Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
# Episode 7. Berpisah


__ADS_3

*Dimas


Ia berjalan dengan sedikit tergesa keluar dari kantin rumah sakit. Niat awalnya yang ingin makan di sana sebab Erick yang Ia perintahkan membeli makanan terlalu lama di jalan, berakhir dengan rasa tidak enak di hati. Mendadak selera makannya hilang dalam sekejap, berganti dengan rasa yang entah apa namanya. Pemandangan di kantin barusan benar-benar merusak moodnya.


Ya, Ia tak sengaja menyaksikan adegan mesra antara seorang dokter yang Ia ketahui adalah anak pemilik rumah sakit itu dan Inggit si perawat berhijab di sana. Si gadis yang sedang bersedih menangis, lalu si pria dengan lembutnya menyeka air matanya.


Tetiba ada perasaan yang samar tapi cukup bisa Ia kenali, menyusup menyentilnya sedikit membuatnya kesal seketika. Buru-buru Ia menyadarkan dirinya sendiri. Apa yang sedang terjadi padanya. Ia bahkan tidak mengenal gadis itu. Pertemuan mereka pun adalah sesuatu yang sangat tidak di sengaja. Jika saja musibah kehilangan Meisya tidak terjadi Ia pasti tidak akan pernah bertemu dengan perawat itu. Tapi kenapa tiba-tiba hatinya berubah aneh seperti ini?


Ia berjalan bersama prasangka tak beralasannya. Membuat Ia tidak focus dan tak sengaja menabrak seseorang. Dadanya di tabrak sesuatu.


"Aduhh..!"


Ia menunduk hendak melihat jelas siapa yang bersuara mengaduh di depannya. Astaga, perawat itu lagi. Inggit masih menunduk memegang dahinya. Tangannya refleks terulur hendak menyingkap tangan yang menutupi dahi Inggit, tapi tetiba Ia sadar dan buru-buru menarik tangannya kembali memasukkannya dalam saku celana.


"Maaf." Ia berucap datar.


Wajah itu seketika terangkat masih memegang dahinya.


"P-pak Dimas?" gadis itu tergagap dan mundur perlahan membuat jarak.


"Maaf, saya nggak sengaja!" Ia mengulang permintaan maafnya seraya menilik dengan tatapan tajamnya ke arah dahi Inggit.


"I-iya, Pak. Saya yang nggak hati-hati. Nggak liat jalan. Maaf!"


"Masih sakit?"


"Ouh, Ng-nggak. Udah nggak sakit." Inggit menggeleng dan menyingkir memberinya laluan karna sedari tadi meski sudah berjarak tapi keduanya masih saling berhadapan.


"Ehm, siang ini Baby twins pulang." Ia berucap datar, berbasa-basi berharap Inggit menemui anaknya lagi sebelum mereka pulang.


"Ouh, iya, Pak. Semoga si kembar bisa lebih tenang nanti di rumah bersama pengasuh barunya, yah!"


Ia mengangguk seraya mencari kata apa lagi yang hendak Ia gunakan sebagai pancingan. Inggit sepertinya tidak peka dengan apa maksudnya. Gadis tersebut malah seperti hendak meminta diri untuk pergi dari hadapannya. Membuatnya gercep bertanya lagi. Kali ini to the point.


"Ehm, kamu nggak mau liat mereka dulu sebelum pulang?" Ia akhirnya tak tahan untuk terus terang. Seperti tidak ingin kehilangan kesempatan meminta Inggit ke ruang bayinya lagi.


"Hmm, kalau dibolehkan."


"Ikut saya!" Ia berjalan mendahului tanpa menunggu jawaban gadis itu. Entahlah, berhadapan lama dengan Inggit membuatnya seketika kehilangan kesadaran bahwa Ia baru saja kehilangan istri tercintanya.


Ia melangkah dengan penuh karismatik. Beberapa wanita yang mereka lewati tak ayal menatapnya penuh kagum. Tak sedikit dari mereka yang malah menatap sedikit mendamba. Ia jadi sedikit risih dibuatnya.


Ia masuk setelah mengetok pintu. Sejenak semua yang ada di sana menatap keduanya dengan beragam ekspresi. Terutama Mama dan Papa yang menatapnya dengan wajah ingin bertanya.

__ADS_1


"Mari masuk!" Ia menoleh ke belakang melihat Inggit seperti merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Untung Mama orangnya mudah peka dan cepat membaca situasi. Dengan senyum ramah Mama ikut mempersilahkan Inggit masuk.


"Apa Mama sudah tau tentang Inggit?" batinnya bertanya-tanya.


"Trimakasih, Bu!" Inggit menanggapi ajakan Mama seraya mengangguk sopan dan melangkah pelan ke arah box bayi kembarnya.


"Assalaamu'alaikum, sholehah. MaasyaAllah, kalian udah siap-siap mau pulang, yah? Onty suster bakal kangen banget sama kalian nanti. Kalian yang tenang, yah. Jangan rewel sama suster baru nanti trus jangan lupa sama onty suster, yah!"


Inggit berucap lembut seraya mengusap lembut kepala si kembar yang tertutup selimut bayi. Seakan tahu dan kenal jika yang sedang mengelus mereka adalah suster idolanya, kedua bayi itu sontak merengek dengan tangis kecilnya. Seakan merajuk ingin digendong oleh Inggit.


Ia dan semua yang ada di sana malah terdiam ikut menikmati adegan itu. Inggit melihat ke arah mereka semua seperti sedang meminta izin untuk menggendong si kembar. Ia pun mengangguk mengiyakan saat tatapan keduanya bertemu.


Saat sudah dalam dekapan hangat dan nyaman Inggit, si adik yang duluan digendong langsung diam dan tenang. Tak sedikitpun tangisnya terdengar lagi. Ia kian tersugesti bahwa kedua anaknya itu hanya akan tenang jika bersama Inggit.


Tapi kali ini Ia tidak ingin egois. Bagaimana pun sang perawat punya kehidupan sendiri. Ia tidak mungkin, kan, meminta Inggit berhenti dari pekerjaannya dan menjadi baby sitter untuk anak-anaknya?


Inggit tak henti mengajak si kembar berceloteh riang meski tak berbalas. Menasehati si kembar layaknya sedang berbicara dengan anak-anak yang sudah mengerti bahasa.


Setelah merasa cukup dan kedua bayi mungilnya benar-benat kembali terlelap dalam damai, Inggit pun menoleh lagi ke arah mereka semua.


"Si kecil udah tenang lagi. Makasih, yah, Pak, Bu, udah izinin saya mengenal si kembar. Mereka anak-anak pintar dan kuat." Inggit berkata pelan dan sopan.


"Harusnya kami yang terima kasih sama kamu, Nak Inggit. Entah bagaimana jadinya kami jika Nak Inggit tidak bersedia datang semalam." ibu mertuanya menyahut ramah seraya mengusap pelan lengan Inggit.


"Iya, Nak. Makasih banyak, yah, kamu udah mau di sini temenin cucu kami. Saya Mamanya Dimas dan ini Papanya. Maaf. Nak Inggit, saya udah dengar cerita kamu dari besan saya bahwa kamu juga baru dapat musibah. Kami ikut berduka atas kejadian yang menimpa keluarga kamu. Kamu yang sabar, yah!" Mama berucap lembut menimpali .


Di saat semua sedang berbalas sapaan dan ucapan ikut berduka, Ia malah sibuk memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya nanti jika keduanya beneran hanya mau pada perawat tersebut. Apa yang harus Ia perbuat.


Untuk menetralisir kekalutan pikirannya, Ia ikut berucap datar,


"Makasih!"


Singkat, padat dan jelas. Ia memang tak terlalu pandai berbasa-basi seperti yang lain.


Lagi-lagi Inggit hanya mengangguk.


Setelah bincang secukupnya kini saatnya Si kembar pulang. Erick sudah memberi kode jika asistennya itu sudah ada di luar. Mama dan Bu manda menggendong si baby twins. Sementara Ia, entah kenapa kali ini mau saja membantu Erick membawa barang-barang perlengkapan si kembar. Ia tak mengizinkan Papa membawa apapun untuk menjaga kesehatannya.


Inggit masih mengekori mereka hingga sampai di loby rumah sakit. Gadis itu baru masuk kembali setelah mobil mereka bergerak perlahan. Ia memberi kode pada Erick agar membunyikan klakson sekali. Inggit nampak tersenyum di sana. Manis sekali, menurutnya. Tapi pujian itu hanya ada dalam hatinya sendiri. Ia tak ingin siapapun tahu.


**


*Inggit.

__ADS_1


Ia melangkah masuk kembali menuju nurse station. Ia meraba hatinya. Kenapa seperti ada yang hilang lagi. Setelah kemarin Sebagian besar hatinya seakan ikut mati dan terbawa pergi, sekarang rasa itu kembali menyergapnya meski tidak sesakit kemarin.


Tetiba Ia merindukan tangis kedua bayi tersebut. Maniknya seketika memanas tanpa Ia sadari. Ia menyadari satu hal. Ternyata Ia telah jatuh cinta pada dua bayi mungil tersebut. Dalam hati bertanya-tanya, apakah Ia masih bisa bertemu dengan kedua bayi mungil itu lagi?


Tak menemukan jawaban, Ia lalu melantunkan do'a dan asa. Semoga kelak bisa dipertemukan kembali dengan baby twins.


Ia kembali bertugas. Hingga tak terasa sore pun tiba. Saatnya pergantian shift jaga dan Ia sudah boleh pulang. Ia sedang berkemas saat Nadia dan Vita datang menghampirinya lengkap dengan tas siap untuk pulang.


"Gimana, Nggit, udah siap?" Nadia bertanya ramah.


"Udah, kok. Tinggal rapihin doang dikit ini." ucapnya lembut seraya tangannya sibuk merapikan kertas-kertas rekam medis di atas meja.


"Lo bawa kendaraan, Nggit? Kalau nggak kita barengan aja ke rumah kamu pake mobil aku."


"Rangga udah di depan, tuh, kayaknya mau jemput. Kita ketemu di rumah aku aja nanti, yah!" Rangga memang sudah mengirim pesan jika sudah di depan rumah sakit menunggunya.


"Oh, gitu. Ya, udah kita ketemu di sana ntar."


Ia sudah siap dan ketiganya pun keluar menuju parkiran. Benar saja, Rangga sudah menunggunya dengan wajah yang datar seperti biasa. Mungkin masih kesal, pikirnya.


Ia menuju mobil Rangga sementara Nadia dan Vita menuju kendaraannya masing-masing. Nadia dengan mobil pemberian papanya dan Vita setia dengan motor matic kesayangannya. Ya, kondisi ekonomi keduanya rekannya tersebut memang berbeda. Nadia berasal dari keluarga yang cukup berada sedangkan Vita, Ia di sini saja merantau meninggalkan kota kelahirannya, semarang demi mengejar cita-cita.


Ia masuk dan duduk di samping Rangga. Ia berusaha menghindari tatapan Rangga yang Ia tahu sebentar lagi akan berujung pada pertanyaan panjang yang tak ada habisnya. Ia sudah lelah seharian tak ingin berdebat. Ia sudah hafal mati bagaimana Rangga. Ia tidak akan puas dan berhenti hanya dengan penjelasan singkat yang didengarnya.


Beruntung kali ini Rangga sepertinya peka dan memilih ikut diam. Sepanjang jalan keduanya tak banyak bicara. Hanya pertanyaan-pertanyaan basa-basi seperti biasa.


"Gimana, capek?"


"Mau langsung pulang?"


"Banyak pasien nggak hari ini?"


Hingga tak terasa jarak yang sedikit jauh seperti sekejap sudah sampai. Keduanya pun turun dan berjalan beriringan setelah Ia mengucap terima kasih.


Mereka masih di teras saat Nadia dan Vita ikut masuk ke palataran rumahnya. Ia menunggu sampai kedua rekan kerjanya itu tiba di teras dan mereka pun masuk. Ternyata di dalam sudah ada Lola dan yang lain.


Sudah mendengar sepenggal kisahnya semalam yang jadi baby sitter dadakan dari Rangga, tak ayal membuatnya diberondong berbagai pertanyaan keppo dari para sahabatnya.


Ia memilih menceritakan dengan detail. Semua ikut prihatin mendengar kisah menyedihkan dari si kembar. Terlebih Sisil yang memang kadang sedikit lebay.


"Kasian banget, yah, bayi-bayi itu. Kalau papahnya kaya, Gue mau deh jadi mama sambungnya."


Semua yang mendengar malah ingin menyentil keningnya gemas. Masih aja berfikir gesrek di saat-saat seperti ini.

__ADS_1


Malam itu malam tahlilan kedua. Seperti biasa Ia kembali didera sedih yang teramat sangat. Ia kembali berderai air mata membayangkan wajah teduh Mama dan Sikap wibawa dan mengayomi dari sang Papa. Ah, lagi-lagi Ia ingin menyalahkan takdir, tapi bayangan kondisi si kembar yang menurutnya lebih malang darinya membuatnya kembali beristighfar dan berusaha merayu hati untuk mencoba berdamai dengan keadaan.


TBC>>>


__ADS_2