
"Gerald, terima kasih banyak ya udah bantuin aku. Kalau gak ada kamu, aku gak tahu gimana jadinya perusahaan aku. Malah aku tuh udah mikir untuk pengurangan karyawan." Pelangi tersenyum menatap Gerald yang duduk didepannya. Setelah beberapa hari bergelut memikirkan nasib perusahaannya, akhirnya masalahnya terselesaikan atas bantuan calon suaminya.
"Sama-sama, Pelangi, gak usah sungkan gitu. Sebentar lagi kan kita jadi satu keluarga, jadi apapun permasalahan kamu akan jadi tanggung jawab aku juga. Selagi kamu bilang sama aku apapun masalah kamu, aku gak akan tinggal diam." Ujar Gerald, melihat senyum Pelangi ingin sekali rasanya ia mengecup bibir ranum itu. Namun, sebisanya ia berusaha menjaga kewarasannya agar tak melakukan hal demikian. Yang bisa ia lakukan hanyalah bersabar sampai waktu menghalalkan Pelangi tiba. Andai saja bisa, ingin menikah hari ini juga agar bisa segera bebas untuk melakukan apapun bersama Pelangi. Namun, apalah daya, untuk pernikahan ia berada dibawah kendali papa dan mamanya.
Namun, yang Gerald tidak ketahui kenapa orangtuanya memperlambat pernikahannya dengan Pelangi, itu karena papa ingin kasus kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya Pelangi terbongkar lebih dulu.
"Kenapa lihatin aku gitu?"
"Ah, gak apa-apa. Seneng aja gitu lihat Kamu senyum, tambah cantik." Ucap Gerald memberi sedikit pujian.
"Bisa juga rupanya kamu gombal." Pelangi terkekeh.
__ADS_1
"Itu bukan gombalan, Pelangi. Aku serius, kamu cantik, jadi gak sabar menunggu waktu di setiap mau tidur dan bangun tidur yang pertama kali aku lihat adalah senyum kamu."
"Laki-laki diawal suka banget ngomong yang bikin perempuan meleleh, tapi lama-lama nanti juga bosan sendiri."
"Terserah kamu mau berpendapat bagaimana tentang yang namanya laki-laki. Tapi aku, Gerald Argantara pantang berdusta." Ucap Gerald dengan yakinnya.
Pelangi hanya menanggapinya dengan senyuman, tanpa Gerald membuktikan pun ia juga tahu jika Gerald benar-benar tulus. Apa yang pernah ia alami bersama Devano sudah cukup menjadikan pelajaran untuknya untuk membedakan mana laki-laki yang tulus dan tidak tulus.
Mendengar ucapan Pelangi yang seperti akan berbicara serius, Gerald pun membenarkan posisi duduknya.
"Yah tergantung, apa dulu yang mau kamu omongin."
__ADS_1
Pelangi nampak menghela nafasnya dengan berat, iapun sebenarnya tidak ingin seperti ini. Namun, demi kelancaran penyeledikan nya ini harus ia lakukan.
"Untuk beberapa hari ke depan mungkin aku akan sering bertemu dengan Devano, tapi kamu jangan salah paham dulu. Aku bertemu dengannya itu karena aku sedang membutuhkan bantuannya." Ujar Pelangi, kemudian mengatupkan bibirnya dengan rapat melihat mimik wajah Gerald yang nampak tak suka.
"Bantuan Devano?"
Pelangi mengangguk pelan.
"Bantuan apa, kenapa harus dia? Huh, ini sebenarnya ada apa sih? Sejak awal aku sudah gak setuju kamu bebasin dia, dan sekarang kamu bilang sedang membutuhkan bantuannya, padahal ada aku calon suami kamu yang selalu siap membantu kamu kapan saja. Pelangi, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku?" Nafas Gerald nampak naik turun menahan emosinya. Sungguh ia sangat keberatan jika Pelangi harus bertemu dengan Devano dan meminta bantuan pada laki-laki itu.
Pelangi terdiam sejenak, meski cara bicara Gerald terdengar pelan, namun ia tahu jika calon suaminya itu sedang marah.
__ADS_1
"Pelangi, tolong jangan sembunyikan apapun dariku."