Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 12. KAMU MAU KAN?


__ADS_3

"Ayo Gerald, lanjutkan ungkapkan cintamu itu tapi aku yakin kau akan menyesal setelah tahu siapa Pelangi sebenarnya." Devano menatap Gerald dengan tersenyum sinis, kemudian beralih menatap Pelangi dengan senyuman menyeringai seolah sedang memberi ancaman.


"Apa maksudmu?" Tanya Gerald.


Wajah tegang yang ditampilkan Gerald, membuat Devano berpikir akan kembali mengalahkan Gerald hari ini dan akan kembali mengambil Pelangi sama seperti dulu ia mengambil Silvi.


"Tapi sebelum aku bicara aku sarankan kau jaga baik-baik jantung mu itu, jangan sampai kau jantungan dadakan setelah aku mengatakan sesuatu tentang Pelangi." Devano tersenyum penuh kemenangan.


"Bicaralah Devano, apa yang ingin kau katakan tentang Pelangi. Dan aku pastikan jantung ku akan tetap baik-baik saja setelah mendengarnya" Ujarnyay Gerald.


Devano terkekeh, "Kau percaya diri sekali, tapi oke baiklah aku akan katakan dan pasang telinga mu baik-baik." Devano menoleh menatap Pelangi sebentar kemudian kembali menatap Gerald.


"Asal kau tahu, wanita yang baru saja kau tembak ini sedang mengandung. Dan apa kau tahu siapa Ayah bayi yang dikandungnya itu? Aku, Devano Pratama!" Ujar Devano sambil menepuk pelan dadanya. Laki-laki itu mengembangkan senyum lebar ketika melihat raut terkejut rivalnya. Yang sebenarnya itu adalah raut kemarahan.


Di bawah meja kedua tangan Gerald sudah terkepal erat, jika saja tidak berada ditempat umum pasti ia sudah menghadiahkan bogem mentah nya ke wajah Devano, hal yang seharusnya dari dulu ia lakukan.


"Bagaimana Tuan Gerald yang terhormat, apa Anda masih berniat menjadikan Pelangi kekasih Anda, hum?" Sebelah alis Devano terangkat menatap Gerald dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya, lebih tepatnya senyuman mengejek. Ia yakin jika Gerald pasti akan sangat kecewa setelah mengetahui tentang Pelangi yang ternyata sedang mengandung anaknya dan sudah pasti akan menjauhi Pelangi.


Baik Gerald maupun Pelangi masih sama-sama diam dengan ekspresi datar, namun dalam hati Gerald ingin sekali menghajar laki-laki brengsek dihadapannya ini. Masih membekas diingatkannya bagaimana dulu Devano merebut calon tunangannya, dan beberapa hari lalu ia mendengar sendiri Devano ingin mendekati Pelangi untuk menggugurkan kandungannya. Dan Gerald tahu apa tujuan Devano mengatakan tentang Pelangi agar ia menjauhi Pelangi dan Devano sendiri bisa dengan mudah menjalankan aksinya.


"Aku rasa kamu masih memiliki harga diri untuk menjalin hubungan dengan wanita yang telah mengandung benih laki-laki lain."


Seperti yang sudah dikatakan Gerald sebelumnya, ia ingin mengikuti bagaimana permainan Devano maka iapun akan berpura-pura terkejut mendengar fakta tentang Pelangi.


"Pelangi, apa benar yang dia katakan?" Tanya Gerald dengan sorot mata yang tajam.


Pelangi hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.


Seketika tawa Devano pun pecah, "Kamu sudah lihat sendiri kan? Pelangi saja mengakuinya. Jadi sudahlah Gerald, pungut kembali ungkapan cintamu yang telah kau lontarkan kepada Pelangi karena Pelangi akan kembali padaku karena ada anak diantara kami."

__ADS_1


'Brengsek!' Umpat Gerald dalam hati, rasanya benar-benar tak tahan ingin membuat Devano babak belur. Ia melirik Pelangi sekilas kemudian beranjak dari tempatnya duduk lalu mengayun langkah keluar dari restoran tersebut.


Pelangi pun beranjak menyusul Gerald, begitupun dengan Devano yang juga menyusul Pelangi.


"Lepas!" Pelangi menghempaskan dengan kasar tangan Devano yang menggenggam tangannya. Jika dulu ia selalu merindukan sentuhan Devano, tetapi sekarang ia benar merasa muak dengan laki-laki dihadapannya ini terlebih saat Gerald mengatakan jika Devano berniat mendekatinya lagi hanya untuk menggugurkan kandungannya.


"Sudahlah Pelangi, jangan sok jual mahal padahal kamu itu masih menginginkan aku kan? Jangan lupa jika didalam perutmu ada benihku dan dia pasti membutuhkan Aku Ayahnya. Jadi tidak ada gunanya kamu mengejar Gerald, karena dia pasti sudah merasa jijik sama kamu. Lihatlah, dia pergi begitu saja meninggalkan kamu."


"Kata siapa aku meninggalkan Pelangi?"


Devano tersentak kaget karena tiba-tiba saja Gerald sudah berdiri disampingnya.


"Rasakan ini!"


Bugh...!!!


Devano seketika tersungkur ke tanah karena Gerald yang tiba-tiba saja memberikan pukulan diwajahnya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Deg...


Devano terkejut mendengar penuturan Gerald. Bukan terkejut karena Gerald mengetahui rencananya yang ingin menggugurkan kandungan Pelangi. Tetapi terkejut mendengar kenyataan bahwa Pelangi telah kehilangan janinnya saat mengalami kecelakaan.


Dengan cepat Devano beranjak dari atas tanah, berdiri di hadapan Pelangi.


"Pelangi, apa itu benar? Kamu...


"Kenapa? Kenapa kamu kelihatan terkejut? Harusnya kamu senang karena kamu tidak perlu repot-repot mengotori tanganmu untuk melenyapkan darah daging mu sendiri!"


Setelah mengatakan kalimat yang bagaikan tamparan untuk Devano, wanita itu segera mengayun langkahnya menuju dimana mobil Gerald terparkir.

__ADS_1


Senyum penuh kemenangan diterbitkan Gerald sebelum meninggalkan Devano yang masih dengan ekspresi terkejutnya.


.


.


.


Melihat keadaan Pelangi yang sepertinya tidak baik-baik saja, Gerald pun memutuskan untuk mengantarkan Pelangi pulang ke apartemen. Toh hari ini juga sudah tidak ada lagi yang perlu dikerjakan Pelangi.


Sesampainya di apartemen, Gerald tercengang karena Pelangi mencegahnya ikut masuk.


"Gerald, sebaiknya mulai sekarang kamu jangan sering-sering kesini. Aku khawatir akan menjadi fitnah nantinya, atau kalau perlu aku akan mencari kontrakan saja." Ujar Pelangi.


"Kenapa Pelangi, apa kamu ingin menghindari aku?"


"Kamu salah paham Gerald, aku hanya khawatir akan timbul fitnah jika kita sering-sering bertemu."


"Bukan, bukan itu Pelangi. Aku tahu kamu memang sedang ingin menghindari aku. Kenapa? Apa karena aku mengungkapkan perasaan ku tadi di restoran, iya?"


Pelangi tak menjawab, karena apa yang dikatakan Gerald benar. Ia memang ingin menghindari laki-laki itu, ungkapkan cinta Gerald membuatnya dilema. Bukannya karena ia tidak menyukai Gerald, hanya saja karena ia cukup sadar diri. Pelangi merasa, wanita yang telah ternoda seperti dirinya sama sekali tidak pantas untuk laki-laki sebaik Gerald.


"Kenapa diam, apa yang aku bilang benarkan? Kenapa Pelangi, apa kamu masih berharap kembali pada Devano?" Gerald sudah tampak frustasi, terlebih jika dugaannya itu benar.


"Bukan seperti itu, aku sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk kembali lagi dengan Devano. Bahkan aku sudah muak melihatnya."


"Lalu karena apa Pelangi? Apa kamu tidak menyukai aku?"


"Wanita mana yang tidak menyukai laki-laki sebaik dirimu. Gerald, kamu sudah tahu tentang diriku, jadi sebaiknya kamu mencari pasangan yang sebanding dengan dirimu. Aku tidak pantas untuk kamu, Aku ini sudah kotor." Ucap Pelangi dengan lirih.

__ADS_1


Gerald menggelengkan kepalanya, "Jangan berbicara seperti itu, Pelangi. Jangan menyamakan dirimu dengan sampah, Aku tidak suka mendengarnya. Aku tulus mencintaimu, jadi apapun keadaanmu Aku akan menerimanya."


"Pelangi, kamu mau kan?"


__ADS_2