Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 17. MENCEGAH PERGI


__ADS_3

"Pelangi, bagaimana kabar Papa dan Mama mu?" Papa mengulang pertanyaannya melihat Pelangi hanya diam saja.


"Pa, seperti yang sudah aku bilang tadi, Pelangi ini hidup sebatang kara. Orangtuanya sudah meninggal." Gerald yang menjawab.


Membuat papa dan mama benar-benar terkejut. Selama ini mereka masih menunggu kedatangan kedua sahabatnya itu meskipun tak ada harapan lagi untuk menunaikan janji masa lalu. Namun, ternyata kedua sahabatnya itu tidak pernah datang karena telah meninggal dunia.


"Pelangi, apa yang menyebabkan Papa dan Mama mu meninggal? Maksudnya, apa mereka sakit?" Tanya papa lagi.


Sementara mama sudah tidak bisa berkata-kata. Belum hilang rasa terkejutnya mengetahui jika Pelangi pernah hamil dan keguguran, kini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kedua sahabat yang pernah berjanji akan datang setelah anak-anak mereka beranjak dewasa ternyata telah meninggal dunia.


"Papa dan Mama ku meninggal di tempat saat mengalami kecelakaan, Om." Jawab Pelangi.


Terdengar helaan nafas berat papa sambil mengusap wajahnya, pun dengan mama yang kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.


Beberapa saat ruangan itu sunyi, hanya empat pasang mata yang sesekali saling melirik satu sama lainnya.


Gerald ingin sekali mendekati Pelangi, namun mendapatkan lirikan tajam dari mama membuat nyalinya menciut dan akhirnya hanya duduk terpaku di tempatnya.


Setelah merasa lebih baik, mama kembali menegakkan posisi duduknya. Wanita paruh baya itu terlihat beberapa kali menghela nafasnya sambil melirik Gerald dan Pelangi bergantian.


"Gerald, Pelangi, ada yang mau Mama katakan pada kalian berdua. Ini tentang janji masa lalu kami dengan orangtuanya Pelangi. Meskipun sudah sangat terlambat dan Mama rasa sepertinya sudah tidak mungkin lagi menunaikan janji itu, tapi Mama tetap akan memberitahu kalian berdua. Bahwa sebenarnya kalian berdua itu pernah dijodohkan saat masih kecil. Namun karena permintaan konyol Bagas dan Ayu yang menantang kami kala itu, membuat kami tidak pernah bertemu lagi."


Pelangi dan Gerald terperangah mendengar penuturan mama. Untuk sesaat keduanya berusaha mencerna, namun di detik berikutnya Pelangi menunduk sambil tersenyum kecut. Takdir seolah mempermainkan hidupnya. Orangtuanya ternyata pernah menjodohkannya saat kecil, namun saat bertemu jodoh masa kecilnya dalam keadaan yang sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi. Terlebih mamanya Gerald mengatakan 'sepertinya sudah tidak mungkin lagi menunaikan janji itu'. Dan Pelangi mengerti apa maksudnya. Sudah jelas mamanya Gerald tidak akan merestui ia bersama Gerald setelah tahu fakta tentang dirinya. Orangtua mana yang ingin mempunyai menantu dengan masa lalu yang kurang baik.


Berbeda dengan Gerald, laki-laki itu malah tampak antusias mendekati sang mama setelah tahu bahwa ia dan Pelangi ternyata pernah dijodohkan saat kecil.


"Ma, semuanya belum terlambat dan janji itu masih bisa ditunaikan. Lihatlah Ma, aku dan Pelangi sudah dipertemukan, lalu apa lagi?" Gerald menatap mamanya dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Gerald, jika saja Pelangi tidak... Mama pasti akan dengan senang hati menunaikan janji itu. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, rasanya Mama tidak bisa menerima Pelangi sebagai menantu setelah tahu..." Mama benar-benar tak kuasa menyebutkan tentang Pelangi yang pernah hamil dan keguguran.


Gerald langsung beringsut turun dari sofa yang di duduki nya bersimpuh di hadapan sang mama. Menggenggam erat tangan wanita yang telah melahirkannya itu, serta menatapnya dengan penuh permohonan. Bahkan Gerald sama sekali tidak merasa malu memohon pada mamanya di hadapan Pelangi.


"Gerald, selama ini Mama dan Papa selalu menuruti apapun keinginanmu, tapi tidak untuk kali ini." Mama langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Gerald yang begitu memohon.


"Ma, untuk sekali ini saja aku mohon penuhi permintaanku. Aku janji jika Mama merestui aku dan Pelangi. Kami akan hidup sederhana tanpa fasilitas apapun dari Mama dan Papa."


Kedua mata Pelangi sudah berkaca-kaca melihat perjuangan Gerald untuk mendapatkan restu. Wanita itu merasa tidak tega melihat kekasihnya terus memohon tanpa dipedulikan.


"Gerald sudah, tidak perlu memohon seperti itu hanya untukku. Mungkin kita hanya berjodoh di masa lalu, dan untuk masa sekarang sebaiknya kita jalani kehidupan kita masing-masing. Dan terima kasih atas bantuannya selama ini."


"Tidak Pelangi, jangan berbicara seperti itu." Gerald menggelengkan kepalanya.


Pelangi beranjak dari tempat duduknya. "Om, Tante, maaf sudah menganggu ketenangan nya hari ini, aku pamit dulu."


Baru beberapa langkah, Pelangi tersentak saat tangan kekar itu menariknya.


"Sudahlah Gerald, jangan menjadi anak durhaka karena membangkang pada orangtua. Seharusnya kamu bersyukur masih memiliki Papa dan Mama, tidak seperti aku yang hanya sebatang kara." Setelahnya Pelangi menarik tangannya dengan cukup kuat, dan kembali melanjutkan langkahnya setelah tangannya terlepas dari genggaman Gerald.


"Pelangi...


"Ma, aku mohon tolong hentikan Pelangi pergi." Gerald masih saja memohon, namun sang mama sama sekali tidak memperdulikan.


"Ma, Pelangi tidak punya siapa-siapa lagi. Setelah kehilangan semua hartanya dia tinggal di apartemen yang aku berikan. Tapi setelah ini dia pasti pergi dari apartemen itu, apa Mama tidak kasihan pada Pelangi yang akan terlunta-lunta di luar sana sendirian."


Namun, mama seakan tak perduli begitupun dengan papa. Dua paruh baya itu bahkan seakan tidak mendengar permohonan putranya.

__ADS_1


"Baiklah jika Mama dan Papa tetap tidak merestui aku dan Pelangi. Tapi aku tetap akan mengejar Pelangi, aku tidak perduli jika Mama dan Papa mencoret namaku sekalipun dalam daftar anggota keluarga." Setelah mengatakan itu Gerald berbalik, dengan langkah cepat ia meninggalkan ruangan itu menyusul Pelangi.


Bahkan Gerald rela bila disebut sebagai anak pembangkangan karena tidak menurut pada orangtua demi mengejar cintanya.


Tepat saat Pelangi akan masuk kedalam taksi, Gerald berhasil menyusul kekasihnya itu. Ia menarik tangan Pelangi dan menutup pintu taksi itu kemudian meminta supir taksi pergi setelah memberikan beberapa lembar uang ratusan.


"Gerald apa yang kamu lakukan?"


"Aku hanya sedang memperjuangkan cinta ku, aku sangat yakin jika kebahagiaanku ada bersamamu. Meskipun tanpa restu orangtuaku, kita akan tetap bersama."


"Jangan gila, Gerald. Suatu hubungan tidak akan berjalan harmonis tanpa restu orangtua didalamnya. Dan aku juga tidak mau bersamamu jika tidak ada restu dari orangtuamu. Jadi sebaiknya mari kita saling melupakan, anggap saja kita tidak pernah bertemu."


Pelangi kembali menyetop taksi yang lewat dan kali tidak akan membiarkan Gerald menghalanginya lagi untuk pergi. Dengan kuat Pelangi mendorong tubuh Gerald sebelum laki-laki itu kembali menghadangnya.


Tubuh Gerald yang terhuyung ke belakang, hampir saja membentur pagar jika sang papa tak segera menahan tubuhnya.


"Pa,"


"Tunggu, Pelangi!"


Pelangi yang baru saja membuka pintu taksi dan hendak masuk, seketika dikagetkan dengan teriakan yang cukup keras memanggil namanya. Ia menoleh, terlihat mamanya Gerald berjalan kearahnya.


"Apa kamu akan pergi begitu saja meninggalkan Gerald dengan cintanya yang begitu besar padamu?"


"Maaf Tante, aku hanya tidak ingin Gerald menjadi anak pembangkang hanya karena wanita seperti aku. Jika aku jadi Tante, aku pun juga akan menginginkan yang terbaik untuk Putraku dan akan mencarikan wanita yang lebih baik untuknya." Ujar Pelangi dengan raut wajah yang datar. Sungguh ia ingin segera pergi dan menumpahkan semua sesak di dada dan air mata yang sedari tadi ia tahan.


Mama menghela nafasnya, ternyata Pelangi cukup sadar diri dan sepertinya ia saja yang terlalu egois seolah menutup mata.

__ADS_1


Mengingat ucapan suaminya beberapa saat lalu, mama pun akhirnya sedikit mengerti jika putranya tidak akan pernah bahagia dengan tindakannya ini.


"Kamu tidak ingin Gerald menjadi anak yang pembangkang, kami pun tidak mau menjadi orangtua yang egois menggadaikan kebahagiaan Putra kami hanya karena masa lalu mu."


__ADS_2