Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 29. MEMANAS-MANASI


__ADS_3

"Om, terima kasih banyak karena sudah membebaskan aku." Ujar Devano, saat ini ia sudah berada diluar kantor polisi bersama papanya Gerald.


"Saya harap kamu tidak mengingkari kepercayaan Pelangi kali ini. Dan saya ingatkan juga, jangan pernah kamu berpikir untuk menganggu hubungan Pelangi dan Gerald." Papa berbicara dengan formal, sejujurnya papa masih sangat geram dengan pria dihadapannya ini. Devano bukan saja telah merusak kehidupan Pelangi, tetapi juga pernah membuat putranya mengalami kesakitan karena dikhianati Silvi karena dirinya. Dan sekarang Silvi mencoba merusak hubungan Pelangi dan Gerald.


"Iya, Om. Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Untuk menebus semua kesalahanku pada Pelangi, aku akan membantu hingga peristiwa kecelakaan yang menewaskan orangtuanya Pelangi segera terungkap dan pelakunya segera ditangkap." Devano benar-benar tulus ingin membantu, tidak perduli jika yang akan ia hadapi adalah papa kekasihnya sendiri. Selama berada dalam tahanan ia sudah menyadari semua kesalahannya dan akan menebusnya dengan cara apapun.


Devano pun tidak menyangka jika papanya Silvi bisa sekejam itu. Dengan tega menghilangkan nyawa seseorang demi tidak ingin tersaingi dalam dunia bisnis.


"Dan untuk Silvi, Om tenang saja. Aku tidak akan membiarkannya mengganggu Pelangi dan Gerald." Ujar Devano, ia begitu geramnya saat tahu Silvi mencoba merusak hubungan Pelangi dan Gerald. Apa sebenarnya yang diinginkan wanita itu? Selama ini ia sudah menuruti semua keinginannya.


"Semoga ucapanmu dapat dipercaya, karena jika tidak kamu akan tahu akibatnya." Setelah mengatakan kalimat bak ancaman itu papa pun pergi meninggalkan Devano.


.


.


.

__ADS_1


Keesokan harinya...


"Apa Papa yang sudah membebaskan Devano dari penjara?" Tanya Gerald yang baru saja tiba diruang keluarga dimana papa dan mamanya sedang bersantai.


Beberapa saat lalu, saat diperjalanan menuju kantor ia tak sengaja melihat Devano di lampu merah. Kebetulan mobilnya dan mobil Devano berdampingan, ia sangat terkejut saat menurunkan kaca mobil bersamaan dengan Devano yang juga membuka kaca mobilnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memutar balik mobilnya pulang kerumah.


"Iya," jawab papa singkat tanpa mengalihkan tatapannya dari koran yang dibacanya.


"Kenapa, Pa? Harus nya Devano itu dihukum atas perbuatannya pada Pelangi."


"Tapi Pelangi sendiri kok yang minta Papa buat bebasin Devano. Pelangi bilang, Devano sudah menyadari semua kesalahannya dan Pelangi juga bilang kalau Devano itu sebenarnya tidak jahat. Ya jadi Papa pikir tidak ada salahnya juga memaafkan Devano, Tuhan saja maha pemaaf kok." Papa mengangkat sedikit koran nya menutupi wajah. Ia menahan tawa dibalik koran, Gerald pasti sudah kebakaran jenggot saat ini dan ia memang sengaja memanas-manasi putranya itu.


"Papa iseng banget sih ngerjain anak sendiri." Mama menepuk pelan pundak suaminya sambil tertawa setelah Gerald telah pergi.


"Lagian jadi laki-laki kok bego banget sih, gak ada pintar-pintar nya kayak Papa." Tawa yang sedari tadi papa tahan akhirnya meletup juga.


"Iya, Papa memang the best." Mama mengacungkan dua jempolnya, ia mengakui kepintaran sang suami. Papa memang terlihat lebih banyak diam, tetapi selalu memikirkan dengan matang setiap permasalahan sebelum mengambil tindakan.

__ADS_1


.


.


.


Setelah berkendara sekitar lima belas menit, Gerald pun telah sampai di perusahaan Pelangi.


Melihat satpam yang berjaga ia mengurungkan niatnya untuk langsung masuk karena pasti satpam itu mencegahnya untuk masuk dan akan terjadi keributan jika ia memaksa masuk seperti kemarin.


Dengan mengendap-endap, Gerald menyentuh satu persatu mobil yang berjejer di parkiran sampai salah satu diantara mobil yang berjejer itu berbunyi alarm nya membuat satpam yang berjaga segera berlari untuk memeriksa.


Begitu satpam meninggal tempat, Gerald langsung berlari memasuki perusahaan hingga ia sampai ke ruangan Pelangi.


"Gerald apa-apaan kamu." Pelangi yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting, terkejut ketika tiba-tiba saja Gerald masuk dan menutup pintu ruangannya dengan cukup keras.


Dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal karena berlari, Gerald melangkah menghampiri Pelangi dan berdiri didepan meja kerjanya sambil mengatur nafas.

__ADS_1


"Pelangi, kamu...


__ADS_2