
Beberapa jam telah terlewati, namun suasana ruangan tempat acara pernikahan Gerald dan Pelangi berlangsung masih saja ramai seolah para tamu undangan enggan untuk meninggalkan acara pernikahan ini, membuat Gerald merasa kesal karena sudah merasa gerah dengan baju pengantin yang dipakainya.
"Sabar," bisik Pelangi yang memahami gerak-gerik suami nya, walaupun ia juga sudah merasa gerah namun ia tetap berusaha terlihat biasa saja untuk menghormati para tamu undangan yang sebagian besar adalah rekan bisnisnya dan juga Gerald.
Gerald hanya tersenyum menanggapi bisikan Istri nya, hingga tatapan nya tertuju pada sosok yang berdiri di sudut aula dengan terus menatap kearahnya dan Pelangi.
Devano tak lepas menatap sepasang pengantin baru itu dengan tatapan sendu. Namun, dalam hatinya ia turut merasa senang melihat kebahagiaan terpancar di wajah Pelangi. Kini mantannya itu telah menemukan tambatan hati yang akan menjaganya dengan sepenuh hati, dan tentunya akan mencintai dengan segenap jiwa raganya. Tidak seperti ia yang hanya memberikan luka.
Acara berlangsung dengan meriah nya. Beberapa tamu undangan yang merupakan rekan bisnis kedua mempelai naik ke atas pelaminan untuk sesi berfoto bersama kedua mempelai, dan juga mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru itu. Hingga tiba giliran Devano yang datang memberi selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat ya Gerald dan Pelangi, semoga kalian selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan, dan segera di beri momongan." Ucap Devano dengan tulus, namun entah kenapa sedikit ada rasa sesak di dadanya saat mengatakan itu.
Gerald dan Pelangi saling melirik kemudian tersenyum kepada Devano.
"Terima kasih atas doanya. Dan terima kasih juga telah hadir di acara berbahagia kami. Aku doakan semoga kamu juga segera menemukan kebahagiaan kamu sendiri bersama wanita yang tepat." Ujar Gerald.
Devano pun tersenyum, dalam hati ia mengaminkan doa Gerald untuknya. Ia juga berharap suatu saat nanti menemukan wanita yang tulus mencintainya, dan iapun juga akan tulus mencintai serta menjaga segenap jiwa raganya. Ia berjanji akan serius menjalin hubungan kali ini dan tidak akan bermain-main lagi, seperti yang pernah diperingati oleh Pelangi bahwa ia harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terutama dalam menghargai suatu hubungan.
__ADS_1
"Terimakasih juga doanya, kalau begitu aku pamit pergi dulu karena sebentar lagi aku ada meeting." Ujar Devano. setelah memberikan kado pernikahan kepada Gerald dan Pelangi iapun segera pergi.
.
.
.
Setelah berada di pelataran hotel, Devano tak langsung pergi. Ia membawa dirinya duduk di sebuah bangku panjang sambil menatap orang-orang yang silih berganti keluar masuk hotel. Hingga tatapannya tertuju pada sosok wanita yang baru saja tiba dengan sepeda motornya yang memuat sebuah bucket bunga yang cukup besar.
"Devi," gumamnya sambil tersenyum tipis. Akhirnya ia bisa melihat gadis itu lagi.
"Hai, Devi?" Sapa nya.
Devi yang sedang melepas pengait yang mengikat bucket bunga di motornya, langsung menoleh begitu mendengar suara seseorang menyapanya.
Devi sedikit tercengang menatap laki-laki yang berdiri di disampingnya. Kerutan tipis tercetak di kening, nampak sedang berusaha mengingat wajah laki-laki yang menyapanya ini.
__ADS_1
"Aku Devano, apa kau lupa?" Aku yang pernah menabrak mu waktu itu, dan Kau juga yang sudah mendonorkan darah untukku." Ujar Devano yang melihat gelagat Devi seperti sedang mengingat.
Seketika Devi pun langsung tersenyum sembari menepuk jidatnya sendiri, "Ah iya, maaf aku sampai lupa. Bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanyanya.
"Keadaan ku sudah jauh lebih baik. Itu karena kamu yang sudah mendonorkan darah untukku, sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Kamu sudah menyelamatkan nyawaku." Jawab Devano.
"Jangan berlebihan seperti itu, sebagai manusia kita memang sudah seharusnya saling menolong. Aku bisa mendonorkan darah untukmu itu juga karena kebetulan golongan darah kita sama." Ujar Devi.
"Oh ya maaf ya, Dev, aku harus kedalam dulu mengantarkan bucket bunga ini." Lanjutnya berpamitan.
Ketika Devi akan melangkah kedalam hotel, entah apa yang menggerakkan Devano tiba-tiba saja menarik tangan Devi yang membuat gadis itu cukup terkejut.
"Ah maaf," ujar Devano seraya melepas tangan Devi. "Aku hanya ingin meminta nomor telepon mu." lanjutnya sedikit canggung.
"Untuk apa ya?" Tanya Devi.
"Tidak untuk apa-apa, ya siapa tahu nanti aku perlu bucket bunga dan aku bisa menghubungi kamu untuk memesan." Jawab Devano.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Devi pun langsung menyebutkan satu persatu angka nomor teleponnya, dan Devano dengan gesit mencatatnya.
Setelah itu Devi pun bergegas masuk kedalam hotel membawa bucket bunga untuk Pelangi dan juga Gerald.