
Beberapa bulan telah berlalu, kini usia kandungan Pelangi sudah memasuki bulan ke sembilan dan tinggal menunggu hari persalinan saja.
Sejak beberapa hari terakhir, Gerald juga sudah selalu siaga dan hanya datang ke kantor seperlunya saja.
Beberapa malam ini pun Gerald juga terkadang memaksakan matanya agar tetap terjaga karena Pelangi sudah sering mengeluhkan keram di bagian pinggangnya.
"Ada apa, Sayang? Perut Kamu mulas?" Tanya Gerald diantara kantuknya. Matanya sempat terpejam namun dengan cepat terbuka saat merasakan jari-jari lentik Pelangi menusuk-nusuk pipinya.
"Aku haus." Jawab Pelangi.
"Sebentar Aku ambilkan minum dulu." Gerald menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya kemudian turun dari tempat tidur.
Tidak butuh waktu lama, Gerald kembali dengan membawa segelas air ditangannya kemudian langsung memberikan pada istrinya.
Gerald pun langsung meminum air itu hingga habis.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Pelangi setelah Gerald menyimpan gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
"Sama-sama, Sayang. Tidur lagi ya masih gelap ini."
Pelangi mengangguk kemudian merebahkan tubuhnya, begitupun dengan Gerald ia menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
"Gerald, akhir-akhir ini pergerakan bayi kita sudah tidak seaktif biasanya." Pelangi mengusap perutnya yang terasa semakin kencang.
"Ya kata dokter kan memang seperti itu kalau sudah menjelang persalinan." Ujar Gerald seraya meletakkan tangannya di atas perut buncit Istrinya. Ia tersenyum merasakan pergerakan bayinya yang memang tidak sekencang biasanya.
"Sepertinya dia senang karena sering di jenguk Papa nya." Gumam Pelangi nampak sambil tersenyum.
"Bayinya atau Mama nya nih yang senang, hum?" Goda Gerald sambil memainkan sebelah alisnya.
"Bayi sama Mama nya." Jawab Pelangi nampak malu-malu.
"Papa nya dong yang lebih senang." Ujar Gerald sambil tersenyum. Namun, senyum nya itu menjadi kecut mengingat sebentar lagi Pelangi akan melahirkan dan itu artinya ia akan libur olahraga malam.
"Kenapa Sayang, perutnya Sakit lagi?" Danar langsung terbangun ketika melihat Pelangi kembali meringis. Ia merasa khawatir dan ikut mengusap perut istirnya.
"Iya, perutku tiba-tiba sakit." Jawab Pelangi sambil meringis.
"Mungkin sudah waktunya, kita ke rumah sakit sekarang ya." Gerald bersiap menggendong istirnya, namun Pelangi mencegah ketika merasakan sakit diperutnya telah hilang.
"Sudah, sudah tidak sakit lagi."
__ADS_1
"Beneran gak sakit lagi?" Tanya Gerald memastikan.
Pelangi mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya.
Gerald pun juga merebahkan tubuhnya, ia mengusap perutnya Istrinya sambil membacakan doa demi kelancaran proses persalinan Istrinya.
Merasakan sentuhan lembut diperutnya, Pelangi pun kembali terlelap dalam hangat pelukan suaminya.
Selagi Pelangi tidur, dengan pelan Gerald turun dari tempat tidur. Ia membersihkan diri kemudian setelah itu mengambil tas kecil dan memasukkan beberapa keperluan Pelangi dan bayinya saat akan melahirkan nanti. Ini untuk berjaga-jaga jika Pelangi telah benar-benar akan melahirkan dan semua nya sudah siap.
Sayup-sayup Pelangi membuka mata ketika merasakan bagian bawah tubuhnya yang basah seiring rasa nyeri yang kembali menderanya.
"Gerald aku seperti ngompol, sepertinya ketubannya sudah pecah."
Mendengar itu Gerald lantas menoleh melihat istrinya yang sudah duduk dari pembaringan.
Dengan sigap Gerald mengganti pakaian Pelangi dan setelah itu mengambil tas yang sudah ia siapkan kemudian menggendong istrinya menuju mobil.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Gerald berusaha untuk tidak panik agar Pelangi juga tetap tenang.
Di jalan, Gerald sempat mengabari orangtuanya dan juga menghubungi dokter yang akan menangani persalinan Pelangi.
"Tahan ya, Sayang." Sebelah tangan Gerald menggenggam tangan Pelangi.
Pelangi hanya mengangguk sambil mengatur nafasnya, ia berusaha agar tepat tenang dan tidak panik.
Setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat panjang. Akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit yang di tuju.
Dokter yang sudah dikabari oleh Gerald langsung melakukan pemeriksaan ketika pasiennya telah sampai.
"Semuanya sudah siap, tinggal menunggu pembukaannya lengkap." Ujar dokter sembari menepuk pundak Gerald yang setia mendampingi Istrinya.
Setelah beberapa jam menunggu, Pelangi pun akhirnya dibawa menuju ruangan persalinan karena kata dokter pembukaannya telah lengkap dan sudah siap untuk melahirkan.
Dokter juga mengizinkan Gerald untuk menemani istrinya selama proses persalinan.
Gerald menggenggam tangan Pelangi yang tampak meringis menahan sakit.
Meski tidak terdengar keluhan Istrinya, tapi Danar dapat merasakan bagaimana sakit yang dirasakan oleh Istrinya itu dari kuatnya cengkeraman Pelangi di tangannya.
"Yang kuat ya, Sayang." Gerald mengusap peluh di kening istrinya kemudian mengecupnya berulang kali.
__ADS_1
Pelangi mengangguk dan berusaha tersenyum di sela-sela rasa sakit yang melandanya.
"Sudah siap? Kita mulai ya!" Setelah memakai sarung tangan, dokter pun mulai memberikan aba-aba untuk Pelangi mengejan.
Danar kembali melafalkan doa-doa di puncak kepala Istrinya agar diberikan kelancaran proses persalinan Istrinya.
Pelangi mengikuti semua arahan dari dokter, cengkeraman tangannya semakin kuat manakala merasakan dorongan si bayi untuk mengejan.
"Yang kuat ya, Sayang. Semangat demi bayi kita." Gerald terus menciumi kening istrinya, air matanya sudah bercampur dengan peluh yang membasahi kening Pelangi
Gerald tak dapat menyembunyikan air matanya melihat perjuangan sang istri melahirkan bayi mereka.
"Ayo semangat, ini kepalanya sudah kelihatan." Ujar dokter.
Pelangi menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan dengan perlahan lalu ia kembali mengejan sekuat tenaga. Tak lama kemudian suara tangisan bayi pun menggema didalam ruangan bersalin itu.
"Terima kasih Sayang, Kamu hebat. Kita sudah jadi Papa dan Mama." Gerald menghujani wajah istirnya dengan kecupan. Beribu syukur ia ucapkan dalam hati.
"Selamat ya Pak, Bu. Bayi kalian berjenis kelamin Laki-laki."
.
.
.
Pelangi nampak lebih segar setelah dipindahkan ke ruangan perawatan bersama bayinya.
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu sudah tertidur pulas di samping ibunya setelah kenyang sehabis menyusu.
"Selamat ya, Nak. Akhirnya kalian berdua juga sudah menjadi orangtua." Ujar mama sambil mengusap pundak Gerald lalu berpindah mengusap puncak kepala Pelangi.
Wanita baya itu terus mengembangkan senyum menatap cucunya yang terlihat sangat mirip dengan Gerald sewaktu bayi.
"Sekarang tanggung jawab kamu semakin besar, Gerald. Bukan hanya seorang Suami, kini kamu juga sudah menjadi Seorang Ayah." Ujar papa, lelaki paruh baya itu juga mengusap pundak putra semata wayangnya itu.
Pelangi dan Gerald pun tersenyum. Gerald menunduk mencium pipi putranya yang sedang tertidur itu, begitupun Pelangi yang juga ikut mencium bayi tampan nya.
Kehadiran bayi berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Darrel Argantara itu memberi warna baru dalam rumah tangga Pelangi dan Gerald. Untuk ke depannya mereka akan menikmati peran baru mereka sebagai orangtua.
..._____________END_____________...
__ADS_1