
Gerald sudah tampak gusar melihat Pelangi yang hanya diam saja, khawatir jika Pelangi akan menolaknya. Laki-laki itupun menarik Pelangi masuk kedalam apartemen karena tidak enak diperhatikan oleh beberapa penghuni apartemen lainnya yang lewat.
Di ruang tamu, Gerald dan Pelangi duduk berhadapan dalam keheningan. Hingga beberapa saat kemudian Gerald kembali bersuara.
"Pelangi, aku tahu hal yang paling sulit dalam mencintai, adalah memulainya. Terutama membuka hati, setelah membereskan yang lama. Kenangan dengan pasangan memang tidak bisa dengan mudah hilang. Tapi tidak ada salahnya jika kita ingin memulai hubungan yang baru. Pelangi, ayo kita saling mengisi memberi warna pada kehidupan kita." Gerald menatap Pelang dengan penuh permohonan, sementara yang di tatap masih betah mengatup rapat bibirnya.
Pelangi bukannya tidak mau menerima Gerald, hanya saja ia benar-benar merasa tak pantas untuk Gerald.
"Baiklah Pelangi jika kamu tidak mau menerima aku, tapi aku mohon setidaknya katakanlah sesuatu. Tapi jika alasan kamu menolak aku karena statusmu, jangan katakan itu. Karena sebelumnya aku sudah mengatakan akan menerima kamu apa adanya, aku tidak perduli dengan apapun masa lalu mu."
Kedua mata Pelangi berkaca-kaca menatap Gerald, ia tahu apa yang diucapkan laki-laki itu tulus. Namun, kata 'tak pantas' itu masih saja bersemayam dihatinya.
"Gerald, akan sangat tidak adil jika laki-laki sebaik kamu mendapatkan wanita seperti aku. Kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari pada aku." Pelangi masih mempertahankan ego nya untuk tidak terpengaruh dengan ketulusan Gerald.
"Tidak Pelangi, yang aku mau hanya kamu. Selama ini aku sudah mencoba membebaskan hati setelah dikhianati, tapi tidak sekalipun aku pernah merasa tertarik atau bahkan hanya sekedar suka pada setiap wanita yang dekat denganku. Tapi dengan Kamu, aku merasa telah menemukan kembali jati diriku yang hilang."
Pelangi masih dengan setia menutup rapat mulutnya, sehingga Gerald pun beringsut turun dari tempat duduknya lalu bersimpuh dihadapan Pelangi. Mengatupkan kedua tangan serta menatap wanita itu dengan penuh permohonan.
"Gerald, aku mohon jangan seperti ini. Jangan merendahkan harga dirimu hanya karena wanita seperti aku." Pelangi pun turun dari tempat duduknya, mencoba menyuruh Gerald untuk berdiri, namun laki-laki itu sedikit pun tidak mau bergerak dari posisinya.
"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memberikan jawaban. Tapi aku berharap kamu mau menerima aku. Pelangi, hanya dengan kamu aku seperti ini, dengan Silvi saja yang sudah hampir bertunangan aku tidak pernah seperti ini padanya. Jangan tanya kenapa karena aku juga tidak tidak tahu."
Pelangi kembali duduk ditempatnya semula sembari terus menatap Gerald yang masih bersimpuh. Ia hampir tidak mempercayai dengan apa yang dilakukan Gerald saat ini. Padahal, laki-laki seperti Gerald akan dengan mudah mendapatkan wanita yang dia inginkan diluar sana, namun kenapa malah dirinya yang menjadi pilihan laki-laki itu.
Setelah beberapa saat berpikir, Pelangi pun meminta Gerald untuk kembali duduk ditempatnya dan mengatakan akan memberikan jawaban.
Dengan cepat Gerald bangkit, ia bukannya kembali duduk ditempatnya semula melainkan mendudukkan tubuhnya di samping Pelangi.
Meski khawatir Pelangi akan menolaknya, namun laki-laki itu tetap memasang senyum terbaiknya.
"Gerald, A-ku," Pelangi menjeda kalimatnya sembari menarik nafas panjang kemudian menghelanya dengan perlahan. "Aku mau." Lanjutnya yang membuat senyum diwajah Gerald semakin mengembang.
"Pelangi, aku tidak salah dengar kan? Kamu mau terima aku?" Tanya Gerald dengan sumringah.
Pelangi hanya mengangguk sebagai jawabannya. Namun itu sudah sangat cukup bagi Gerald.
"Pelangi, terima kasih. Aku sangat bahagia." Wajah tampannya semakin terlihat tampan dihiasi senyum penuh kebahagiaan itu.
__ADS_1
Gerald sudah merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Pelangi, namun ia urungkan ketika mengingat selama ini ia tidak pernah sedekat itu dengan wanita. Dulu dengan Silvi saja yang calon tunangannya, ia merasa risih saat wanita itu bergelayut manja di lengannya.
"Kenapa?" Tanya Pelangi, karena Gerald menarik kembali kedua tangannya serta menggeser duduknya sedikit menjauh.
"Tidak apa-apa, tadinya aku ingin memelukmu tapi tidak jadi. Aku takut khilaf." Jawab Gerald sambil tersenyum kikuk. Karena terlalu bahagia Pelangi menerima dirinya, ia sampai lupa jika selama ini ia selalu memegang teguh prinsipnya bahwa tak akan menyentuh wanita sebelum halal, bahkan sekedar berpelukan saja.
Pelangi yang sedari tadi merasa tegang, kini merasa terhibur dengan ucapan Gerald. Wajah yang tadinya terlihat datar, kini dihiasi senyum tipis. Benar-benar laki-laki idaman batinnya.
"Pelangi, aku pamit pulang dulu ya. Tapi besok kau harus bersiap karena aku akan menjemputmu. Aku ingin memperkenalkan mu dengan Papa dan Mama ku." Ujar Gerald.
Pelangi nampak terkejut, "A-pa? Gerald, apa tidak terlalu cepat untuk memperkenalkan aku dengan orangtuamu? Bahkan kita belum satu hari jadian."
"Hem, iya. Seharusnya aku tadi bukan menembak mu, tapi langsung melamar mu saja." Kekeh Gerald. "Sudah, tidak usah protes. Pokoknya aku mau besok kamu dandan yang cantik."
Gerald meletakkan jari telunjuknya di bibir ketika Pelangi hendak mengatakan sesuatu. Kemudian laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya.
"Aku pulang, jangan lupa besok dandan yang cantik, jam 8 aku jemput kamu." Gerald pun segera mengayun langkah keluar dari apartemen itu tanpa mau mendengar penolakan Pelangi.
Sepanjang jalan senyum tak lepas menghiasi wajah tampannya. Hingga setelah sampai di rumah senyum itu semakin mengembang diwajahnya, membuat kedua orangtuanya bertanya-tanya ada apa dengan putranya itu? Apakah sehabis menang tender?
.
.
.
Lebih cepat dari yang dikatakan Gerald, laki-laki itu telah sampai di apartemen Pelangi pada pukul 6:30. Sementara si penghuni apartemen masih sibuk berkutat dengan peralatan make didalam kamarnya.
Gerald dengan tak sabar menunggu Pelangi di ruang tamu. Menurutnya pukul delapan terlalu lama untuk membawa Pelangi bertemu mama dan papanya.
Setengah jam kemudian, Pelangi pun telah selesai dengan ritual dandannya kemudian menghampiri Gerald di ruang tamu.
Gerald sontak berdiri dari tempat duduknya melihat penampilan Pelangi yang diluar ekspektasi nya. Padahal ia sudah memperingati wanita itu untuk berdandan cantik dan tentunya juga memakai gaun yang cantik. Namun, apa yang dipakai oleh Pelangi saat ini tidak ada bedanya dengan pakaian yang dikenakannya setia hari ke kantor.
"Pelangi, kita bukan mau pergi ke kantor tapi aku akan membawamu bertemu orangtuaku. Tapi kenapa kamu berpakaian seperti ini?"
"Hei Tuan Gerald, apa kau lupa jika aku ini hanya seorang gelandangan yang menumpang hidup denganmu. Aku tidak mampu membeli gaun mahal seperti yang kau inginkan."
__ADS_1
Gerald terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ah kenapa ia bisa sampai melupakan itu. Seharusnya kemarin ia membawa Pelangi untuk membeli gaun.
"Ya sudah, kalau begitu kita pergi beli gaun dulu." Ajak Gerald, namun Pelangi menolaknya.
"Tidak usah, aku bertemu dengan orangtuamu seperti ini saja atau tidak sama sekali."
Gerald pun tidak punya pilihan selain menyetujui keinginan Pelangi. Ia tidak ingin terlalu lama menjalin hubungan dengan Pelangi tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ia yakin mama dan papanya akan merestui pilihannya kali ini.
.
.
.
Setelah mobil Gerald telah terparkir di pelataran rumahnya, laki-laki itu bergegas turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil disamping Pelangi. Ia mengulurkan tangannya menyambut wanita itu turun dari mobil.
Ketika akan melangkah masuk, kening Gerald mengerut melihat pintu rumahnya terbuka lebar tidak seperti biasanya. Iapun mengedarkan pandangannya, dan ketika melihat dua mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya iapun mengerti jika orangtuanya sedang kedatangan tamu.
Melihat Pelangi yang nampak tegang, iapun menggenggam tangan wanita itu kemudian menggeleng pelan seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Mereka berdua beriringan melangkah masuk dengan tangan saling bertautan.
Saat akan mencapai ruang tamu, Pelangi menarik tangannya dari genggaman Gerald ketika melihat seorang wanita paruh baya berjalan kearah mereka.
"Gerald, akhirnya kamu pulang juga. Kita udah dari tadi nungguin kamu." Ucap mama sambil tersenyum, kemudian melirik sekilas wanita disamping putranya tanpa berniat untuk bertanya, karena jika dilihat dari penampilannya mama tahu jika wanita itu adalah sekertaris Gerald.
"Ma, kenalin ini Pelangi. Dia...
"Iya, Mama tahu dia sekertaris kamu kan?" Sela mama kemudian kembali menatap Pelangi. Oh ya, karena kamu ada disini Tante sekalian minta tolong ya, bantuin bibi di dapur yang sedang menyiapkan jamuan untuk keluarga calon istrinya Gerald.
Baik Gerald maupun Pelangi sama-sama terkejut mendengar ucapan mama.
"Apa Ma, calon Istri? Apa maksudnya Mama?" Tanya Gerald dengan ekspresi terkejutnya, ia menoleh menatap Pelangi yang sudah menundukkan kepalanya.
"Iya Gerald, kamu masih ingat kan sama Zahra anaknya Pak Handoko? Teman kuliah kamu dulu. Sekarang dia udah balik dari luar Negeri dan apa kamu tahu? Sekarang Zahra sudah jadi pengusaha sukses. Ayo temui dia pasti kamu akan pangling lihat penampilannya sekarang, Zahra tambah cantik aja." Ucap mama panjang lebar.
"Ma, apa maksud semua ini?"
"Gerald, Mama berniat mau menjodohkan kamu dengan Zahra. Sudah seharusnya kamu mencari pengganti si pengkhianat itu dan kali ini Mama mau kamu menikah dengan pilihan Mama."
__ADS_1
Pelangi yang mendengar ucapan mamanya Gerald, merasakan dadanya benar-benar sesak. Padahal semalaman panjang ia sudah bernegosiasi pada hatinya untuk bisa menerima Gerald dan melupakan masa lalunya. Namun, apa yang ia dapati hari ini membuatnya kembali merasakan sakit mendengar laki-laki yang baru kemarin memintanya menjadi kekasih, hari ini akan dijodohkan dengan wanita lain.