Pelangi Setelah Badai

Pelangi Setelah Badai
BAB 15. MASALAH BARU


__ADS_3

"Hari ini aku berasa naik roal coaster tau gak sih?" Ucap Pelangi sambil mengelus dadanya, akhirnya ia bisa bernafas lega setelah sampai di kantor Gerald. Beberapa saat lalu detak jantungnya berpacu dengan cepat ketika datang ke rumah Gerald apalagi saat berhadapan dengan mamanya Gerald.


"Sama, aku juga. Kaget nya bukan main saat Mama bilang mau menjodohkan aku." Ujar Gerald.


Saat ini Pelangi dan Gerald masih berada didalam mobil dengan sabuk pengaman yang masih terpasang ditubuh keduanya.


"Gak mau turun nih?" Tanya Gerald kemudian.


Pelangi tersenyum, sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya dengan perlahan seolah membebaskan semua beban dalam dirinya. Setelah itu Pelangi membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil, begitupun dengan Gerald.


Saat akan masuk ke kantor, Pelangi melarang Gerald menggenggam tangannya karena merasa tidak enak pada karyawan lainnya.


Hari ini Pelangi dan Gerald kembali mengerjakan pekerjaan mereka dan sejenak melupakan kejadian beberapa saat lalu yang cukup memacu jantung mereka.


Hingga tak terasa hari sudah beranjak sore. Seperti biasanya, setiap kali mengantar Pelangi pulang. Gerald akan ikut mampir ke apartemen, hingga saat malam hari ia akan pulang setelah mengisi perutnya dengan masakan Pelangi.


Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian ala rumahan, Pelangi pun menghampiri Gerald yang sedang menonton televisi di ruang tamu.


"Kok ikut nonton sih? Masak sana udah mau malam ini." Ujar Gerald ketika melihat Pelangi datang dan langsung duduk di sampingnya.


"Aku lupa kalau bahan masakan di kulkas udah habis, tinggal ada telor sama mie. Jadi sekarang mendingan kamu pulang aja deh." Ucap Pelangi kemudian mengambil remote di tangan Gerald.


"Ya udahlah masakin mie sama telor aja." Pinta Gerald, daripada dia harus pulang cepat.


"Cuma masak mie sama telor, ku rasa kamu bisa sendiri." Ujar Pelangi sambil mencari film kesukaannya.


"Tapi aku mau kamu yang..." Ucapan Gerald terhenti ketika Pelangi menyetel film drama Korea, film yang terkenal banyak adegan berciuman nya.


"Ya udah deh, aku pulang aja." Ucapnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Lebih baik ia pulang karena bukan hanya matanya yang akan tercemar tetapi juga kewarasannya jika ia masih berada di apartemen Pelangi ikut menonton drama Korea tersebut. Ia tidak ingin sampai lepas kendali dan membuat Pelangi menganggap dirinya sama saja dengan laki-laki brengsek di luar sana.


"Jangan lupa besok pagi siap-siap aku jemput kerumah buat menjalani tes dari calon mertua." Ujar Gerald sambil tersenyum.


Pelangi hanya mengangguk pelan, tatapannya tak lepas dari layar televisi.


Dan Gerald pun mengayun langkahnya meninggalkan apartemen.


.


.


.


Keesokan harinya...


Beberapa jam berlalu, saat baru tiba rumah Gerald. Pelangi langsung diboyong menuju dapur oleh sang calon mama mertua, dan kini sudah ada beberapa menu makanan yang tersedia di meja makan.


Gerald dan papanya sudah tak sabar ingin mencicipi masakan Pelangi, dari aromanya saja sudah membuat perut keroncongan. Namun, ayah dan anak itu hanya bisa meneguk saliva nya karena si nyonya rumah belum memperbolehkan siapapun untuk memakan masakan Pelangi sebelum ia sendiri yang mencicipinya.


Di ruang makan, mama duduk dengan anggunnya sambil menatap anak dan suaminya yang sudah nampak kelaparan, berbeda dengan Pelangi yang terus menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Mama akui jika Pelangi sangat lihai dalam urusan memasak, namun tidak tahu bagaimana rasa masakannya.


"Baiklah, sekarang Mama cicipi dulu semua masakan ini baru kalian boleh makan." Ujar mama lalu mengambil sendok.


Mama berdiri mengitari meja makan dengan mencicipi satu-persatu makanan yang dimasak Pelangi. Hingga sampai ke menu yang terakhir raut wajahnya masih terlihat datar tidak menunjukkan jika rasa masakan itu enak atau tidak.


Membuat Pelangi menjadi was-was, jika masakan yang ia buat tidak pas di lidah mamanya Gerald.


Begitupun dengan Gerald sangat khawatir jika Pelangi tidak akan lolos dalam tes pertamanya ini.


Setelah mencicipi semua makanan itu, mama pun kembali duduk di tempatnya semula.


"Gimana, Ma rasanya?" Tanya Gerald.


Namun, mama tidak menjawab pertanyaan Gerald. Ia hanya melirik putranya itu sekilas kemudian berpindah menatap Pelangi.


"Pelangi, Tante akui masakan kamu memang sangat enak. Dan kamu lolos dalam tes pertama kamu." Ucap mama, yang membuat Gerald bersorak senang.


"Tuh kan Ma, apa aku bilang. Pelangi itu pasti lolos karena masakannya itu memang en..."


"Gerald, diam." Mama menyela ucapan putranya. "Sekarang suara kamu belum diperlukan." Lanjutnya memperingati.


Gerald pun terdiam.


Mama kembali menatap Pelangi. "Sekarang tinggal tes kedua, masih ingat kan yang Tante bilang kemarin?"


"Iya, Tante." Jawab Pelangi sambil menganggukkan kepalanya. Namun, ia bingung harus bagaimana dalam tes kedua itu.


Apa yang harus dilakukan Pelangi dalam hal ini?


Sejenak Pelangi terdiam, dan tak lama kemudian ia beranjak dari tempat duduknya melangkah menghampiri Gerald. Mengambil piring dan meletakkannya dihadapan Gerald, lalu mengisi piring itu dengan nasi beserta lauk-pauknya.


Hanya ini yang bisa Pelangi lakukan dalam tes keduanya. Jika saja ia dan Gerald sudah menikah, mungkin ia akan melakukan hal lainnya dalam menyenangkan hati suaminya.


Mama tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Pelangi, karena apa yang dilakukan oleh wanita pilih putranya itu sudah tepat. Mama memang selalu menyajikan makanan kedalam piring papa saat makan.


Selesai menyajikan makanan untuk Gerald, Pelangi pun mengisi gelas kosong dengan air putih kemudian meletakkannya dihadapan Gerald. Setelah itu iapun kembali duduk ditempatnya semula.


Tak lama kemudian, mama pun beranjak dari tempat duduknya menghampiri papa. Melakukan hal yang sama dengan pelangi, mengisi nasi dan lauk pauknya kedalam piring suaminya. Setelah selesai mama juga kembali ke tempat duduknya.


"Pelangi, sekarang silahkan makan. Nanti Tante umumkan kamu lolos atau tidak setelah selesai makan." Ujar mama.


Pelangi mengangguk, kemudian mengambil piring dan mengisinya.


Sementara Gerald dan papanya sudah lebih dulu makan tanpa menunggu para wanitanya. Ayah dan anak itu terlihat makan dengan sangat lahapnya. Masakan Pelangi benar-benar enak. Begitupun dengan mama yang sangat menikmati masakan Pelangi.


.


.

__ADS_1


.


Beberapa saat kemudian setelah selesai makan, mama mengajak semuanya berpindah ke ruang keluarga.


Gerald dan Pelangi yang duduk berseberangan sesekali melempar pandangan. Keduanya sudah nampak tegang menunggu keputusan mama apakah Pelangi lolos atau tidak.


"Em, Pelangi dalam tes kedua kamu Tante sudah memutuskan jika kamu... Lolos." Ucap mama.


Sontak saja Gerald langsung menghampiri sang mama dan memeluknya sangat erat.


"Terima kasih, Ma. Mama memang yang terbaik."


"Tapi kalian jangan senang dulu. Masih ada beberapa hal yang harus kalian ingat sebelum kalian benar-benar menikah."


Gerald pun mengurai pelukannya, "Apa, Ma? Tanyanya.


"Mulai sekarang kalian berdua tidak boleh sering-sering bertemu kecuali dalam hal pekerjaan. Setelah jam pulang kantor Pelangi harus pulang jangan kamu ajak keluyuran kemana-mana." Ucap mama.


"Pelangi, kamu juga jangan mau kalau diajak Gerald pergi, kalian hanya boleh bertemu di kantor saja. Paham!"


"Iya, Tante." Jawab Pelangi, sementara Gerald tersenyum kecut. Bagaimana jika mama nya tahu kalau Pelangi tinggal di apartemennya dan ia sering datang menemui Pelangi.


Suasana yang tadinya terasa tegang, kini dipenuhi keharuan.


Setelah beberapa saat mengobrol ringan dengan Pelangi mama jadi menyukai gadis pilihan putranya itu.


Benar yang dikatakan Gerald, mama akan menyukai Pelangi jika sudah mengenalnya.


Ternyata Pelangi sangat lembut dalam bertutur kata. Dan sepertinya akan menjadi teman curhat mama nantinya.


Suasana yang dipenuhi tawa nan kehangatan itu, sejenak teralihkan pada asisten rumah tangga yang datang membawa sebuah amplop coklat.


"Maaf, Bu, ini ada paket."


"Dari siapa pengirimnya, Bi?" Tanya mama.


"Gak ada namanya, Bu. Tadi satpam yang memberikan ke saya, katanya tukang paket yang antar."


Mama nampak berpikir, paket dari siapa itu? Seingat mama tidak pernah memesan apapun.


Papa yang ditatap oleh mama langsung menggeleng, begitupun dengan Gerald. Mereka tidak merasa memesan apapun.


Mama pun mengambil amplop itu lalu membukanya. Dan ternyata isinya hanya selembar kertas yang dilipat.


Saat membuka lipatan kertas itu, kedua bola mata mama terbelalak saat membaca tulisan dalam kertas itu.


Melihat mama nya yang nampak terkejut, Gerald pun mendekat. Ia tak kalah terkejutnya saat membaca tulisan pada kertas itu.


PELANGI ITU PERNAH HAMIL DAN KEGUGURAN.

__ADS_1


Wajah Gerald langsung pucat. Baru saja ia merasa bahagia karena mama telah merestuinya dengan Pelangi. Namun kini masalah baru datang lagi. Entah siapa yang mengirimkan surat ini? Kekhawatiran melanda Gerald saat ini, mamanya pasti akan kembali menentang hubungannya dengan Pelangi.


"Gerald, apa maksudnya ini?"


__ADS_2