
"Apa benar disini alamatnya?" Gumam seorang wanita cantik sambil memandangi bangunan berlantai didepannya, dan untuk memastikan jika ia tidak akan salah alamat ia menghampiri satpam yang sedang berjaga.
"Maaf, Pak, apa benar ini kantornya Ibu Pelangi?" Tanyanya seraya memberikan secarik kertas kepada satpam, yang tertulis alamat beserta nama penerima yang diberikan oleh laki-laki yang memesan bunga untuk calon istrinya.
"Benar, Mbak," jawab satpam itu setelah membaca tulisan di kertas tersebut. "Ada apa ya, Mbak?" Tanyanya.
Wanita itu tersenyum karena ternyata benar ia tidak salah alamat, "Ada kiriman bucket bunga, Pak, untuk Ibu Pelangi." Jawabnya seraya menunjuk kearah motornya yang terdapat sebuah bucket bunga yang cukup besar.
"Oh gitu, bucket bunga nya berikan sama saya saja Mbak nanti biar saya yang antar langsung ke Bu Pelangi." Ujar satpam itu.
Wanita itu mengangguk kemudian melangkah ke arah motornya untuk mengambil bucket bunga tersebut dan bertepatan dengan itu Pelangi keluar, satpam segera menghampirinya.
"Wah kebetulan, Bu Pelangi ada kiriman bucket bunga untuk Ibu." Ujar satpam sambil menunjuk kearah wanita yang sedang menurunkan bucket dari motornya.
Pelangi menatap kearah yang ditunjuk satpam, terlihat seorang wanita yang nampaknya seumuran dengannya berjalan kearahnya dengan membawa sebuah bucket bunga yang cukup besar.
"Mbak, ini Bu Pelangi."
__ADS_1
Wanita itu menatap Pelangi, dan ia terpanah dengan kecantikan yang dimiliki oleh wanita itu, sangat cocok dengan laki-laki yang telah memesan bucket ini, ujarnya dalam hati.
"Bu Pelangi, ini ada kiriman bucket bunga dari calon Suami Ibu."
Pelangi nampak mengerutkan keningnya dan beberapa saat kemudian ia tersenyum, tidak menyangka jika Gerald bisa seromantis ini mengirimkan bucket bunga segala.
Kemudian, Pelangi meminta satpam untuk membawa bucket tersebut ke ruangannya sementara ia menandatangani serah terimanya.
"Terima kasih ya, Bu, kalau begitu saya permisi dulu."
"Sama-sama, oh ya tidak usah panggil Ibu, panggil nama saja sepertinya kita seumuran." Ujar Pelangi. "Nama kamu siapa?" Tanyanya.
Beberapa saat berbincang-bincang, Devi pun berpamitan pergi sementara Pelangi juga memasuki mobilnya dan akan pergi untuk bertemu kliennya.
Sepanjang jalan kembali ke kedai bunganya, Devi mengendarai motornya dengan perasaan yang senang. Tadi Pelangi memberinya tips yang lumayan banyak dan itu bisa untuk membelikan mukenah baru untuk ibundanya beserta mainan baru untuk adiknya. Semenjak ayahnya meninggal ia lah yang menjadi harapan ibu dan adiknya. Berjualan bunga yang hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk membayar kontrakan rumah beserta biaya sekolah adiknya.
Devi yang terlalu senang sampai tak memperhatikan jalanan didepannya dan terjadilah yang tidak diinginkan, sebuah mobil yang melaju dengan arah berlawanan menghantam motornya.
__ADS_1
Brukkk...
Namun, beruntung pemilik mobil tersebut dengan cepat mengerem mobilnya serta Devi yang juga melajukan motornya dengan kecepatan sedang sehingga tidak terjadi kecelakaan yang serius.
Devi yang terjatuh dari motornya, meringis sambil mengusap kakinya yang terasa sakit , nampak celana jeans-nya robek karena tergesek di aspal serta terdapat luka dibagian tangannya.
Pemilik mobil yang menabrak Devi bergegas turun dari mobilnya menghampiri wanita yang telah terduduk di jalan dengan motornya yang terguling.
"Mbak, Mbak gak kenapa-kenapa kan?" Tanya laki-laki yang kini telah berjongkok di hadapan Devi.
Devi mengangkat pandangannya menatap laki-laki itu. "Gak lihat ini lecet begini?" Ketusnya.
"Iya, Maaf tapi saya akan tanggung jawab kok." Laki-laki itu berdiri kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dompetnya beserta sebuah kartu nama.
"Sebelumnya saya minta karena tidak bisa mengantarkan Mbak ke rumah sakit karena saya sedang buru-buru. Ini ada sedikit uang untuk ke rumah sakit dan ini kartu nama saya, jika ada hal yang serius bisa langsung menghubungi saya." Kemudian laki-laki itu bergegas kembali ke mobilnya karena ia harus pergi ke sesuatu tempat memergoki seseorang.
Setelah mobil yang menabraknya telah pergi, Devi menatap kartu nama beserta uang yang diberikan oleh laki-laki itu.
__ADS_1
"Devano Pratama" Gumamnya membaca sebuah nama yang tertulis di kartu nama tersebut.