Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 19. PENYESALAN DEVANO DAN SILVI


__ADS_3

Di sebuah cafe, papa tengah menyeruput secangkir kopi yang baru saja diantarkan pelayanan sembari menunggu temannya.


Tiga hari yang lalu, setelah Gerald mengatakan ingin segera menikahi Pelangi, namun wanita itu hanya ingin menikah setelah mendapatkan kembali semua hartanya. Papa pun tanpa membuang waktu langsung bergerak cepat untuk membantu, dan tentunya meminta bantuan kepada temannya. Karena tidak mungkin papa atau Gerald sendiri yang bergerak yang mana akan membuat Devano menjadi curiga.


Beberapa saat menunggu, teman yang ditunggu papa pun akhirnya datang.


Seorang pria paruh baya yang seumuran papa mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan papa kemudian meletakkan sebuah map diatas meja.


"Ternyata tidak sesulit yang aku kira. Dengan iming-iming keuntungan yang sangat besar dia sangat bersemangat menandatangani surat kontrak kerjasama tanpa memperhatikan jika diantara lembaran yang dia tandatangani ada selembar kertas kosong."


Papa tersenyum puas mendengar penuturan temannya. Senyum papa semakin mengembang ketika melihat isi map itu, yang berisi surat-surat kepemilikan perusahaan dan seluruh harta Pelangi yang telah berpindah kembali atas nama Pelangi Atmaja, beserta bukti-bukti pemalsuan surat pengalihan nama kepemilikan perusahaan yang dilakukan oleh Devano.


"Sesuai janjiku jika kamu berhasil, setelah pernikahan Putraku digelar 5% saham perusahaan ku menjadi milikmu." Ucap papa pada temannya itu. Setelahnya papa pun berpamitan pergi untuk menemui Pelangi dan Gerald.


Tak berselang lama papa pun telah sampai di perusahaan Argantara group yang dipimpin oleh putranya.


Pelangi dan Gerald yang tengah menyantap makan siang, serentak menoleh kearah pintu ruangan yang terbuka.


"Papa...


"Wah, kebetulan Papa juga belum makan." Ucap papa sembari berjalan masuk. "Apa masih ada yang bisa Papa makan?" Tanyanya setelah mendudukkan tubuhnya di sofa yang berseberangan dengan sofa yang diduduki Pelangi dan Gerald, lalu meletakkan map yang dibawanya diatas meja.


"Ada kok, Om. Ini masih ada banyak." Ujar Pelangi kemudian menyediakan makanan untuk calon papa mertuanya itu.


Karena memang belum makan siang dan benar-benar sudah lapar, papa langsung saja menyantap makanan yang dihidangkan Pelangi. Rasa makanan yang menari di indra perasa nya membuat papa melupakan tujuannya datang menemui Pelangi dan Gerald.


"Pa, jangan dihabiskan, nanti kalau aku lapar lagi aku makan apa?" Ucap Gerald dengan tatapan yang seolah tak rela papanya memakan masakan Pelangi. Apalagi papanya itu makan dengan sangat lahap.


"Makan cinta." Jawab papa sekenanya membuat Gerald cemberut.


Beberapa saat kemudian setelah selesai makan, papa memberikan map yang dibawanya itu kepada Pelangi.


"Ini apa, Om?"


"Kamu lihat saja."


Pelangi pun membuka map itu, Gerald yang duduk di sampingnya juga ikut melihat. Keduanya terbelalak setelah melihat isi map tersebut.


"Om, ini serius?" Tanya Pelangi dengan raut yang nampak terkejut, rasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Semua hartanya telah kembali atas nama Pelangi Atmaja.


Papa mengangguk sebagai jawabannya.


Gerald yang juga ikut terkejut, namun rasa senang lebih mendominasi langsung saja mendekati papanya. "Terima kasih, Pa, Papa memang luar biasa. Hanya dalam tiga hari saja Papa bisa mengembalikan seluruh harta Pelangi."


Papa tersenyum simpul, putranya itu tidak tahu saja jika 5% perusahaannya menjadi bayaran atas kembalinya seluruh harta Pelangi. Namun, papa yakin jika Gerald tidak akan terkejut soal itu.


.

__ADS_1


.


.


Tanpa membuang waktu, Gerald dan Pelangi langsung saja mendatangi perusahaan Atmaja group untuk mendepak Devano dan Silvi dari perusahaan itu.


Para karyawan serentak saja memberi hormat ketika melihat Pelangi datang, bahkan beberapa diantaranya langsung menghampiri Pelangi seolah melepas rindu.


"Bu Pelangi kemana saja? Kenapa tiba-tiba menghilang dan perusahaan di pimpin oleh dua orang menyebalkan itu." Ucap salah satu karyawan yang memang sangat geram dengan kelakuan Devano dan Silvi yang suka semena-mena.


Beberapa karyawan lainnya juga mengadukan banyak sekali perubahan peraturan perusahaan yang cukup memberatkan para karyawan, serta pemotongan gaji dari tarif biasanya.


Pelangi tampak geram mendengar semua pengaduan para karyawannya, langsung saja ia dan Gerald menuju ruangannya yang ia yakini Devano dan Silvi pasti berada di sana.


Dan benar saja, Devano dan Silvi yang tengah asyik dalam permainan bibir mereka dikejutkan dengan pintu ruangan yang terbuka dengan keras karena di tendang oleh Pelangi.


Tanpa merasa malu, Devano dan Silvi nampak santai saja melihat siapa yang datang sambil membenarkan pakaian mereka yang sedikit berantakan. Bahkan Devano sempat-sempatnya membantu membenahi rambut Silvi yang berantakan karena ulahnya.


"Menjijikan!" Umpat Gerald yang berdiri disamping Pelangi.


Namun, dibalas senyum sumbang oleh Devano. "Tidak usah munafik, kurasa kau juga sudah sering melakukannya." Ucapnya, namun tatapannya tertuju pada Pelangi. Ia yakin Pelangi juga sudah menyerahkan tubuhnya pada Gerald sehingga sangat tunduk padanya.


"Jaga mulut kotor mu itu sebelum aku membuatmu tidak bisa berbicara!" Ucap Gerald sangat geram. Jika tidak mengingat peringatan papanya agar tidak membuat keributan pasti ia sudah merobek mulut laki-laki baj!ngan itu.


Devano terkekeh, "Sudahlah lebih baik kalian pergi saja. Kedatangan kalian sangat mengganggu." Ucapnya.


Dan kali ini Devano tertawa dibuatnya. "Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kami berdua yang harus pergi? Hei nyonya Atmaja apa kau lupa sudah menyerahkan perusahaan ini secara sukarela kepada kami. Bisa aku ingatnya jika kau lupa, atau aku akan memperlihatkan surat pengalihan nama kepemilikan perusahaan yang sudah kau tandatangani." Ujarnya dengan begitu angkuhnya.


Pelangi mengepalkan tangannya menahan amarah, jika saja dulu ia teliti saat menandatangani surat penanaman modal usaha pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.


Tak lama kemudian dari pintu ruangan yang terbuka lebar, papa datang beberapa orang polisi.


Melihat kedatangan beberapa polisi beserta papanya Gerald, Devano dan Silvi serentak saja berdiri dari tempat duduknya.


Salah satu polisi yang membawa surat penangkapan langsung menghampiri Devano.


"Saudara Devano, Anda harus ikut ke kantor polisi. Anda ditahan dengan tuduhan telah memalsukan surat pengalihan nama perusahaan Atmaja group." Ucap polisi itu sembari menyerahkan surat penangkapan kepada Devano, kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menahan Devano.


"Pak, ini pasti salah."


Devano mencoba memberontak, namun ia tidak bisa berkutik dalam apitan dua polisi. Terlebih tangannya sudah diborgol.


"Silahkan jelaskan di kantor polisi." Ucap polisi. Ayo bawa." Lanjutnya memerintahkan kepada anak buahnya.


Saat akan keluar dari ruangan Devano menoleh kepada Silvi yang berdiri mematung, "Silvi segera susul aku ke kantor polisi dan jangan lupa kabari pengacaraku." Ujarnya.


Papa, Gerald dan Pelangi pun turut ikut ke kantor polisi kantor untuk menjadi saksi.

__ADS_1


.


.


.


Di luar kantor polisi, Silvi duduk di bangku panjang dengan tampak frustasi. Beberapa saat lalu Devano telah resmi dinyatakan menjadi tahanan, bahkan pengacaranya tidak bisa membantu karena semua bukti telah menyudutkan Devano. Bagaimana dirinya jika Devano ditahan? Selama ini hanya kepada Devano tempat ia bernaung.


"Ehem."


Suara deheman yang berasal dari suara yang sangat familiar ditelinga Silvi, tak membuatnya menoleh sedikitpun. Silvi tahu Gerald pasti ingin mengejeknya.


"Boleh aku duduk?"


Silvi tak menjawab, namun ia menggeser posisi duduknya.


Gerald pun duduk.


"Aku turut perihatin atas apa yang terjadi pada Devano, tapi itu memang sudah sepantasnya dia dapatkan atas perbuatannya."


Silvi bergeming, jika saja Devano angkat bicara dirinya pasti juga akan ditahan. Karena apa yang dilakukan oleh Devano merebut perusahaan Pelangi karena ia yang mempengaruhi. Namun, Silvi tidak mengerti kenapa Devano tidak ikut menjeratnya.


"Silvi, apa aku boleh mengatakan sesuatu?" Ujar Gerald tanpa melihat kearah mantan tunangannya itu.


"Aku tahu, kau pasti ingin mengejekku kan?" Silvi pun tak sedikitpun melihat kearah Gerald, tatapannya lurus menatap ke depan.


Gerald terkekeh, "Kau salah. Justru aku ingin mengatakan sesuatu tentang kita." Ujarnya, dan membuat Silvi langsung menoleh menatapnya dalam diam.


"Silvi, selama kita bersama mungkin kau menganggap aku laki-laki paling kaku di dunia ini. Aku tidak romantis, aku tidak seperti laki-laki lainnya yang bisa memanjakan kekasihnya. Tapi kau harus tahu satu hal, aku seperti itu karena sedang menjagamu dan juga menjaga diriku sendiri. Aku tidak mau sampai khilaf dan menodai mu sebelum hubungan kita halal. Tapi kau tidak bisa bersabar sedikit saja, menjelang hari pertunangan kita aku malah mendapatimu bermesraan dan bermanja-manja dengan laki-laki lain. Apa kau tahu? Betapa hancurnya perasaan ku saat itu, dikhianati oleh wanita yang sangat aku cintai."


Sepanjang kalimatnya, Gerald nampak tersenyum. Tak ada sedikitpun raut penyesalan diwajahnya.


Sementara Silvi, termangu setelah mendengar penuturan Gerald. Tak ada satu pun kata yang terucap dari bibirnya, selain penyesalan yang terbesit dalam hatinya. Sungguh bodoh ia melepas Gerald hanya karena mantan tunangannya itu tak pernah bersikap romantis.


Di dalam kantor polisi, Pelangi meminta izin kepada polisi untuk berbicara kepada Devano sebelum dimasukkan kedalam tahanan.


Di sebuah ruangan, Pelangi dan Devano duduk berhadapan dengan tatapan saling mengunci.


"Aku tahu, kau pasti ingin mengejekku kan?" Devano masih saja menatap Pelangi dengan sinis.


"Kau salah, justru aku ingin mengatakan sesuatu tentang kita." Ujar Pelangi, namun Devano sama sekali tidak tertarik. Laki-laki itu masih menunjukkan keangkuhannya. Bahkan saat Pelangi mencoba menggenggam tangannya, ia segera menariknya.


"Dev, selama ini aku mencintaimu dengan tulus, bahkan aku rela menyerahkan kehormatan ku yang seharusnya aku jaga untuk suamiku kelak. Dan aku tidak pernah menyesali itu, karena aku sangat mencintaimu. Dan saat aku mengetahui tentang kehamilan ku, aku sangat bahagia karena didalam rahimku telah tumbuh hasil buah cinta kita. Hari itu aku ingin memberitahukan tentang kehamilanku, tetapi hari itu juga aku ditampar oleh kenyataan bahwa ternyata selama ini kau hanya menjadikan aku budak nafsumu. Ternyata kau tidak benar-benar mencintai aku seperti aku yang sangat mencintaimu, sikap perhatian dan kasih sayangmu ternyata hanyalah topeng untuk membuat aku terperdaya agar kau dengan mudah merebut segalanya dariku. Aku marah, aku kecewa tapi jika boleh jujur aku sangat berterima kasih padamu. Karena dari kejadian itu aku bertemu dengan laki-laki yang benar-benar tulus mencintai aku meskipun sudah mengetahui semua tentang masa laluku. Dan untukmu, semoga kedepannya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setelah bebas nanti segera halalkan Silvi. Di luar sana belum tentu dia bisa menemukan laki-laki sebaik Gerald yang bisa menerima dirinya seperti Gerald yang mau menerima aku apa adanya."


Setelah mengatakan kalimat panjang lebar itu, Pelangi beranjak dari tempat duduknya. Tanpa berpamitan pada Devano ia langsung saja meninggalkan mantan kekasihnya itu.


Devano hanya bisa menatap kepergian Pelangi dengan nanar, sejujurnya sejak awal hatinya tak benar-benar setega itu pada Pelangi terlebih saat mengetahui tentang kehamilan Pelangi. Hanya saja, karena ia yang sudah dibutakan oleh cintanya Silvi membuatnya menutup segala iba dihatinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Pelangi." Setetes cairan bening menetes dari sudut mata Devano. Gurat penyesalan sangat kentara diwajahnya saat ini, sangat berbanding terbalik dengan sikap angkuh yang ditampilkannya dihadapan Pelangi agar tidak menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki dihadapan Pelangi.


__ADS_2