hendak melakukan penyatuan.


Gerald pun menghentikan kegiatannya itu lalu menatap istrinya dengan kening mengkerut.


"Maaf untuk apa?" Tanya Gerald.


"Maaf karena bukan Suami ku lah yang mendapatkan mahkota ku." Jawab Pelangi kemudian memalingkan wajahnya.


"Aku menikahi mu karena aku tulus mencintaimu, bukan karena selaput darah. Sudah ya, jangan mengingat masa lalu lagi. Untuk sekarang dan ke depannya hanya akan ada aku, kamu dan anak-anak kita kelak." Ucap Gerald kemudian menempelkan kening nya di kening Pelangi.


"Jangan berbicara lagi, aku sudah tidak tahan." Ucapnya lagi lalu menuntun tangan Pelangi untuk menyentuh bagian bawah nya yang sudah menegang.

__ADS_1


Pelangi terkekeh, paham dengan maksud suaminya, ia pun membuka kedua kakinya, memberi ruang pada suaminya agar lebih leluasa menyatukan diri.


Dan kini didalam kamar itu di penuhi dengan desah*n yang bersahut-sahutan saling berlomba mencari puncak kenikmatan bersama.


__ADS_2