Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 25. MENGUSIR


__ADS_3

"Pelangi, tunggu..." Panggil Gerald yang berlari menyusul calon istrinya itu.


Namun, Pelangi sama sekali tidak menoleh, ia terus melangkah cepat masuk ke dalam mobilnya. Tanpa menghiraukan Gerald yang terus menggedor pintu mobilnya, Pelangi langsung saja melajukan mobilnya meninggalkan pelataran cafe.


Dari kaca spion di sampingnya, dapat Pelangi lihat di sana Gerald nampak menjambak rambutnya frustasi kemudian bergegas masuk kedalam mobilnya menyusul Pelangi.


Sementara itu, Silvi yang juga telah keluar dari cafe, tersenyum puas dengan kedua tangan menyilang di dada menyaksikan bagaimana Pelangi meninggalkan Gerald begitu saja.


Dengan kecepatan penuh Gerald melajukan mobilnya, namun tak dapat mengejar mobil Pelangi yang telah melesat dengan cepat di antara kerumunan kendaraan lainnya di depan sana.


Laki-laki itu mencoba menghubungi nomor Pelangi, namun tidak terjawab. Dengan frustasi ia memukul stir mobilnya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Pelangi yang berkendaraan dengan kecepatan penuh seperti itu. Terlebih, dalam keadaan membawa kesalahpahaman.


Pelangi yang telah sampai di perusahaan nya, bergegas turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya.


Sebelum melangkah masuk kedalam bangunan perusahaannya, ia menghampiri satpam dan memerintahkan untuk melarang laki-laki yang bernama Gerald masuk kedalam perusahaannya. Setelah itu iapun mengayun langkah menuju ruangannya.


Sementara itu, tak lama kemudian Gerald pun telah sampai di perusahaan Pelangi. Ia memarkirkan mobilnya dengan asal lalu bergegas turun dari mobil.


Saat akan masuk ia terkejut ketika satpam tiba-tiba saja mencegahnya masuk.


"Pak, apa Bapak tidak mengenal saya? Saya ini calon suaminya Pelangi." Ucap Gerald, tak terima dirinya di cegah masuk.

__ADS_1


"Maaf Pak Gerald, tapi ini adalah perintah dari Bu Pelangi sendiri untuk melarang Bapak masuk ke perusahaan ini." Ujar satpam itu.


"Apa?" Gerald menggeleng kepalanya, ia tidak percaya Pelangi melakukan ini padanya, tanpa memperdulikan satpam yang melarangnya untuk masuk, Gerald segera berlari memasuki perusahaan Pelangi dan dibelakangnya satpam ikut mengejarnya.


Gerald terus berlari menuju ruangan Pelangi, tak memperdulikan satpam yang terus mengejar dan berteriak memintanya berhenti, dan perbuatannya ini mengundang perhatian seluruh karyawan.


Sesampainya di depan ruangan Pelangi, Gerald langsung saja masuk kemudian mengunci pintu ruangan dari dalam agar satpam tidak masuk dan menyeretnya keluar.


Pelangi yang tengah duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya, hanya melirik Gerald sekilas kemudian kembali fokus pada layar ponselnya seolah tidak ada siapapun yang masuk ke ruangannya.


Setelah mengunci pintu ruangan, Gerald menghampiri Pelangi, mendudukkan tubuhnya di samping calon istrinya itu.


"Memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan? Yang aku tahu, kamu membohongi aku." Ucap Pelangi dengan santainya, ia berusaha untuk tetap tenang meski dari dalam hatinya ingin sekali ia berteriak.


"Iya aku tahu aku salah, aku minta maaf karena sudah bohong sama kamu. Tapi aku terpaksa bohong agar kamu tidak salah paham. Aku dan Silvi ada di cafe itu karena dia yang mengajak aku, dia bilang ada yang ingin dia katakan tentang kamu." Gerald berusaha menjelaskan, wajahnya nampak frustasi melihat ekspresi Pelangi yang seperti tak memperdulikan penjelasannya.


"Tapi yang aku lihat tidak seperti itu, yang aku lihat kalian sedang makan berdua dan terlihat sangat menikmati."


"Pelangi, tolong percayalah dengan ku. Harus bagaimana aku menjelaskan agar kamu percaya."


Pelangi beranjak dari sofa yang didudukinya kemudian berpindah duduk ke kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Tidak perlu menjelaskan apapun, kebohongan kamu dan apa yang aku lihat sudah cukup membuktikan kalau aku telah salah menilai kebaikan mu. Jadi sekarang lebih baik kamu pergi dari sini, aku tidak butuh orang-orang munafik." Ujar Pelangi tanpa melihat kearah lawan bicaranya.


"Pelangi, aku mohon jangan seperti ini, satu bulan lagi kita akan menikah." Gerald menatap calon istrinya itu dengan sendu. Sungguh hari ini begitu sial baginya yang mau-maunya saja menuruti Silvi pergi ke cafe.


"Pernikahan kita lupakan saja, lagi pula undangan juga belum di sebar." Ucap Pelangi dengan tanpa perasaan, namun percayalah perasaannya juga hancur mengatakan itu.


"Dan tinggalkan ruanganku sekarang juga!" Lanjutnya dengan nada yang tinggi sambil menunjuk ke arah pintu.


Untuk yang pertama kalinya, Gerald mendengar Pelangi berbicara dengan nada yang tinggi padanya, membuatnya benar-benar merasa sakit.


"Pelangi, kamu mengusir ku?" Kedua mata Gerald sisa tampak berkaca-kaca.


"Apa kamu tidak dengar? Aku bilang keluar dari ruangan ku!" Sentak Pelangi sekali lagi.


Melihat Gerald yang hanya diam saja, Pelangi pun beranjak dari kursi kebesarannya melangkah ke arah pintu. Ia membuka pintu ruangan lebar-lebar dan sekali lagi menyuruh Gerald untuk keluar.


Karena Gerald masih tak beranjak, Pelangi pun melangkah cepat menghampiri lalu menarik tangannya untuk keluar dari ruangannya.


"Pak, jangan biarkan dia masuk ke perusahaan ini lagi." Ucapnya pada satpam yang masih menunggu di depan ruangannya, kemudian menutup pintu ruangan dengan keras.


Membuat Gerald tersentak. Ia menatap nanar pada pintu ruangan Pelangi yang telah tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2