
*Inggit
Tak terasa waktu berlalu cepat. Menggilas pelan sedikit demi sedikit rasa bersemayam di hari-hari kemarin. Meski masih merasa sedih tapi tangisnya tidak seintens hari-hari pertama kepergian dua orang yang begitu penting dalam hidupnya. Ia mulai bisa lebih banyak tersenyum terlebih jika sedang bersama sahabat-sahabatnya.
Acara tahlilan tetap berjalan baik selama seminggu ini dan Ia pun masih berusaha profesional tetap masuk kerja setiap harinya. Sebisa mungkin menabir dukanya dengan senyum kepada setiap pasien yang Ia hadapi demi menjaga totalitas dalam bertugas.
Ia sudah mulai bisa menahan sedih di saat-saat tertentu meski di dalam sana Ia hampir gila mengatur kestabilan jiwanya. Ah, duka tetap duka. Meski wajah berusaha ceria di tengah taman bunga hati tetaplah merasa seperti berada di lembah berduri yang penuh kemalangan.
Sore saat Ia usai dengan tugas jaga, Ia pulang dengan menaiki motor matic keluaran terbaru yang menjadi barang yang paling Ia sayangi. Betapa tidak motor itu adalah murni hasil dari jerih payahnya sendiri. Gaji yang Ia kumpulkan setiap bulannya di awal-awal Ia bekerja. Ia melaju dengan kecepatan sedang. Menyusuri jalan ramai ibu kota di sore menjelang malam.
Ia tiba di rumah dengan selamat. Sedikit merasa aneh dengan mobil jeep hitam di depan rumah, membuatnya buru-buru memarkir motornya cepat dan masuk. Ia bersalam tapi tidak ada sahutan. Ia malah menjumpai wajah Mang Jaja dan Mbok Darmi yang sedang berderai air mata dan ketakutan di depan empat pria bertubuh besar berpakaian serba hitam di ruang tamu.
Ia yang kaget bercampur heran buru-buru berlari menghampiri kedua orang yang sudah Ia anggap sebagai orang tua itu. Belum sempat Ia bertanya siapa keempat pria misterius itu, salah satu dari mereka langsung membentak plus wajah garangnya.
"Saat ini juga kalian angkat kaki dari rumah ini. Rumah ini beserta seluruh isinya disita untuk melunasi utang-utang bapak kamu di kantor juga mengganti uang yang sudah dia ambil hasil korupsi. Itu pun masih kurang 500juta. Karena tinggal kamu yang tersisa maka utang itu dilimpahkan ke kamu."
Serasa seperti langit runtuh menghimpitnya mendengar ucapan pria garang tersebut. Ia menggeleng tidak percaya. Papa adalah karyawan yang terkenal dengan kejujurannya. Tidak mungkin Papa berbuat serendah itu.
"Nggak mungkin. Kalian pasti bohong. Papa nggak mungkin ngelakuin itu semua. Itu fitnah. Saya nggak percaya!" Pekiknya histeris. Ia kini ikut menangis tak henti berucap tak percaya pada keempat pria di hadapannya itu.
"Kamu tidak tau apa-apa Nona. Pokoknya malam ini juga kalian angkat kaki dari rumah ini jika tidak ingin kami seret keluar dengan paksa."
"Pak.. pak.. Tolong jangan usir kami. Kasian non Inggit nggak punya siapa-siapa di sini. Tolong..!" Kali ini Mbok Darmi yang berlutut seraya berucap bersama derai air matanya.
Tapi keempat pria itu sepertinya tidak perduli dan tidak punya hati. Salah satu dari mereka malah mendorong Mbok Darmi sampai hampir terjungkal. Ia yang tak tega melihat itu langsung berlari mengangkat Mbok Darmi.
"Mbok.. bangun, Mbok. Mbok nggak perlu begini. Orang-orang seperti mereka nggak akan pernah merasa kasian dengan orang lain."
Ia lalu menatap sedikit tajam orang-orang itu entah keberanian dari mana.
"Mana buktinya jika Papa saya korupsi dan punya utang?"
Tanpa berucap salah satu dari mereka melempak ke atas meja sebuah map berisi kertas-kertas laporan keuangan. Dengan tangan gemetar Ia mengambil map tersebut dan membaca isinya.
__ADS_1
Meski sudah membaca dengan jelas semua data yang tertera di sana hatinya tetap meyakini dan percaya sepenuhnya jika Papa adalah orang jujur dan tidak mungkin melakukan korupsi. Tapi untuk melawan orang-orang tersebut Ia juga tidak mampu. Mereka memiliki bukti tertulis yang jika Ia berontak maka Ia sudah bisa meraba di mana Ia akan berakhir. Di penjara.
"Jangan biarkan kami menunggu lama. Cepat bereskan semua pakaian kalian setelah itu cepat pergi dari sini. Dan kamu tinggalkan data diri kamu karena setelah ini kamu masih harus berurusan dengan bos kami soal sisa utang bapak kamu itu." Pria berbadan besar berotot itu berucap seraya menunjuk ke arahnya.
Ia masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang sedang terjadi. Membuatnya seakan kehilangan kesadaran sekejap, hingga bentakan pria tadi mengembalikan kesadarannya.
"Cepat!"
Kali ini Ia benar-benar bingung dan tak punya pilihan lain. Ia pun mengajak Mang Jaja dan Mbok Darmi masuk beberes. Keduanya langsung berdiri tanpa ba bi bu.
Ia hanya mengambil barang yang Ia rasa penting saja. Terutama ijazah dan berkas-berkas penting lainnya. Tak lupa Ia mengambil beberapa foto keluarganya dan barang-barang penting milik Papa dan Mama.
Ia menyerahkan semua kunci dan menyimpannya di atas meja. Ketiga pria bertubuh besar itu langsung tersenyum miring. Ia masih sempat mendengar salah satu di antaranya berbicara dengan seseorang lewat telepon,
"Beres, Boss!"
Mereka bertiga pun keluar bersama koper dan tas di tangan. Tanpa melihat ke arah keempat pria itu ketiganya berjalan keluar menuju pintu utama. Mereka bertiga masih berdiri bingung di luar rumah saat keempat pria itu pergi dari sana setelah mengunci pintu rumah.
Di mana Ia akan mencari uang sebanyak lima ratus juta dalam jangka waktu secepat itu. Orang-orang tadi hanya memberinya waktu sebulan. Ia kembali meratap pilu. Memanggil nama Mama Papa dengan lirih.
Mang Jaja dan Mbok Darmi ikut menangis dan ikut duduk. Kedua ART itu pun tak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya jalan buntu yang mereka temui kini adalah pulang kampung. Mereka juga tak punya kerabat di sini. Pak Surya, Papanya lah yang memboyong keduanya ke kota sebab pertemuan yang tak disengaja keluarga. Tapi untuk meninggalkannya sendiri pun kedua orang pelayan setia itu juga tak kan tega.
"Non, ikut kita aja, yah, pulang kampung."
Ia yang msih belum ada kekuatan berbicara hanya mampu menggeleng. Ia tak bisa berpikir untuk saat ini. Ia adalah gadis yang selalu di didik untuk bertanggung jawab atas setiap hal yang menjadi tanggungannya. Ia tidak mungkin sembunyi atau lari dari kenyataan. Mau tidak mau, suka atau tidak, Ia harus hadapi semua ini. Bagaimana pun caranya, asal hala Ia akan lakukan demi menebus utang Papa itu. Tak peduli hal itu benar atau tidak, Ia hanya ingin berbaik sangka untuk saat ini, Tuhan itu adil dan tidak pernah tidur. Allah maha tahu segala sesuatunya.
"Inggit nggak bisa lari dari tanggung jawab ini, Mang, Mbok. Orang-orang itu cuma ngasi waktu sebulan buat tebusin utang itu." Ia akhirnya berucap lemah setelah membiarkan kedua ART menunggu Ia membuka suara.
"Tapi, di mana Non bisa dapet uang sebanyak itu cuma dalam waktu sebulan?"
"Inggit blum tau, Mang."
Ia menghela nafas dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia lalu menatap nanar kedua ART yang sudah Ia anggap orang tuanya itu.
__ADS_1
"Tuhan itu baik, kan, Mang, Mbok? Tuhan kalau ngasi ujian pasti ngasi jalan keluar, kan?" Ia berucap sambil terisak berusaha menguatkan hatinya.
"I-iya, Non. Non anak yang baik. Tuhan pasti baik sama Non."
Ia pun mengangguk setelah bunyi adzan maghrib tetiba terdengar. Ia lalu berfikir untuk sementara mencari rumah kost agar minimal malam ini mereka bisa berteduh.
Terbiasa bolak balik rumah dan rumah sakit membuatnya banyak tahu dari hasil membaca plang-plang pemberitahuan. Ia memilih kostan yang terletak tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Ia pun mengajak kedua ARTnya untuk keluar dari halaman rumah itu. Rumah yang selama ini bayak menyimpan kenangan indah bersama Mama dan Papa. Ia kembali menatap lama rumah tersebut. Air matanya kembali berlinang. Dalam hati berucap lirih, jika ini semua adalah harta halal murni keringat Papa maka Ia menyimpan harapan dan keyakinan yang besar jika suatu saat nanti semua ini akan kembali padanya dalam keadaan baik dan terhormat.
Ia memesan taxi online untuk Mang Jaja dan Mbok Darmi. Tak lupa memberi tahu alamat jelas kepada sopir taxi itu. Sementara Ia sendiri menaiki motor matic kesayangannya. Untung Ia masih punya simpanan uang meski tidak banyak tapi jika Ia berhemat bisa lah untuk bertahan hidup sampai beberapa bulan ke depan.
Ia mampir ke sebuah ATM tak jauh dari kostan putri yang hendak Ia tuju. Otaknya kali ini benar-benar mumet, sampai-sampai Ia tak terpikir untuk memberi tahu sahabat-sahabatnya tentang hal yang sedang menimpanya.
Ia masuk dan dari luar Ia sudah melihat Mang Jaja dan Mbok Darmi di sana bersama seorang ibu paruh baya. Mungkin pemilik kostan. Ia pun masuk setelah memarkirkan motornya. Ia menjumpai ketiganya di teras kostan dan menyalami dengan sopan dengan sang Ibu. Ternyata tebakannya benar. Si ibu adalah si empunya kostan rapi dan bersih itu.
Setelah kenalan dan penyampaikna maksudnya, akhirnya Ia bisa tinggal di sana. Ia membayar hingga enam bulan ke depan. Ibu kost yang nampaknya ramah itu tersenyum senang dan dengan ramah membawa mereka ke kamar yang hendak Ia tempati.
Ruangan dalamnya cukup luas. Ia suka sebab bersih dan terawat. Terdiri dari satu kamar, ruang tamu kecil dan ruang tamu. Mini kitchen, WC dan kamar mandi.
Setelah semua selesai sang pemilik pun minta diri dan berharap mereka mereka betah. Ia mengangguk ramah dan tak lupa berterima kasih.
Belum ingin membahas apapun, mereka memutuskan untuk shalat maghrib dulu. Waktu maghrib hampir habis. Ia pun bergegas untuk berwudhu dan shalat. Bersimpuh menjumpai Tuhannya dalam kekhusyukan. Mengadu dan meminta kekuatan untuk beban seberat yang sedang Ia hadapi.
Ia kembali berderai air mata dalam sujud panjang di rakaat terakhirnya. Betapa berat dan bertubinya terpaan badai hidup yang sedang menimpanya, sampai-sampai Ia ragu, akankah ada pelangi setelah badai itu. Akankah Ia menemukan cerah mentari di esok hari setelah mendung hari ini? Masih adakah kebahagiaan itu setelah semua kepedihan ini?
Ia kembali menengadah. Menadah tangan memohon petunjuk dan kesabaran untuk semua yang sedang Ia hadapi. Satu hal yang masih membuatnya bersyukur, meski sedang terpuruk hingga di titik nadhir, Ia tidak melupakan jika masih adaTuhan di atas sana yang maha kuat.
Malam berlalu dengan suasana sedih yang tak kunjung mereda. Ia bahkan seakan sulit memejam setelah Ia dan Mang Jaja juga Mbok Darmi berpisah untuk tidur setelah makan malam sederhana yang Ia pesan online.
Tak banyak percakapan lagi setelahnya. Mbok Darmi dan Mang Jaja memilih tidur di ruang tengah beralaskan selimut yang Ia bawa dari rumah, meski Ia sudah memaksa keduanya untuk tidur di kamar. Ia pun menyerah. Membiarkan keduanya. Ia bahkan tak sempat memeriksa ponselnya saking mengantuknya. Tubuh dan otaknya benar-benar penat yang teramat sangat. Ia terlelap membawa kesedihannya sembari memeluk erat foto mendiang mama dan papanya.
TBC>>>
__ADS_1