Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 36. ANGGREK DAN MAWAR PUTIH


__ADS_3

Di jalanan ibukota yang tak pernah sepi pengendara, Gerald melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantornya.


Saat melewati perempatan jalan ia melihat ada penjual bunga yang sedang ramai pembeli, Gerald pun menepikan mobilnya. Melihat banyaknya macam-macam bunga ia jadi berpikiran untuk membelikan bunga buat Pelangi namun, ia tidak tahu bunga apa yang disukai calon istrinya itu.


Beberapa saat terus menatap aneka bunga yang berwarna-warni, Gerald sedikit terkejut saat merasakan getaran ponselnya didalam saku jas. Ia melihat ternyata Devano yang menelponnya.


Setelah menekan icon berwarna hijau dilayar ponselnya, Gerald kembali membawa pandangannya kearah penjual bunga itu.


"Iya, Dev, ada apa?" Tanyanya.


"Em, Gerald sebelumnya aku ucapkan terimakasih karena sudah bersedia membantuku, tapi sepertinya aku sudah yakin jika Silvi itu memang tidak pantas untuk aku pertahankan. Aku sadar jika selama ini dia tidak benar-benar tulus mencintai aku." Ujar Devano.


Gerald tersenyum tipis mendengarnya, sangat disayangkan sebenarnya namun itu semua sudah menjadi keputusan Devano. Terkadang kenyataan itu memang sangat menyakitkan, iapun pernah merasakan. Mengira jika Silvi adalah wanita yang tepat untuknya, namun Tuhan lebih dulu menunjukkan sifat aslinya sebelum pertunangannya dilangsungkan.


"Jika itu sudah menjadi keputusan mu maka aku hanya bisa mendoakan semoga kelak kau menemukan yang terbaik untukmu begitupun dengan Silvi semoga dia bisa berubah." Gerald tersenyum, tulus mendoakan keduanya.


Beberapa saat keduanya terdiam dengan sambungan telepon masih menyala.


Gerald tak lepas menatap aneka bunga yang sangat indah dipandang mata.

__ADS_1


Penjual bunga yang melihat Gerald terus memperhatikan bunga jualannya, menghampiri laki-laki itu untuk menawari bunga.


"Mau beli bunganya, Pak?" Tanya seorang wanita si penjual bunga.


"Ah iya, cuma saya bingung mau beli yang mana jadi dari tadi cuma lihat-lihat aja." Jawab Gerald sambil tersenyum ramah. Jika diperhatikan wanita penjual bunga itu terlihat seumuran dengan Pelangi.


"Kalau boleh tahu, mau beli bunga untuk siapa, Pak?"


"Untuk calon Istri saya," jawab Gerald.


Devano yang mendengarnya langsung memanggil nama Gerald.


"Iya?"


"Apa aku boleh kasih saran?"


"Maksudmu, saran bunga?''


"Iya, jika kau tidak keberatan, karena kebetulan aku tahu bunga apa yang disukai oleh Pelangi."

__ADS_1


Gerald terdiam, jika boleh jujur ia tidak ingin bunga yang akan ia beli untuk Pelangi atas rekomendasi dari Devano. Namun, daripada asal beli dan ujung-ujungnya tidak disukai oleh Pelangi maka tidak ada salahnya menerima saran dari Devano.


"Em, baiklah sekarang katakan bunga apa yang disukai Pelangi?"


"Anggrek putih." Jawab Devano.


"Oke Dev, terimakasih" ucap Gerald lalu memutuskan sambungan teleponnya, kemudian beralih menatap penjual bunga didepannya.


"Apa ada Anggrek putih?"


"Ada, Pak. Anggrek putih memang sangat cantik, melambangkan kepolosan, kemurnian dan juga keindahan. Namun juga menjadi tanda hormat dan kerendahan hati. Tapi, karena Bapak membeli untuk calon Istri maka akan saya tambahkan bunga Mawar putih sebagai bonusnya. Mawar putih yang mewakili kemurnian, kepolosan dan melambangkan awal yang baru dan cinta abadi. Seperti Bapak dan calon Istri, semoga cinta kalian abadi selamanya."


"Aaamiiin." Jawab Gerald sambil tersenyum.


"Oh ya, tapi saya mau bunganya di kemas dengan cantik dan juga dikirimkan langsung ke calon Istri saya, apa bisa?"


"Bisa, Pak, tinggalkan alamatnya saja."


Setelah menerima bayaran beserta alamat, penjual bunga itupun kembali ke kedai bunganya.

__ADS_1


Sementara itu Gerald yang hendak masuk ke mobilnya, menajamkan penglihatannya ketika tatapannya tertuju pada laki-laki dan perempuan yang tampak mesra berjalan kearah penjual bunga. Terlihat seperti sepasang kekasih.


__ADS_2