Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
# Episode 9. Rapuh


__ADS_3

*Dimas


Sejak pagi Ia kembali uring-uringan hari ini. Betapa tidak semalam adalah malam ke sekian Ia tidak tidur gegara ikut turun tangan menangani kedua bayi kembarnya. Seminggu ini entah sudah berapa puluh suster yang gonta-ganti mengurus si kembar tapi tak ada satu pun yang Ia rasa becus. Semuanya tak ada yang bisa diandalkan. Tak ada satu pun yang mampu mengambil hati kedua anaknya tersebut. Ia kembali memarahi dua orang suster yang baru sehari kerja itu.


Hampir setiap saat si kembar rewel yang ditandai dengan tangis melengkingnya yang membuatnya tak tega dan kembali teringat mendiang sang istri. Ia selalu saja berandai-andai jika saja Meisya masih di sisinya, semua ini pasti tak akan terjadi. Kedua bayinya tidak akan merasakan hal semenyedihkan ini.


Lagi-lagi Ia menatap sedih ke arah dua bayi mungil yang tampak masih sesunggukan meski sudah terpejam sebab hampir satu jam keduanya menangis tanpa ada yang tahu cara menanganinya. Mungkin keduanya tertidur karna lelah menangis.


Manik tajamnya kembali berkaca-kaca. Jika sudah seperti ini seisi rumah hanya bisa menatapnya ikut sedih seraya menasehatinya agar tenang dan sabar dalam menghadapi si kecil. Kali ini Ia menyerah. Sepertinya mengikuti saran hampir semua orang untuk menjadikan perawat berhijab di rumah sakit tempo hari, kali ini harus Ia lakukan. Sugesti yang merasuki otaknya benar-benar terjadi. Baby twins benar-benar tidak menyukai siapa pun kecuali si perawat favoritnya.


Ia bertekad kuat hari ini Ia harus menjumpai Inggit. Jika perlu Ia akan menawarkan gaji sepuluh kali lipat dari gaji di rumah sakit tempat Inggit bekerja. Pikiran piciknya yang menganggap Inggit pasti akan menerima tawarannya mengingat saat ini pasti gadis tersebut butuh uang untuk biaya hidup, membuatnya bersemangat. Senyum miringnya tetiba terbersit dari wajah datarnya.


Akhir-akhir ini Papa lebih banyak mengambil alih segala hal urusan kantor sebab melihatnya terlalu sibuk dengan kedua putrinya. Beruntung Erick sang asisten andalan gercep mengetahui kasus kebocoran data perusahaan kemaren, hingga semuanya masih bisa di selesaikan dengan baik. Ia sampai merogoh kocek yang tidak sedikit untuk menyewa seorang ahli IT profesional, menggantikan Yuda yang kini entah di mana rimbanya.


Ia menghubungi Erick sang asisten untuk memberi titah. Apalagi jika bukan menjemput sang perawat sekalian membicarakan segala sesuatunya dengan gadis tersebut.


"Wah, saya nggak yakin, Tuan, gadis itu mau datang. Tuan kan tau sendiri gadis itu kerja di rumah sakit dan sepertinya nona itu juga sangat menyukai pekerjaannya." Erick terdengar menyahut tak semangat di sana.


Ia berdecak dan mode pemaksanya kembali kambuh. Selalu dengan ancaman yang sama, tidak ada gaji, tidak ada cuti atau dipecat. Dan ketiga ancaman tersebut selalu membuat Erick menyerah tanpa syarat dan sudah bisa dipastikan perintahnya akan terlaksana dengan baik.


Ia mematikan panggilan sepihak setelah mendengar Erick mengiyakan. Ia kembali ke kamar bayinya. Dua bayi mungil yang kian hari kian menampakkan copian kecantikan Meisya itu masih terlelap.


"Keluarlah. Saya ingin sendiri bersama bayi-bayi saya." Ia berucap datar memberi perintah kepada dua suster yang sedari tadi berdiri menunduk dengan raut takut di samping ranjang bayi.


"Baik, Tuan."


Tanpa pikir panjang keduanya langsung keluar dan menutup pintu pelan.


Ia berjalan mendekati ranjang si kembar. Rasa iba dan kasian terhadap kedua putri kecilnya itu seketika menyergapnya tanpa ampun. Masih sama seperti hari-hari kemarin, jika sudah di mode ini, Ia hanya bisa menitikkan air mata.


Tak ingin tangis tertahannya membangunkan kedua anaknya, Ia memilih duduk di tepian ranjang besar yang berada di samping tempat tidur si kembar. Duduk menekur dan lagi-lagi menyesali nasib rumah tangganya. Pikirannya melayang-layang entah ke mana. Yang jelas Ia sedikit khawatir jika Erick tidak berhasil membujuk Inggit datang.


Sembari menunggu hasil kerja Erick Ia merebahkan diri di sana. Lamunannya kembali berlari pada bayangan wajah istri yang telah hampir sepuluh hari pergi meninggalkannya. Jika ditanya tentang rindu dan bagaimana hatinya saat ini, sungguh Ia begitu hancur. Tak pernah terbayangkan sebelumnya semua ini akan menimpanya. Sebuah kehilangan terpedih dalam hidupnya dan untuk pertama kalinya.


Ia pernah merasa kehilangan sebelumnya. Kehilangan wanita yang dicintainya yang memilih pria lain ketimbang dirinya. Tapi rasa sakitnya tak bertahan lama, terlebih saat Meisya hadir dalam hidupnya.


Ia memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sedikit pusing. Sungguh saat ini Ia berharap sekali Erick bisa membawa Inggit ke sini. Membayangkan bagaimana lagi keadaan putri-putrinya jika bangun nanti menambah kepeningan kepalanya kian bertambah-tambah.


Lamunannya buyar saat tetiba ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk. Ia mengangkat dan melihat nama Erick tertera di sana. Buru-buru Ia berucap,

__ADS_1


"Hemm, gimana?"


"Sorry, Tuan, saya sudah ke rumah nona Inggit tapi rumah itu sepi nggak ada orang. Saya juga sudah cek ke rumah sakit tapi rekan-rekannya bilang dia sudah dua hari tidak masuk. Hari ini jadwalnya shift malam. Jadi saya harus tunggu malam baru bisa ke sana soalnya nggak ada yang tahu dimana keberadaan nona Inggit saat ini, Tuan!"


"Kamu nggak tanya tetangganya kemana dia pergi?"


"Sudah. Tapi nggak ada yang tahu ke mana nona Inggit pergi."


Ia menghela nafas dan menghembuskannya kasar. Tangannya kembali memijit pelipisnya. Apa yang harus Ia lakukan sekarang. Di mana gadis itu sebenarnya. Apa yang sedang terjadi padanya.


"Ya, udah, saya tunggu info kamu malam ini. Saya nggak mau tau pokoknya malam ini dia harus di sini. Cari dia sampai dapat."


"Saya usahakan, Tuan."


"Hemm!"


Seperti biasa Ia hanya menanggapi dengan deheman. Wajahnya kembali datar dan dingin. Ibu Ririn yang hendak masuk mendadak menghentikan langkah saat mendengar suaranya sedikit keras. Wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu hanya bisa menghela nafas berat. Ia prihatin dengan keadaan anaknya tapi Ia juga tak mampu berbuat apa-apa. Kedua cucunya itu benar-benar tidak bisa ditenangkan oleh siapapun bahkan Ia sendiri, neneknya.


Ia menoleh saat terdengar pintu dibuka seseorang. Ia mendapati wajah teduh sang mama. Ia langsung bangun dan duduk di tepian ranjang.


"Ada apa, sayang?" Mama bertanya lembut seraya ikut duduk di sampingnya.


"Suster itu menghilang, Mah. Erick bilang dia nggak ada di rumah juga di rumah sakit. Gimana nasib si kembar nanti kalau Inggit nggak ditemukan?" Ia kembali rapuh.


Ia seketika tercenung. Terlalu sibuk memikirkan nasib kedua putrinya membuatnya lupa jika Inggit baru saja mendapat musibah besar dalam hidupnya. Kehilangan kedua orang tua sekaligus. Astaga, kenapa Ia bisa lupa.


Ia tetiba merasa tidak pantas jika untuk urusan seurgent dan sepenting ini Ia menyuruh orang lain. Dia yang sedang butuh Inggit. Seharusnya Ia lah yang harus berusaha mencari keberadaan Inggit. Terlebih saat ini gadis tersebut pasti sedang labil.


Tapi kemana Ia harus mencarinya?


"Mah, tolong jagain kembar bentar. Aku ada urusan sedikit di luar." Ia bangkit seketika. Ia bertekad harus menjumpai Inggit segera.


Mama yang melihatnya nampak semangat seperti bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Mama pun mengangguk memberinya semangat dengan senyum lembutnya.


Ia menghubungi Erick dan memberi titah agar kembali saja ke kantor temani Papa lembur. Ia akan menangani sendiri soal Inggit. Ia pun melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


**


*Inggit

__ADS_1


Sudah dua hari Ia tidak masuk kerja. Ia seperti kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup. Cobaan yang datang bertubi-tubi dalam waktu yang hampir bersamaan membuatnya seakan ragu akan kesanggupannya menghadapi itu semua. Meski kadang hati sukses merayunya dengan jargon legend, "badai pasti berlalu!", tapi tetap saja kenyataan selalu menariknya pada pusaran keputusasaan yang tak berujung.


Ia kini benar-benar sendiri. Mang Jaja dan Mbok Darmi tak bisa Ia cegah saat keduanya memilih pulang kampung dengan alasan tidak ingin merepotkannya dengan biaya hidup. Ia memang harus kerja akstra sekarang. Ia harus belajar mandiri mulai sekarang. Belajar melakukan segalanya sendiri. Benar-benar keadaan yang sedikit sulit baginya di awal, mengingat Ia yang selama ini tak pernah tahu urusan rumah. Ia bekerja pun bukanlah pembuktian bahwa Ia mandiri tapi hanya sebagai hobby. Ya, hobby menghadapi dan merawat orang sakit, memberi semangat mereka yang di ambang kematian sebab sakit yang menggerogoti.


Ia masih sangat ingat kemarin Ia adalah gadis manja. Menjadi satu-satunya anak dalam keluarga kecilnya membuatnya total menerima limpahan cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dan, tanpa pernah terbayangkan sebelumnya, tetiba Ia seperti dipaksa menjalani kehidupan yang super keras. Jelas butuh waktu yang tidak sedikit dan ketegaran jiwa yang luar biasa untuk bisa menerimanya dan beradaptasi.


Meski Ia memiliki sahabat-sahabat yang selalu di sisinya dan memberi semangat padanya, bahkan mereka siap membantu dalam hal materi, tapi Ia bukanlah orang yang biasa berpikir aji mumpung. Ia terlalu malu untuk menjadi beban bagi siapapun selama Ia rasa masih bisa berusaha.


Rangga bahkan tak henti menawarkan bantuan padanya sejak pertemuan mereka kemarin setelah kelimpungan mencarinya kemana-mana. Tapi, Ia tolak secara halus. Lagi-lagi dengan alasan tidak mau menjadi beban bagi orang lain.


Ia masih begitu asyik dengan lamunannya di ruang khusus perawat saat tetiba Nadia masuk mencarinya.


"Nggit, Lo baik-baik aja, kan?" Nadia tentu sajana bisa menebak dari raut wajahnya yang sendu.


"Ah, iya, gue baik, kok!" Ia melampirkan senyum ramahnya mencoba menutupi.


"Syukurlah. Oh, iya, ada yang nyariin lo, tuh, di depan."


"Hah, siapa?"


"Kalau nggak salah liat, sih, papanya baby twins yang kemaren itu."


"Nyariin gue? Jangan-jangan baby twins sakit lagi." ujarnya seraya berdiri hendak keluar.


"Kayaknya nggak, deh. Kalau sakit paling dibawa kesini."


"Iya juga, sih. Ya, udah, gue temuin dulu orangnya."


"Hati-hati, Nggit. Orangnya galak. Ih, sereem gue jadi inget waktu baby twins masih di sini."


Ia hanya mengulas senyum tipis. Keduanya berjalan beriringan dan berpisah di ujung koridor. Nadia hendak melanjutkan tugas jaga sementara Ia melanjutkan berjalan menuju nurse station di mana si pemanggil berada sesuai info dari Nadia.


Dari jauh Ia sudah bisa melihat orang yang dimaksud. Pria bertubuh atletis dengan outfit casual tapi tetap berkelas sedang duduk menunduk di kursi tunggu di sana.


Pria tersebut tidak menyadari kehadirannya entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia sampai harus berdehem memberi isyarat keberadaannya. Dimas langsung tersadar dan berdiri kikuk menatapnya sedikit menunduk sebab Ia memang sedikit lebih pendek dari pria itu.


"M-maaf saya mengganggu aktifitas kamu. Saya boleh minta waktunya sedikit kalau kamu nggak sibuk?" manik elang itu tak henti menatapnya, membuatnya memilih menunduk menghindar.


Ia mengangguk sebagai tanda setuju.

__ADS_1


"Tapi maaf, saya nggak bisa lama soalnya lagi tugas jaga."


Dimas setuju dan mengajaknya bicara di luar. Pilihannya sebuah cafe yang bersebelahan dengan rumah sakit. Keduanya berjalan beriringan saling diam.


__ADS_2