Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 11. MENGUNGKAPKAN


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Gerald sampai dirumahnya. Laki-laki itu bersenandung pelan sembari melangkah memasuki rumah. Sebelah tangannya mengelus perut dan sesekali masih bersendawa karena beberapa saat lalu telah menghabiskan dua piring nasi beserta lauk-pauknya di apartemen yang ditempati Pelangi.


Terserah mau dibilang berlebihan, namun nyatanya itu bukanlah bualan. Ia sudah benar-benar candu dengan masakan Pelangi.


"Selamat malam Pa, Ma." Sapa nya ketika melewati ruang keluarga dengan senyuman yang mengembang diwajahnya. Terlihat mama dan papanya sedang menonton televisi.


Dua paruh baya yang sedang menonton televisi itu mengernyitkan dahi ketika melihat putra mereka yang tampak bahagia, karena semenjak batal pertunangan dengan Silvi Gerald sudah tak seceria dulu. Dan malam ini, dua paruh baya itu seperti melihat putra mereka yang dulu.


"Gerald, kemari Nak." Panggil sang Mama.


Gerald yang baru saja akan menaiki anak tangga langkahnya terhenti, laki-laki itu berbalik menghampiri mama dan papanya.


"Iya Ma, ada apa?" Tanyanya ketika baru saja mendudukkan tubuhnya di samping sang papa.


"Sudah makan?" Tanya mama.


"Sudah dong, Ma." Jawab Gerald sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


Mama menarik sudut bibirnya tersenyum sumbang melihat tingkah putranya yang menurutnya alay itu.


"Kamu makan dimana sih? Akhir-akhir udah gak pernah makan dirumah lagi, sarapan juga enggak. Apa kamu udah bosan makan makanan rumah atau udah bosan masakan Mama? Kamu juga sekarang selalu pulang malam, padahal biasanya enggak. Apa juga sudah bosan pulang ke rumah ini?


Kalimat panjang lebar serta pertanyaan beruntun sang mama membuat Gerald tersenyum sambil menggaruk pelipisnya.


"Mama enggak begitu kok, aduh gimana yang jelasin nya." Gerald menjadi bingung sendiri, tak mungkin ia mengatakan setiap pagi siang bahkan malam ia makan masakan Pelangi. Oh apa yang akan dikatakan oleh mamanya ini.


"Enggak bagaimana? Udah jelas-jelas kamu udah gak pernah makan dirumah lagi, padahal Kamu bilang masakan Mama itu paling enak dan gak duanya." Wanita paruh baya itu terus menginterogasi putranya.


"Ya karena ternyata ada yang lebih enak dari masakan Mama." Celetuk Gerald tanpa sadar, dengan cepat ia mengatupkan rapat bibirnya ketika melihat tatapan tajam mamanya.

__ADS_1


"Apa? Coba bilang, masakan siapa yang lebih enak dari Mama?''


Gerald nyengir kuda sambil mengusap tengkuknya. "Ada deh, Ma. Nanti kapan-kapan bakal Aku kenalin sama Mama. Sekarang Aku mau istirahat dulu capek Ma, ngantuk." Ujarnya sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Gerald, Mama belum selesai bicara."


"Besok aja deh Ma sambung lagi, Aku udah ngantuk nih." Gerald langsung saja berbalik, kemudian berlari kecil menaiki anak tangga.


"Padahal Mama mau kasih tau dia soal Zahra. Sudah saatnya dia mencari pengganti si pengkhianat itu." Ucap Mama sambil menatap langkah putranya itu. Raut wajahnya terlihat kesal mengingat apa yang menjadi penyebab batalnya pertunangan Gerald dan Silvi.


"Udah, besok-besok aja Ma, biarkan dia istirahat dulu." Ujar Papa yang sedari tak melepas pandangan dari layar televisi.


Sementara itu, Gerald yang baru saja sampai di kamarnya langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya tanpa melepas sepatu dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Laki-laki itu segera memejamkan mata untuk tidur, ia sudah tak sabar menunggu hari esok untuk bertemu Pelangi. Saat di perjalanan pulang tadi, Gerald sudah memantapkan hatinya untuk mengungkapkan perasaannya pada Pelangi besok. Beberapa hari selalu bersama bukan hanya membuatnya merasa nyaman saja, tetapi ada rasa yang timbul dihatinya. Gerald tak hanya jatuh cinta pada masakan Pelangi tetapi ia juga telah jatuh cinta pada Pelangi.


.


.


.


Sambil menyuapi mulutnya, dalam hati Gerald tengah berpikir keras menyusun kalimat untuk mengungkapkan perasaannya pada Pelangi. Hingga tak terasa makanan didalam piringnya pun tandas tak bersisa, begitupun dengan Pelangi.


"Em, Pelangi ada yang mau aku bicarakan denganmu." Ujar Gerald dengan sedikit ragu. Ia benar-benar gugup, namun tak mau juga menunda hari ini untuk mengungkapkan perasaannya.


"Apa?" Tanya Pelangi melirik Gerald sekilas. Kemudian beralih menatap layar ponselnya melihat pesan masuk.


"Apa kau masih ingat? Saat Kau memperhatikan aku sedang makan, dan aku bilang jatuh cinta tak semudah itu."


Pelangi yang sedang membaca pesan dari temannya, mengangkat pandangan menatap Gerald dengan sebelah alis terangkat. "Hum, iya memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Pelangi, ternyata ucapan ku waktu itu tidaklah benar. Ternyata dengan mudahnya aku jatuh cinta." Tutur Gerald, senyum tipis terukir di wajahnya.


"Oh ya, siapakah wanita beruntung yang mendapatkan cintamu itu?" Tanya Pelangi dengan antusias sambil tersenyum, ucapan Gerald yang mengatakan telah jatuh cinta membuatnya senang. Karena jika Gerald sudah memiliki kekasih, maka Gerald akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kekasihnya itu dan ia tidak akan direpotkan lagi oleh Gerald yang memintanya untuk memasak. Begitulah yang ada dalam pikiran Pelangi.


"Kamu." Jawab Gerald, yang membuat senyum Pelangi perlahan sirna.


Wanita itu terdiam mencoba mencerna, dan beberapa saat kemudian ia terkekeh karena mengira Gerald sedang bercanda.


"Jatuh cinta tak semudah itu, Gerald." Kekeh nya.


"Aku tidak bercanda Pelangi, aku serius. Mungkin ini konyol bagimu tapi itulah kenyataannya. Beberapa hari bersamamu bukan hanya membuat aku nyaman, bukan hanya membuat aku merasa memiliki seorang teman. Aku bukan hanya jatuh cinta pada masakan mu tapi aku juga jatuh cinta padamu, Pelangi."


Pelangi terdiam, namun tatapannya tak lepas menatap kedua netra Gerald mencari kebenaran bahwa laki-laki dihadapannya ini memang sedang bercanda.


"Sudahlah Gerald, aku tahu kau sedang bercanda." Pelangi terkekeh mencobanya menghalau rasa yang tiba-tiba saja terasa mencekam dihatinya.


"Pelangi, cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika," Gerald menjeda kalimatnya kemudian menghela nafas panjang. Meski rasa gugup menerpa nya saat ini namun ia sudah separuh jalan dan tidak akan mundur lagi.


"Pelangi, jangan hanya lihat cintaku dari mataku, tapi rasakan dari hatiku yang paling dalam ini. Letakkan tanganmu di dadaku, maka kamu akan merasakannya." Gerald hendak meraih tangan Pelangi, namun wanita itu lebih dulu menjauhkan tangannya.


"Bertemu denganmu adalah takdir. Berteman denganmu adalah pilihan, tetapi jatuh cinta denganmu itu benar-benar diluar dayaku. Pelangi, aku sungguh jatuh cinta padamu."


Beberapa saat Pelangi masih terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa sekarang. Sementara Gerald menanti dengan rasa cemas.


Hingga terdengar suara deheman seseorang mengambil alih keheningan.


"Wow, disini ada drama mengungkapkan perasaan rupanya." Devano yang beberapa saat lalu juga baru selesai meeting dengan kliennya di restoran itu tak sengaja melihat Pelangi dan Gerald saat akan pergi. Iapun menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Pelangi lagi, namun ketika menghampiri Pelangi dan Gerald ia cukup dikejutkan saat mendengar ungkapan cinta Gerald pada Pelangi.


Tanpa dipersilahkan duduk, Devano dengan tidak malu menarik kursi kemudian mendudukkan tubuhnya sambil menatap Pelangi dan Gerald bergantian. Sementara yang ditatap nampak terkejut dengan kedatangan Devano yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Ayo Gerald, lanjutkan ungkapkan cintamu itu tapi aku yakin kau akan menyesal setelah tahu siapa Pelangi sebenarnya." Devano menatap Gerald dengan tersenyum sinis, kemudian beralih menatap Pelangi dengan senyuman menyeringai seolah sedang memberi ancaman.


"Apa maksudmu?" Tanya Gerald.


__ADS_2