
Mendapat kabar Devano mengalami kecelakaan, Gerald dan Pelangi bergegas menuju rumah sakit dari tempatnya masing-masing berada.
Pelangi yang baru saja akan memulai rapat dengan terpaksa harus menunda dan akan melanjutkan dilain waktu, begitupun dengan Gerald yang baru saja akan berangkat ke restoran yang akan menjadi tempat pertemuannya dengan klien.
Gerald lebih dulu sampai di rumah sakit, dan tak berselang lama Pelangi pun sampai. Keduanya berjalan cepat memasuki rumah sakit, menuju ruangan dimana Devano sedang ditangani oleh dokter. Terlihat dua orang polisi berdiri di depan ruangan tersebut.
"Pak, bagaimana keadaan Devano?" Tanya Pelangi, nampak dengan jelas kekhawatiran diwajahnya dan Gerald sedikit merasa cemburu atas itu, namun ini bukan situasi yang tepat untuk menegur calon istrinya dan yang bisa ia lakukan hanyalah menggenggam tangan Pelangi.
"Keadaannya cukup parah dan masih ditangani oleh dokter. Untuk sementara kami belum bisa memastikan apa penyebab kecelakaan itu terjadi karena kami tidak menemukan adanya rem blong dan sebagainya pada mobil korban. Kita tunggu Dokter saja yang menjelaskan apakah korban sedang dalam keadaan mabuk atau tidak." Ujar polisi.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan ICU terbuka, Pelangi langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dan tanpa sadar melepas tangan Gerald yang menggenggam tangannya. Dan sekali lagi Gerald merasakan kecemburuan itu, menurutnya Pelangi terlalu mengkhawatirkan Devano.
"Dok, bagaimana keadaan Devano?" Tanya Pelangi.
"Pasien kehilangan banyak darah, dibutuhkan dua kantong darah golongan O, tapi sayangnya rumah sakit kami sedang kehabisan stok golongan darah O." Ujar dokter penuh sesal.
Mendengar ucapan dokter, Pelangi menunduk karena golongan darahnya berbeda dengan Devano. Namun, ketika mengingat ada Gerald ia lantas menoleh pada Gerald. Mungkin saja calon suaminya itu memiliki golongan darah yang sama dengan Devano.
Gerald yang mengerti arti tatapan Pelangi, mengangkat kedua bahunya sebagai tanda jika golongan darahnya pun berbeda dengan Devano. Membuat Pelangi tertunduk lesu.
__ADS_1
"Jangan khawatir, kita akan cari pendonor darah untuk Devano." Ujar Gerald, untuk saat ini ia akan menekan egonya dari rasa cemburunya. Tetapi lihat saja nanti setelah keadaan membaik.
Ketika akan meninggalkan rumah sakit untuk mencari pendonor, di lobi Gerald hampir saja tersungkur ke lantai ketika tiba-tiba saja seseorang entah dari mana arahnya menabraknya.
"Hei, Mbak lihat-lihat dong kalau jalan." Maki Gerald pada seseorang wanita yang telah terduduk di lantai sambil mengeluh sakit karena bagian kaki dan tangannya yang terdapat luka bertambah rasa sakitnya akibat terjatuh menabrak seseorang.
"Maaf, Mas, saya buru-buru." Ujar wanita itu, ia bermaksud melarikan diri dari rumah sakit karena uang yang dimiliki tidak cukup untuk membayar biaya pengobatan luka-lukanya yang ia dapat saat kecelakaan kecil beberapa jam yang lalu.
"Kamu..." Ucap Pelangi dan Gerald serentak ketika wanita itu mengangkat pandangannya.
Wanita itupun sama terkejutnya melihat sepasang calon suami Istri berdiri didepannya. Namun, setelahnya ia tersenyum lebar seolah tidak merasakan sakit di kaki dan tangannya.
"Kecelakaan kecil tadi di jalan, sehabis mengantar bucket bunga ke kantornya Bu Pelangi." Ujar Devi.
"Terus tadi kamu buru-buru itu kenapa?" Tanya Pelangi.
"Mau kabur, Bu. Soalnya uang yang aku punya gak cukup buat bayar biaya berobat ini," Devi menunjuk luka di kaki dan tangannya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa hanya seperti itu saja biayanya sangat mahal. Uang tips yang diberikan Pelangi sejumlah 300 ribu dan uang yang diberikan oleh orang yang menabraknya sejumlah 200 ribu masih tidak cukup untuk membayar biaya pengobatan luka ringan seperti itu.
"Memangnya biayanya berapa?" Tanya Pelangi lagi.
__ADS_1
"Lima ratus lima puluh ribu, Bu. Mahal banget kan, ah nyesel aku ke rumah sakit. Kenapa tadi gak ke klinik aja atau puskemas aja sekalian lebih murah." Jawab Devi sambil sedikit menggerutu.
Dan detik itu juga Gerald langsung tertawa mendengar celotehan wanita itu.
"Ya jelas mahal, lah itu tangan kamu di jahit kok, tuh ada bekasnya." Gerald menunjuk luka di tangan Devi yang memang sehabis di jahit.
Pelangi pun terkekeh, kemudian mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang lebih dari jumlah kekurangan biaya berobat Devi.
"Ini kamu bayar biaya berobat kamu, jangan kabur. Dan kami pamit pergi dulu ya, mau cari donor darah untuk teman kami yang baru saja kecelakaan."
Pelangi dan Gerald pun mengayun langkah meninggalkan Devi, namun tak lama kemudian Devi berteriak memanggil mereka.
Pelangi dan Gerald pun menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Devi yang berjalan terpincang-pincang menghampiri mereka.
"Kalau boleh tau apa golongan darah teman Ibu itu?" Tanya Devi.
"O."
"Wah kebetulan golongan darahnya sama dengan saya, Bu, jadi biar saya saja yang menjadi pendonor nya. Anggap saja sebagai imbalan dari kebaikan Bu Pelangi." Ujar Devi sembari menunjukkan uang yang tadi diberikan oleh Pelangi dengan jumlah yang cukup banyak.
__ADS_1