
"Sudah ku duga kamu pasti akan kembali un..."Ucapan Devano terhenti ketika melihat yang masuk ke ruang rawatnya ternyata bukanlah Devi yang kembali untuk mengambil tasnya yang tertinggal.
"Mau apa kamu kesini!" Sentak Devano, serta menatap tajam wanita yang telah berdiri sisi ranjangnya. Ia sudah memperingati Silvi untuk tidak menampakkan wajahnya lagi didepannya tetapi wanita itu masih berani muncul di hadapannya.
"Dev, aku hanya ingin melihat keadaanmu." Ujar Silvi dengan lirih, mendengar kabar kecelakaan Devano ia langsung bergegas menuju rumah sakit bahkan meninggalkan begitu saja laki-laki yang bersamanya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi tentang ku karena diantara kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. Urus saja laki-laki itu dan jangan muncul lagi dihadapan ku, aku tidak mau melihatmu lagi, Vi!" Teriak Devano sampai tubuhnya bergetar, luka di sekujur tubuhnya tak lebih sakit daripada setelah mengetahui siapa sebenarnya Silvi. Sakitnya rasanya mengetahui wanita yang selama ini dipujanya ternyata tak benar-benar mencintainya. Silvi hanya memanfaatkannya saja untuk kepentingan dirinya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan ternyata bukan hanya dirinya yang ditarik oleh Silvi naik ke atas ranjangnya, tetapi ada lelaki lainnya dan hari ini ia mengetahui dari orang suruhannya jika Silvi mendekati laki-laki itu karena untuk meminta bantuan membebaskan papanya dari penjara.
"Dev, dengarkan dulu penjelasanku." Ucap Silvi memohon.
"Aku tidak mau mendengarkan apapun lagi darimu, Vi, sekarang juga kau pergi dari sini aku tidak mau melihatmu lagi!" Sekali lagi Devano berteriak.
__ADS_1
Silvi hanya bisa menatap nanar Devano, kekasihnya itu tak pernah sekalipun meneriakinya seperti itu. Tetapi hari ini Devano benar-benar terlihat marah dan ini terjadi karena kebodohannya sendiri hanya demi untuk membebaskan papanya dari penjara.
"Dev, aku mohon jangan seperti ini, bukankah kita akan menikah?" Ucap Silvi dengan sayu.
Dan Devano hanya mecebikkan ujung bibirnya mendengar ucapan Silvi. Setelah hari kejadian hari ini, jangan berpikir untuk menikahi Silvi melihatnya saja pun sudah tak sudi.
Sementara itu di luar ruang rawat Devano, Devi yang tadinya ingin masuk untuk mengambil tasnya yang tertinggal mengurungkan niatnya ketika melihat seorang wanita berdiri di samping ranjang Devano, iapun menutup kembali pintu ruangan itu dan memilih untuk pergi, ia akan mengambil tasnya dilain waktu saja karena tidak ada juga yang terlalu penting didalamnya.
"Devi, kamu mau pulang?" Tanya Pelangi yang menyembulkan kepalanya di jendela.
"Iya, Bu." Jawab Devi sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kalau gitu biar kita anterin aja." Ujar Pelangi dan diangguki oleh Gerald. Pelangi tahu jika motor Devi berada di bengkel untuk diperbaiki, ia sempat berbincang-bincang dengan Devi beberapa saat lalu sebelum melakukan transfusi darah.
Tanpa berpikir panjang Devi langsung menyetujui ajakan Pelangi, karena ia juga harus segera sampai rumah, ibunya pasti sudah menunggu dengan khawatir karena ia sudah terlalu lama pergi.
"Loh, bukannya tadi kamu bawa tas ya kok sekarang gak ada?" Tanya Pelangi setelah menyadari jika tas Devi tidak ada.
"Ketinggalan di ruang rawat Devano, Bu, tadinya aku mau ambil tapi gak jadi." Ujar Devi.
"Kenapa?"
"Gak enak aja, Bu, tadi pas aku mau masuk ternyata ada calon istirnya." Ujar Devi. Yah begitulah yang ia dengar saat akan masuk ke ruang rawat Devano. Wanita itu membahas tentang pernikahan yang artinya dia adalah calon istrinya Devano.
__ADS_1