
Sebelumnya...
Tak lama setelah Gerald keluar menyusul Pelangi, papa pun berpindah duduk di samping mama. Memberi pengertian pada istrinya itu.
"Sama seperti Mama, Papa pun tak kalah terkejutnya mengetahui jika Pelangi itu pernah... Tapi, Ma, demi kebahagiaan Gerald Papa rasa tidak akan menurunkan harga diri kita sebagai orangtua jika mau sedikit saja mengalah pada ego kita. Apa Mama tidak melihat bagaimana Gerald yang memohon hanya untuk wanita seperti Pelangi? Di mata kita mungkin Pelangi memang tidak layak untuk dijadikan menantu, tapi bagi Gerald Pelangi adalah kebahagiaannya. Coba Mama pikirkan, apa Gerald pernah seperti ini karena seorang wanita? Tidak, bahkan dengan Silvi yang sangat ingin ia nikahi tidak pernah sekalipun Gerald berlebihan seperti ini sampai rela memohon kepada kita. Bahkan rela hidup sederhana bersama Pelangi tanpa fasilitas apapun dari kita. Ma, apakah Mama tidak melihat betapa besar cinta Putra kita pada Pelangi? Ma, Gerald sama sekali tidak memperdulikan apapun tentang masa lalu Pelangi, yang Gerald tahu dia bahagia bersama Pelangi. Demi kebahagian Putra kita sendiri kenapa kita tidak mencoba menerima Pelangi apa adanya sama seperti yang dilakukan Gerald."
Mama memejamkan mata seiring helaan nafas panjang setelah mendengar ucapan panjang lebar suaminya. Sebagai wanita, mama tentu mengerti apa yang dirasakan Pelangi saat ini. Wanita itu pasti benar-benar patah hati atas penolakannya. Namun, hanya karena kalimat 'setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya termasuk seorang pendamping' Membuat mama seolah menutup mata bahkan pintu hatinya akan perasaan Pelangi saat ini. Tak perduli jika pelangi adalah anak sahabatnya yang pernah dijodohkan dengan Gerald semasa kecil.
"Iya, Papa benar. Seharusnya kita mengalah demi kebahagiaan Gerald."
Detik itu juga mama beranjak dari tempat duduknya melangkah keluar. Akan melakukan seperti permintaan putranya, mencegah Pelangi untuk pergi. Pun dengan papa yang juga ikut menyusul istrinya keluar.
.
.
.
Setelah segala pertimbangan mengatasnamakan kebahagiaan putranya. Akhirnya mama pun mau merestui Pelangi dan Gerald. Meskipun hatinya belum sepenuhnya terima jika putranya harus bersanding dengan wanita seperti Pelangi, namun ketidakrelaan nya terbayarkan dengan melihat sendiri binar bahagia yang tak lepas menghiasi wajah tampan putranya.
Dari jarak yang cukup jauh, mama tak lepas menatap sepasang kekasih yang tengah duduk berdua di taman belakang rumah. Keduanya tampak mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Yang mama lihat, Gerald tak melepas senyum diwajahnya sementara Pelangi terlihat hanya sesekali tersenyum.
"Aku sangat bahagia sekali, Pelangi, akhirnya Mama mau merestui kita. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera menikahi mu."
__ADS_1
Pelangi terkekeh, "Kau itu kenapa suka sekali bertindak terburu-buru. Lihatlah hari ini, karena kau yang terlalu terburu-buru membawaku bertemu orangtuamu, rasanya aku ingin lenyap saja dari muka bumi ini."
"Apa kau sakit hati dengan ucapan Mama?"
Pelangi menggeleng. "Setiap Ibu pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya."
"Itu benar, tapi terkadang orangtua egois mengatasnamakan kebahagiaan anaknya. Padahal yang dia anggap terbaik belum tentu baik untuk anaknya." Ujar Gerald. Laki-laki itu tersenyum kemudian meraih tangan Pelangi kedalam genggamnya.
"Pelangi, aku serius aku ingin segera meresmikan hubungan kita jenjang pernikahan. Aku tidak ingin berlama-lama pacaran karena aku rasa pacaran setelah menikah itu lebih baik."
Pelangi tersenyum, sungguh demi apapun ia sangat terharu dengan ucapan Gerald. Seandainya dari dulu Tuhan mempertemukannya dengan laki-laki seperti Gerald, pasti sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya kini masih ia miliki. Namun, ia juga tidak bisa menyalahkan takdir yang mempertemukannya dengan laki-laki yang telah merenggut segalanya. Karena dirinya pun turut salah, dengan mudahnya terbuai bujuk rayu.
"Pelangi, Kamu mau kan?"
"Wanita mana yang tidak mau menikah dengan laki-laki sepertimu. Iya, aku mau tapi aku ada satu permintaan. Apa kamu bisa memenuhinya?"
"Bantu aku merebut kembali semua hartaku, setelah itu baru kita akan menikah."
Gerald sedikit terperangah mendengar permintaan Pelangi. Jika saja kekasihnya meminta yang lain semisal benda pasti ia akan memenuhinya sekarang juga. Namun, untuk membantu Pelangi merebut kembali semua hartanya mungkin akan memakan waktu yang cukup lama dan membuatnya harus menunggu untuk segera memperistri Pelangi.
"Kau tidak perlu khawatir soal itu, bukankah aku sudah pernah mengatakan akan membantumu. Tapi itu bisa kita lakukan setelah menikah, kan?" Gerald berusaha menawar, sungguh ia sudah tak sabar ingin segera menghalalkan Pelangi.
Namun, Pelangi menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin menikah setelah aku kembali menjadi Pelangi Atmaja, agar aku sepadan dengan Suamiku nanti." Pelangi terkekeh melihat tampang cemberut kekasihnya.
__ADS_1
"Jangan cemberut seperti itu, lebih baik pikiran saja bagaimana caranya agar dengan mudah untuk merebut kembali semua hartaku supaya kita bisa segera menikah." Pelangi mengedipkan sebelah matanya yang membuat Gerald tersenyum simpul.
.
.
.
Malam hari...
Jika biasanya Gerald menghabiskan waktu makan malamnya di apartemen Pelangi, tetapi tidak dengan malam ini. Sejak sore laki-laki itu sudah berada dirumah.
Usai makan malam, Gerald langsung saja mengutarakan niatnya pada mama dan papanya yang ingin segera menikahi Pelangi.
"Kau ingin menikah tapi kenapa wajahmu tampak murung seperti itu?" Tanya papa melihat raut wajah Gerald berbanding terbalik dengan ucapannya, seharusnya putranya itu tampak bahagia.
"Pelangi hanya ingin menikah setelah aku berhasil membantunya untuk merebut kembali semua hartanya." Jawab Gerald.
"Lalu kenapa?"
"Itu akan lama, Pa, sementara aku...
"Sudah tidak sabar ingin segera menikah, begitu?" Lanjut papa menyela ucapan putranya.
__ADS_1
Gerald mengulum senyum sembari menggaruk pelipisnya. "Iya, Pa." Jawabnya.
"Itu tidak akan lama, Gerald, karena Papa akan membantumu. Jika mereka melakukannya dengan cara yang licik maka kita juga akan melakukannya dengan cara yang sama." Ucap papa sambil tersenyum.