Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 39. KECELAKAAN


__ADS_3

Kedua tangan Devano terkepal erat sembari berjalan dengan langkah cepat memasuki sebuah hotel.


Setelah Gerald mengirimkan foto kemesraan Silvi bersama laki-laki lain, detik itu juga ia meminta seseorang untuk mencari tahu keberadaan mereka. Dan hanya dalam waktu lebih dari satu jam orang suruhannya memberikan informasi jika Silvi dan laki-laki tersebut berada di sebuah hotel.


Ia memang sudah membuat keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Silvi, namun ia juga ingin memberi pelajaran terhadap wanita itu atas pengorbanannya selama ini yang terasa sia-sia.


Dan disini Devano berada sekarang, berdiri didepan sebuah kamar hotel dengan kedua mata memerah serta tangan yang terkepal erat siap melayangkan bogem mentah nya kepada dua orang yang berada didalam kamar tersebut.


Dengan kuat ia mengetuk pintu kamar hotel itu, membuat dua orang didalam sana yang baru saja akan melakukan pemanasan merasa terganggu.


"Biarkan saja, Honey, paling juga petugas housekeeping, nanti juga akan pergi kalau tidak kita bukakan pintu." Ujar Silvi sambil mengusap rahang laki-laki yang kini berada diatasnya.


Laki-laki itupun tersenyum, kemudian hendak mengulang kembali pemanasan nya yang terganggu, namun suara ketukan pintu semakin keras terdengar membuatnya merasa benar-benar kesal.

__ADS_1


"Ini tidak bisa dibiarkan!" Laki-laki itu turun dari atas tubuh Silvi, melangkah cepat kearah pintu dan membukanya.


Bugh...


Seketika ia terhuyung ke belakang ketika baru membuka pintu satu pukulan keras menghantam wajahnya.


Silvi yang berada diatas tempat tidur pun terkejut melihat partner ranjangnya itu terjungkal, baru ia akan turun dari tempat tidur menghampiri namun gerakannya terhenti begitu melihat siapa yang masuk dengan membawa tatapan yang menghunus tajam menatapnya.


"Dev," wajah Silvi seketika pias melihat kedatangan Devano. Bagaimana kekasihnya itu bisa mengetahui keberadaannya di hotel ini.


"Harus kau tahu, Vi, aku sangat merasa bersalah dan menyesal telah mengambil kesucian mu. Tapi hari ini aku sadar, aku hanya laki-laki bodoh yang kau jadikan budak yang bisa kau perintah untuk menuruti semua keinginanmu dengan imbalan bisa menikmati tubuhmu. Tapi ternyata bukan hanya aku," Devano mengarahkan tangannya menunjuk laki-laki yang masih terduduk di lantai sambil menyeka cairan kental berwarna merah di sudut bibirnya.


"Dia dan beberapa laki-laki lainnya mungkin sudah berulangkali kau tarik ke atas ranjangmu. Kau benar-benar menjijikkan, Vi!"

__ADS_1


Silvi membeku di atas tempat tidur, baru kali ini ia melihat tatapan Devano yang begitu mengerikan.


"Dev, dengar dulu penjelasan ku." Silvi hendak menghampiri Devano, namun laki-laki merentangkan tangannya memintanya untuk berhenti.


"Cukup, Vi, aku tidak ingin mendengarkan apapun dari mulut motormu itu. Ternyata keputusan sudah tepat, kau memang tidak pantas untuk dipertahankan."


"Dev, apa maksudmu?"


"Mulai hari ini dan detik ini juga kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"


Setelah mengatakan itu Devano berbalik pergi dari kamar hotel itu, darahnya benar-benar serasa mendidih mengetahui kebusukan Silvi selama ini dibelakangnya. Terlebih melihatnya secara langsung, matanya terasa perih melihat penampilan Silvi dan laki-laki itu yang sudah setengah telanj@ng.


Dengan kecepatan penuh Devano melajukan mobilnya meninggalkan pelataran hotel. Perasaannya campur aduk. Sedih, kecewa dan juga marah bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Entah sadar atau tidak Devano semakin menambah kecepatan laju mobilnya sampai pada persimpangan lampu lalu lintas yang bertepatan di jalur yang dilaluinya lampunya berwarna merah, sementara di jalur lainnya mobil tetap melaju.


Setelah menyadari ia membuat kesalahan, Devano memutar kemudi menghindari mobil box yang melaju dari arah berlawanan, namun sayangnya kecelakaan tak bisa ia elakkan, mobil Devano menghantam pembatas jalan. Dan seketika jalanan menjadi padat karena kecelakaan tunggal itu.


__ADS_2