Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 34. PENANGKAPAN


__ADS_3

Keesokan harinya...


Di sebuah cafe, Pelangi, Gerald dan Devano beserta kedua orangtuanya Gerald sedang menikmati makan siang bersama namun, bukan hanya sekedar makan siang tetapi juga untuk membahas tentang kasus kecelakaan orangtuanya Pelangi.


Hari ini mereka sudah memutuskan untuk meringkus papanya Silvi yang menjadi tersangka utamanya. Dari bukti rekaman video yang diberikan Devano sudah sangat cukup untuk dijadikan bukti melihat isi rekaman yang begitu jelas dari suara maupun gambar. Dan tentu juga membutuhkan Devano sendiri untuk dijadikan saksi yang mendengar rencana pembunuhan berencana tersebut.


"Apa kau benar sudah yakin ingin bersaksi melawan calon mertuamu sendiri?" Tanya papa pada Devano.


"Iya, Om." Jawab Devano dengan mantap sembari menganggukkan kepalanya.


Devano tidak perduli apapun resikonya, ia hanya ingin membantu Pelangi demi memperbaiki kesalahannya dengan mendapatkan keadilan atas meninggalnya kedua orangtua Pelangi yang disengaja.


Usai makan siang bersama, Devano, Pelangi dan Gerald langsung menuju kantor polisi untuk membuat laporan sekaligus menyerahkan bukti rekaman.


Sementara itu, papa dan mama mendatangi kediaman orangtunya Silvi yang tentunya itu mengejutkan bagi papanya Silvi karena sekian lama setelah batalnya pertunangan Silvi dan Gerald, mereka baru bertemu lagi.


"Wah, ada angin apa Tuan dan Nyonya Argantara tiba-tiba datang berkunjung di kediaman saya?" Ucap pak Handoko, papanya Silvi. Dengan gaya angkuhnya ia duduk sambil mengibaskan sebelah tangannya ke sekeliling seolah menunjukkan betapa luas kediamannya.


Papa dan mama hanya tersenyum, tanpa dipersilahkan duduk mereka berdua langsung saja duduk di sofa yang berhadapan dengan mantan calon besannya itu, dengan gaya yang tak kalah angkuhnya. Perusahaan Handoko memang besar tetapi belum sebanding dengan perusahaannya yang kini dikelolah oleh Gerald.


"Saya heran dengan Silvi, dia itu punya orangtua yang sangat kaya. Rumah yang mewah dan perusahaan yang besar. Tapi kenapa malah memilih untuk tinggal di apartemen dan menjadi sekertaris di perusahaan orang lain." Ujar papa.

__ADS_1


"Bukan hanya itu, Pa, tapi juga menjadi simpanan bosnya sendiri." Sambung mama menambahi sambil menahan senyum.


Membuat papanya Silvi mengepalkan kedua tangannya serta menatap tajam kedua orang yang duduk didepannya itu.


"Jadi kalian datang kemari hanya untuk menghina anak saya!" Geramnya.


Papa dan mama malah terkekeh melihat kemarahan diwajah mantan calon besannya itu.


"Kami tidak menghina karena memang begitulah kenyataannya, untung saja Gerald cepat mengetahui kebusukannya jika tidak? Entah bagaimana nasibnya menikahi wanita bekasan laki-laki lain." Cetus mama, dengan menatap remeh laki-laki didepannya itu.


"Jaga bicara kalian!" Bentak papanya Silvi seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Sebaiknya kalian berdua pergi dari sini, sekarang juga!" Sergahnya sambil menunjuk kearah pintu.


Bertepatan dengan itu Devano datang yang membuatnya papanya Silvi tersenyum dan segera menghampiri calon menantunya itu.


"Untunglah kau datang, Dev, sekarang tolong kau usir dua orang itu." Ucapnya dengan menunjuk kearah papa dan mamanya Gerald.


Namun, Devano bergeming, laki-laki itu menarik sudut bibirnya tersenyum miring.


"Maaf, Om, aku kesini bukan untuk mematuhi perintah Om, tapi untuk menyeret Om ke pihak yang berwajib." Ujar Devano.

__ADS_1


"Dev, apa maksud kamu?"


Devano tak menjawab, ia bertepuk tangan dan tak lama kemudian beberapa orang polisi pun masuk bersama Gerald dan juga Pelangi.


"Pak, dia adalah orangnya. Orang yang sudah merencanakan kecelakaan yang dialami oleh Pak Hanif dan istrinya." Ujar Devano pada polisi, sembari menunjuk papanya Silvi.


Dua orang polisi pun langsung maju mengapit papanya Silvi.


"Pak, ini pasti salah, apa yang dikatakan Devano tidak benar."


"Anda bisa jelaskan nanti di kantor polisi." Ujar salah satu polisi tersebut kemudian menggiring papanya Silvi keluarga menuju mobil tahanan.


Papanya Silvi menoleh menatap Devano dengan tajam, ia tidak menyangka jika calon menantunya itu bisa menusuknya dari belakang. Dan dari mana Devano bisa mengetahui rencananya itu?


Setelah mobil polisi yang membawa papanya Silvi telah berlalu, Pelangi mendekati Devano yang terus menatap laju mobil polisi itu hingga menjauh.


"Dev, terima kasih sudah membantuku mendapatkan keadilan untuk orangtuaku." Ujar Pelangi.


Devano tersenyum, "Tidak perlu berterima kasih, Pelangi. Apa yang aku lakukan ini belum ada apa-apanya atas apa yang sudah aku perbuat padamu."


Pelangi pun tersenyum. "Sudahlah, Dev, tidak perlu mengingat masa lalu lagi. Aku sudah melupakannya dan sekarang aku sudah bahagia," ujarnya lalu menoleh menatap Gerald yang nampak tersenyum padanya. "Dan aku harap, kau juga bisa merubah kehidupanmu menjadi yang lebih baik lagi. Jangan sampai kau mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya, kau mengerti maksud ku kan?"

__ADS_1


Devano mengangguk, ia mengerti apa yang dimaksud Pelangi dan itu adalah tentang Silvi. Namun, kini ia memiliki kebimbangan dalam hatinya mengenai Silvi, maka dari itu ia membutuhkan bantuan Gerald.


__ADS_2