Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 14. KESEMPATAN


__ADS_3

Gerald menarik tangannya dari genggaman sang mama yang hendak mengajak nya menuju ruang tamu, dimana gadis yang akan mama jodohkan dengannya berada bersama keluarganya.


"Ada apa, Gerald?" Tanya mama dengan kening mengkerut.


"Ma, Mama gak bisa membuat keputusan tanpa persetujuan aku. Aku gak mau dijodohin, Ma. Lagipula aku sudah punya pilihan sendiri dan aku hanya akan menikah dengan pilihanku sendiri." Ucap Gerald, membuat sang mama membelalakkan matanya. Terkejut mendengar penuturan putranya, namun ekspresi marah lebih mendominasi.


"Enggak Gerald, kali ini Mama mau kamu menikah dengan pilihan Mama, titik! Apa kamu lupa? Dulu dengan bangganya kamu memperkenalkan Silvi pada kami, tapi ujung-ujungnya apa? Kamu dikhianati mentah-mentah. Jadi Mama gak mau itu terulang lagi. Ayo." Mama hendak meraih tangan putranya kembali, namun Gerald lebih dulu menjatuhkan tangannya.


"Ma, aku bisa jamin pilihanku kali ini tidak akan salah lagi. Dia jauh lebih baik dari pada Silvi ataupun Zahra." Ujar Gerald menekankan.


Mama semakin nampak emosi mendengar ucapan Gerald.


Sementara Pelangi, ia terus menatap Gerald seolah ingin mengatakan agar laki-laki itu berhenti berdebat dengan mamanya namun sayangnya sedikitpun Gerald tidak menoleh kepadanya.


"Siapa? Katakan pada Mama siapa Wanita pilihanmu itu? Mama mau lihat sehebat apa dia."


Baru saja Gerald akan menjawab, Pelangi sudah lebih dulu bersuara.


"Pak Gerald, maaf sepertinya saya harus kembali ke kantor." Ucap Pelangi kemudian membalikkan badannya hendak pergi, semakin lama berada di sini belum lagi menyaksikan anak dan ibu itu berdebat membuatnya semakin merasa tidak nyaman. Sungguh dadanya benar-benar terasa sesak, baru saja akan memulai sebuah hubungan namun ia kembali dihempaskan oleh kenyataan bahwa kekasihnya akan menjadi milik wanita lain.


Baru selangkah, Pelangi merasakan tangannya ditarik membuat langkahnya terhenti. Namun, ia tidak membalikkan badannya.


"Jangan pergi, Pelangi. Apa kamu lupa apa tujuanku membawamu kesini?"


"Gerald, apa-apaan ini!" Mama menyentak tangan putranya yang memegang tangan Pelangi.


Dan Pelangi pun dengan cepat melanjutkan langkahnya ketika tangannya telah terlepas dari genggaman Gerald.


Namun, Gerald tak tinggal diam, dengan langkah cepat ia menyusul Pelangi dan menghadang langkahnya.


"Aku bilang jangan pergi, Pelangi.'' Gerald merentangkan kedua tangannya tepat didepan pintu ketika Pelangi akan melangkah keluar.


"Gerald, sudahlah. Kamu terima saja perjodohan itu, mungkin memang sebaiknya kita berteman saja. Aku akan ke kantor, dan kamu masuklah kedalam temui dia. Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Mama mu tadi? Dia sangat cantik dan juga seorang pengusaha sukses, kamu pasti bahagia dengan dia."


Namun, Gerald menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak Pelangi. Yang aku mau hanya kamu, dan aku yakin kebahagiaan ku hanya bersamamu."


Mama yang juga ikut menyusul Gerald dan Pelangi, sangat terkejut mendengar penuturan putranya. Dengan langkah cepat ia berjalan menghampiri Gerald.


"Gerald, apa maksud ucapan mu? Jangan bilang wanita ini..." Mama menghentikan kalimatnya, kemudian beralih menatap Pelangi dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


Pelangi yang ditatap oleh mamanya Gerald langsung menundukkan kepalanya.


"Iya, Ma. Pelangi adalah wanita pilihanku. Aku membawanya kesini untuk mengenalkan dia pada Papa dan Mama."


Mendengar ucapan Gerald, dengan cepat mama menoleh menatap putranya bersamaan dengan Pelangi yang juga mengangkat kepalanya menatap Gerald.


"Gerald, jangan bercanda kamu! Bagaimana bisa perempuan seperti dia yang kamu pilih?"


"Ma, jangan menilai Pelangi dari luarnya, karena Mama belum mengenal dia."


Gerald mendekati Pelangi kemudian menarik tangan wanita itu menuju kamarnya tanpa menghiraukan teriakan mamanya yang memanggil.


Gerald membawa Pelangi ke kamarnya meminta wanita itu menunggu dikamar. Sementara ia akan pergi ke ruang tamu untuk menyelesaikan masalah perjodohan yang dilakukan mamanya tanpa sepengetahuannya. Bahkan Gerald mengunci pintu kamarnya dari luar agar Pelangi tidak pergi.


.


.


.


"Om, Tante, Saya benar-benar minta maaf." Ucap Gerald setelah menjelaskan alasannya tidak bisa menerima perjodohan nya dengan Zahra.


Gerald tersenyum lega karena ternyata orangtua Zahra tidak mempermasalahkan keputusannya, kemudian ia berpindah menatap Zahra dengan penuh sesal atas tindakan orangtuanya yang merencanakan perjodohan tanpa sepengetahuannya.


"Zahra, aku benar-benar minta maaf. Kamu perempuan yang baik, diluar sana kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada aku."


Zahra tak menjawab, ia memalingkan wajahnya kemudian beranjak dari tempat duduknya. Sudah pasti kecewa atas tindakan Gerald karena sejujurnya ia sudah menyukai Gerald sejak masih kuliah dulu. Saat orangtuanya memberitahu tentang rencana perjodohannya dengan Gerald ia sangat bahagia, namun hari ini harapannya sirna untuk bisa bersama laki-laki yang disukainya itu karena ternyata Gerald telah memiliki wanita pilihannya sendiri.


"Pa, Ma, sebaiknya kita pulang saja." Ajak Zahra pada orangtuanya.


Orangtua Zahra pun beranjak dari tempatnya duduknya, kemudian berpamitan pulang pada orangtuanya Gerald.


Setelah Zahra dan orangtuanya telah pergi, mama berpindah duduk di samping putranya.


"Sudah puas Kamu bikin Mama dan Papa malu dihadapan orangtuanya Zahra!"


Gerald menghela nafasnya sembari mengusap wajah, "Lagian Mama juga sih sebelumnya tidak memberitahu aku dulu. Kejadiannya tidak akan seperti ini kalau Mama sebelumnya bilang sama aku tentang rencana perjodohan ini."


"Gerald, Mama cuma mau yang terbaik untuk kamu. Mama gak mau sampai kamu salah pilih lagi."

__ADS_1


Gerald tersenyum miring mendengar ucapan mamanya, "Apa Mama bisa jamin kalau pilihan Mama itu yang terbaik? Mama ternyata tidak mengenal Zahra, dia itu tidak ada bedanya dengan Silvi." Gerald tentu tahu bagaimana karakter Zahra teman kuliahnya itu. Semasa kuliah dulu, Zahra sering sekali bergonta-ganti pacar, bahkan hingga sekarang. Meskipun Zahra jauh diluar Negeri, tetapi Gerald sering mendengar dari teman-teman kuliah jika Zahra sering kedapatan kencan dengan beberapa rekan bisnisnya, dan tak tanggung-tanggung beberapa diantaranya telah memiliki istri.


"Gerald, jangan bicara sembarangan kamu."


"Aku gak bicara sembarangan, Ma. Memang begitulah kenyataannya." Gerald meraih tangan mamanya kedalam genggaman.


"Ma, tolong restui aku dengan Pelangi. Percaya sama aku, Mama akan menyukai Pelangi setelah mengenal dia."


"Tapi kenapa harus dia, Gerald? Dia itu sekertaris kamu."


"Aku juga tidak mengerti, Ma, semenjak aku bertemu dengan Pelangi, aku merasa telah menemukan kembali jati diriku. Sama seperti namanya Pelangi memberikan banyak warna di setiap hari-hariku. Awalnya aku hanya ingin berteman dengannya tapi lama-kelamaan aku mulai menyukainya."


Mama menggeleng pelan kepalanya, akal sehatnya masih belum bisa mencerna ucapan putranya.


"Sudahlah, Ma biarkan saja. Biarkan Gerald dengan pilihannya sendiri, jika dulu dia pernah salah pilih dan untuk sekarang kita doakan saja semoga pilihannya kali ini tidak akan salah lagi." Ucap Papa yang sedari tadi hanya menjadi pendengar. Papa memang terkenal tidak banyak bicara, namun ia akan mendengar dengan seksama letak setiap permasalahan.


"Ya sudah, sekarang kamu bawa Pelangi kesini, Mama mau bicara sama dia."


Gerald tersenyum lebar mendengar ucapan mamanya, dengan cepat ia beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi menuju kamarnya.


Tak lama kemudian, Gerald kembali ke ruang tamu bersama Pelangi.


"Pa, sebenarnya tadi aku pulang bersama Pelangi. Aku membawanya kesini untuk mengenalkan dengan kalian." Ucap Gerald, yang mengerti tatapan terkejut papanya, karena tidak sampai satu menit ia sudah kembali membawa Pelangi.


Papa pun mengangguk tanda mengerti.


"Dengar Pelangi, Tante tidak mau berbasa-basi. Meskipun Gerald sudah memilih kamu tapi Tante tidak bisa merestui kalian begitu saja. Kamu harus bisa membuktikan jika kamu pantas bersanding dengan Gerald. Dan catat ini baik-baik, kriteria menantu idaman Tante yang utama adalah yang bisa memasak, dan yang lebih penting harus selalu bisa menyenangkan hati suaminya dalam hal apapun."


"Ma, kalau hanya itu Pelangi pasti bisa, dia...


"Diam Gerald, Mama tidak sedang berbicara sama kamu." Tegur mama.


Gerald pun terdiam dengan menahan senyum, mamanya itu memang luar biasa galaknya. Tetapi mamanya itu sebenarnya sangat penyayang.


Begitupun dengan papa yang hanya bisa tersenyum sambil menggeleng pelan kepalanya. Kriteria menantu idaman yang disebutkan istrinya itu sebenarnya adalah kriteria istrinya sendiri yang pandai memasak dan selalu bisa menyenangkan hatinya dalam hal apapun.


"Bagaimana Pelangi, apa kamu bisa?"


Pelangi tak langsung menjawab, ia menoleh menatap Gerald. Melihat laki-laki itu mengangguk kepalanya, iapun kembali menatap mamanya Gerald lalu mengangguk. "I-ya, Tante." Jawabnya dengan sedikit terbata.

__ADS_1


"Besok kamu harus datang kesini, Tante mau tes cara memasak kamu. Ingat Pelangi, kesempatan tidak datang dua kali. Kalau kamu gagal, mau Gerald nangis darah sekalipun Tante gak akan merestui."


__ADS_2