
...DUA BULAN KEMUDIAN......
Gerald berdiri di samping Pelangi dengan kedua tangan menyilang di dada sembari memperhatikan istrinya itu melakukan ritual nya setelah mandi. Pelangi masih berkutat didepan meja rias memoles wajahnya dengan riasan tipis.
Hal seperti ini saja sudah mampu membuat hati Gerald melambung tinggi. Tak pernah terbayang sebelum nya jika wanita yang dulu ia tabrak dan ia beri tumpangan di apartemennya, kini telah merebut seluruh isi hati nya tanpa sisa. a
Gerald terus menatap istrinya dari pantulan cermin. Wajah yang teduh seperti tanpa beban. Hidung mancung, bulu mata lentik dan bibir ranum itu menyatu dengan sempurna pada tubuh istrinya. Dan jangan lupakan senyum nya yang menawan.
Ketika Pelangi menoleh dan tersenyum pada nya, jantung Gerald tiba-tiba saja berdetak dengan kencang. Apalagi melihat handuk yang melilit di tubuh istrinya sedikit melorot sehingga menampakkan belahan dad@. Ah, jika saja perut nya tidak lapar dan pagi ini ia juga harus ke kantor, Gerald pasti akan kembali membuat istrinya itu kelelahan di atas tempat tidur.
"Sudah selesai?" Tanya Gerald kemudian.
Pelangi mengangguk sambil tersenyum sebagai jawabannya.
"Pakai baju cepat, terus kita sarapan." Titah Gerald.
Pelangi kembali mengangguk kemudian beranjak menuju lemari pakaian.
Karena Gerald sudah tak mengizinkannya bekerja lagi dan perusahaannya di kelola oleh orang kepercayaan papa mertuanya, maka hanya pakaian ala rumahan yang kini melekat di tubuh Pelangi. Namun, itu tak membuat kecantikannya sirna dimata Gerald.
Malah Pelangi semakin terlihat cantik dimata suaminya ketika tubuh nya terbalut daster rumahan.
"Cantik banget sih, makin cinta deh." Puji Gerald, ketika Pelangi telah selesai mengenakan daster kesukaannya.
Kalimat itu benar-benar membuat Pelangi terhanyut.
Jika bertanya tentang perasaannya pada Gerald? Siapa yang tak akan terbuai dengan kehangatan laki-laki itu. Sikap Gerald, semua perhatian dan sangat memanjakan dirinya, telah membuat nama seseorang yang pernah bertahta dihatinya kini telah tergantikan dengan nama suaminya ini.
"Jangan sering memujiku dan mengungkapkan kata cinta, Aku takut nanti Kamu akan bosan sendiri." Ujar Pelangi dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
Pelangi langsung mencubit kedua pipi istrinya itu dengan gemas. "Tidak ada sebab yang akan membuat Aku bosan karena Aku sendiri yang sudah memilih jalan ini. Buang semua hal buruk yang bersemayam di pikiranmu karena itu hanya akan membuatmu goyah dan membuat hubungan kita renggang. Jangan biarkan dirimu terperdaya dari kekhawatiran masa lalu."
Senyum yang sempat sirna kembali menghiasi wajah cantik Pelangi. Setiap kalimat yang terucap dari bibir suaminya selalu mampu meneduhkan hatinya yang terkadang gamang.
"Makan yuk, laper banget nih." Ajak Gerald, karena perutnya memang sudah sangat keroncongan.
Pelangi mengangguk dengan antusias, kemudian melingkarkan tangannya di lengan sang suaminya.
Saat berada di ruang makan, Pelangi mengendus aroma nasi goreng yang entah kenapa hari ini terasa berbeda di indera penciumannya, padahal nasi goreng itu adalah buatan Gerald sama seperti biasanya.
"Kamu ganti resepnya ya, kok aromanya beda sih?" Tanya Pelangi, ia menutup hidungnya dengan telapak tangan.
Gerald pun mendekatkan hidungnya pada sepiring nasi goreng itu.
"Enggak kok, Aku gak ganti resep dan aromanya juga sama seperti yang sering Aku buat." Kata Gerald, ia menatap istrinya itu dengan heran.
"Coba deh cicipi." Titah Gerald.
Pelangi pun duduk kemudian menarik sepiring nasi goreng itu kehadapan nya. Dengan agak ragu ia menyendok kan nasi goreng itu menyuapi mulutnya.
Beberapa detik Pelangi mencecap rasa nasi goreng yang kini menari di lidahnya, dengan cepat ia langsung mengambil tisu memuntahkan nasi goreng itu.
"Gak enak! Rasanya aneh!" Ucap Pelangi spontan.
Gerald sedikit terkejut mendengar penuturan Pelangi, karena ia membuat nasi goreng itu sama dengan resep biasanya. Karena penasaran ia pun ikut mencicipi.
"Enak gini kok rasanya sama kayak yang sering Aku buat." Ujar Gerald.
"Tapi Aku makannya gak enak, udah jelas aromanya juga beda." Pelangi tetap kekeuh dengan apa yang ia rasakan.
__ADS_1
"Ya udah, Aku buatin yang baru deh." Ujar Gerald akhirnya, ia memilih mengalah dari pada harus berdebat dengan istri tercintanya itu.
"Gak usah, mendadak selera makan Aku hilang. Aku mau tidur aja, Kamu berangkat sana ke ke kantor nanti kesiangan." Pelangi pun beranjak dari tempat duduknya. Setelah mencium punggung tangan suaminya ia langsung menuju kamar, entah kenapa mood nya tiba-tiba saja tidak baik.
Gerald hanya bisa menatap punggung istrinya itu yang perlahan menjauh dengan kening mengkerut. Tidak mengerti dengan perubahan sikap Pelangi yang tiba-tiba seperti itu.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kedai bunga milik Devi.
Sudah hampir satu jam Devano duduk di sebuah kursi kayu sambil memperhatikan Devi melayani pembeli yang datang silih berganti. Ingin sekali rasanya ia mengusir semua pembeli itu, karena mereka ia jadi diacuhkan oleh Devi.
Sejak dua bulan terakhir Devano jadi sering mengunjungi Devi entah itu di kedai bunga Devi atau langsung ke rumah Devi, barang sekedar untuk mengobrol terkadang juga dengan alasan mengantarkan makanan lebih dari kantor yang padahal sebenarnya ia sengaja membelinya untuk Devi.
Devano sendiri tidak mengerti kenapa ia seperti ini. Rasanya seperti ada tarikan magnet yang membuatnya terus ingin bertemu Devi.
ketika semua pembeli itu telah pergi, Devano pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Devi yang sedang memperbaiki susunan bunga-bunga yang berantakan karena pembeli yang memilih-milih.
"Devi, aku ingin berbicara sebentar denganmu." Ujar Devano yang kini telah berdiri di sampingnya Devi.
Devi mengulum senyum, rasanya ia sudah bosan hampir setiap hari Devano berbicara dengannya bahkan hal yang ia rasa tidak penting.
"Yang akan aku bicarakan kali ini bukan hal basa-basi seperti biasanya. Tapi... Hal yang sangat penting." Tutur Devano, yang membuat Devi langsung menoleh menatapnya.
"Hal penting apa yang ingin kau bicarakan?"
__ADS_1