
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika Gerald sampai dirumahnya. Laki-laki itu melangkah dengan riang memasuki rumah meski penampilannya sedikit nampak kusut menandakan padatnya pekerjaannya hari ini. Tiga Minggu lalu semenjak istrinya dinyatakan positif hamil, Pelangi nya itu semakin memberi banyak warna dalam hidupnya. Rasa lelah setelah seharian bekerja seketika sirna ketika telah pulang dan bertemu sang istri sambil mengusap-usap perut yang masih terlihat rata itu namun sedang tumbuh buah cinta mereka didalamnya.
"Ini apa?" Tanya Pelangi, saat Gerald meletakkan benda seperti amplop itu di atas meja riasnya dengan posisi terbalik.
"Lihat saja." Jawab Gerald. Setelah mengecup seluruh bagian wajah istrinya iapun melangkah ke arah tempat tidur sambil menggulung lengan kemeja nya.
Pelangi pun meraih benda tipis itu, dan ternyata itu adalah sebuah undangan yang bertuliskan nama Devano dan Devi.
"Ini serius?" Tanya Pelangi lagi sembari menoleh ke arah suaminya yang sudah duduk di tepi tempat tidur.
"Tiga rius malah." Jawab Gerald kemudian tertawa pelan. "Kenapa? Kamu gak nyangka ya kalau mereka bakal nikah?" Tanya nya kemudian.
Pelangi meletakkan kembali undangan itu di atas meja riasnya, kemudian beranjak menghampiri suaminya.
"Dandan nya udah selesai, hum?" Tanya Gerald sembari menarik pinggang sang istri duduk di pangkuannya. "Semenjak hamil, Kamu terlihat semakin cantik saja membuat Aku semakin cinta."
__ADS_1
"Gombal!" Ucap Pelangi lalu menyentil hidung mancung suaminya.
"Aku serius, Pelangi. Harus berapa kali Aku katakan Kalau Aku mencintaimu? Malah semakin cinta."
"Iya Aku percaya, asal jangan bosan saja." Kekeh Pelangi lalu melirik ke arah undangan yang berada di atas meja riasnya.
"Aku tidak akan bosan." Ujar Gerald, kemudian mengikuti arah pandang istri nya. "Apa Kamu mau datang?"
"Kita harus datang, Kalau tidak nanti mempelai laki-laki nya berpikir kalau aku belum move on." Jawab Pelangi masih sambil terkekeh.
"Jadi, Kamu sudah move nih?" Tanya Gerald sembari menarik dagu Pelangi agar menatap nya.
Gerald pun tersenyum lalu menangkup wajah sang istri kemudian menghujaninya dengan kecupan. "Apa perlu besok kita beli kado pernikahan untuk mereka?" Tanya nya setelah puas mengecup wajah istri nya.
"Terserah Kamu saja." Jawab Pelangi, lalu hendak beranjak dari pangkuan Gerald, namun kedua tangan kekar suaminya itu menahannya agar tetap duduk.
__ADS_1
Melihat tampang mesum sang suami, Pelangi pun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yeah, semenjak hamil suaminya ini semakin bergairah saja.
"Ingat loh kata dokter, masih hamil mudah gak boleh sering-sering." Ujar pelangi memperingati namun, jari-jari lentiknya bermain-main di dada sang suami.
"Tidak boleh, tapi Kamu malah memancingku seperti ini, hum?" Gerald menangkap tangan istri nya, lalu mencium jemari yang terdapat cincin yang serupa dengan yang ia pakai.
"Terima kasih karena telah mau hidup bersamaku, untuk esok dan selamanya. Terima kasih untuk hari-hari yang selalu penuh cinta. Semoga selalu bersemi hingga akhir hayat nanti." Ucap Gerald, kemudian berpindah mengecup kening istrinya.
Pelangi pun tersenyum, ia mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Menatapnya dengan lekat, dalam dan penuh cinta keharuan.
"Kamu tidak perlu merasa khawatir, karena Aku akan selalu ada di sisimu. Setiap hari Aku menemukan bahwa Aku semakin mencintaimu, dan di alam semesta tanpa batas ini Aku akan mencintaimu sampai akhir." Ujar Pelangi, kemudian menjatuhkan kecupan singkat di pipi sang suami.
Dan Gerald pun menangkup wajah istrinya dengan lembut, menatap kedua netra yang juga menatapnya dengan penuh cinta.
"Ketika Kamu mencintaiku, maka cintailah Aku apa adanya. Jangan Kamu harapkan kesempurnaan dariku. Karena kesempurnaan adalah ketika Kamu bisa mencintaiku tanpa syarat."
__ADS_1
Pelangi mengangguk sambil tersenyum,
"Kau ajarkan Aku kesetiaan, sehingga Aku pun setia. Kau ajarkan Aku arti cinta, sehingga Aku mampu mencintaimu sedalam ini. Akhirnya Aku mengerti indahnya cinta, dan itu semua karena dirimu, Suamiku."