Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 47.


__ADS_3

"Hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Devi. Gadis itu menatap lelaki didepannya dengan lekat.


Membuat Devano nampak sedikit gugup karena tatapannya itu. Padahal ini bukanlah pertama kalinya ia berhadapan dengan seorang wanita.


Untuk beberapa saat Devano masih terdiam, mencoba menetralkan rasa gugupnya sekaligus menyusun kalimat yang akan ia utarakan pada Devi.


"Em, Devi... Aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pasangan ku?" Tanya Devano. Setelah mengucapkan kalimat itu ia mengatupkan bibirnya dengan rapat, namun tatapannya menatap Devi dengan penuh harap.


Sementara Devi tercengang mendengar penuturan Devano. Bagaimana tidak, seumur-umur baru kali ini ada lelaki yang mengatakan suka padanya. Selama ini setiap lelaki yang dekat dengannya hanya memandangnya dengan sebelah mata lantaran status nya yang berasal dari keluarga sederhana. Sudah tak memiliki Ayah dan hanya seorang penjual bunga.


"Barusan kamu nembak aku?" Tanya Devi dengan ekspresi terkejutnya.


"Iya." Jawab Devano terdengar santai. Padahal ia sangat gugup saat ini. Ada rasa khawatir jika Devi menolaknya.


"Gimana, Devi?" Tanya Devano, karena Devi hanya diam saja.


"Gimana apanya?" Devi balik bertanya.


"Kamu mau gak jadi pasangan aku?'' Tanya Devano lagi dan kali ini ia sudah mulai bisa mengurai rasa gugupnya.


"Kok gitu sih cara nembak nya? Gak ada romantis romantisnya. Ulang!" Ucap Devi.

__ADS_1


Dan kali ini Devano yang dibuat tercengang. Ia pikir Devi akan menolaknya, atau mungkin sama gugupnya dengan dirinya. Tapi ternyata...


"Huh, emang kamu maunya gimana? Gak mungkin kan aku harus pakai pengumuman kayak upacara bendera, kan gak lucu." Kata Devano.


Devi pun menjadi cemberut dibuat nya. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada lalu memutar tubuh membelakangi Devano.


"Ya udah, mendingan sekarang kamu pulang aja deh. Sebentar lagi aku juga mau pergi anterin pesanan pelanggan." Ujar Devi.


Mendengar itu, dengan cepat Devano melangkah maju dan berdiri tepat dihadapan Devi.


Devano tidak mengerti dengan dirinya saat ini, entah kemana sikap romantisnya itu. Pelangi dan Silvi saja mampu ia taklukkan karena sikap romantis nya. Namun, entah kenapa saat berhadapan dengan Devi ia menjadi gugup dan kaku seperti ini.


"Maaf kalau caraku sama sekali tidak romantis. Tapi aku benar-benar serius dengan ucapanku tadi. Seandainya kamu mau, aku tidak hanya ingin kita menjadi sepasang kekasih. Tapi... Aku mau kita meresmikan hubungan seperti Pelangi dan juga Gerald." Setelah mengucapkan kalimat panjang lebar nya itu Devano nampak menghela nafas panjang. Ia seperti baru pertama kali menghadapi seorang wanita.


"Maksud nya, menikah gitu?" Tanya nya dengan nada pelan.


"Iya. Bahkan jika perlu sekarang juga aku akan datang ke rumahmu. Bertemu Ibu mu untuk melamar kamu."


Jawaban mantap yang diberikan Devano, membuat Devi tidak bisa berkata-kata lagi. Gadis itu membeku ditempatnya berdiri. Padahal tadi ia hanya sedang mengerjai Devano, namun ternyata laki-laki itu benar-benar serius dengan ucapannya.


"Dev, jangan bercanda. Itu gak lucu."

__ADS_1


"Aku gak bercanda, Devi. Kalau kamu tidak percaya, sekarang juga ayo kita ke rumah kamu." Devano menarik tangan Devi menuju mobilnya.


"Iya Dev, tapi aku harus membereskan Bunga-Bunga ku dulu." Devi berusaha melepas tangannya dari genggaman Devano.


Tapi Devano tak membiarkannya terlepas. Ia menghentikan langkahnya lalu menatap ke sekeliling, melihat orang-orang yang berlalu lalang di sana.


"Dengar Devi, kalau kamu nanti sudah menjadi Istriku, aku tidak akan membiarkanmu untuk berjualan Bunga lagi."


Devano pun kembali melempar pandangan ke sekeliling nya, kemudian berteriak.


"Hei kalian semua. Ayo silahkan ambil Bunga gratis sesuka kalian. Kalau perlu ambil semuanya jangan sampai ada yang tersisa!"


Sontak saja orang-orang yang berlalu lalang di sana langsung berhambur berlari menuju kedai bunga Devi. Tak ketinggalan muda-mudi yang menggunakan kesempatan ini untuk memberikan bunga pada pasangan mereka. Bahkan beberapa pengendara bermotor pun ikut mampir mengambil bunga.


Devi hanya bisa melongo melihat kedai bunga nya kini sudah kosong. Tak ada setangkai bunga pun yang tersisa.


"Dev, ini gak lucu ya. Kamu udah buat aku bangkrut!'' Devi melempar tatapan tajam pada Devano.


"Siapa bilang kamu bangkrut. Yang tadi itu kamu sedang menanam modal yang akan sangat menguntungkan untukmu. Sekarang ayo aku perlihatkan hasilnya." Tanpa ingin mendengar perkataan Devi lagi, Devano langsung saja menarik tangan gadis itu menuju mobilnya.


Kini Devi bagaikan patung yang menurut saja dengan Devano, bahkan ketika laki-laki itu memasang seat belt ditubuhnya ia tidak bergerak sedikitpun.

__ADS_1


"Huh, deg-degan juga ya mau ketemu calon Ibu mertua." Devano menggosok-gosok kedua telapak tangannya, kemudian segera melajukan mobilnya menuju rumah Devi.


'Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam.' Ucap Devi dalam hati.


__ADS_2