
Dengan terpaksa Gerald meninggalkan perusahaan Pelangi dengan membawa rasa sesak di dadanya atas pengusiran calon istirnya itu, ia tahu Pelangi sedang marah dan kecewa karena kesalahpahaman yang dilihatnya. Dan tujuan Gerald saat ini adalah mencari keberadaan Silvi, untuk meminta pertanggung jawaban wanita itu atas kekacauan yang sudah di buatnya.
Gerald tak akan membiarkan Pelangi terlalu lama larut dalam kesalahpahaman ini dan membuat pernikahan mereka batal. Dengan kecepatan penuh ia melajukan mobil nya menuju cafe mencari keberadaan Silvi disana.
Bertepatan dengan Gerald yang baru saja sampai di cafe, terlihat Silvi berdiri di sisi jalanan nampaknya sedang menunggu taksi. Dengan segera ia turun dari mobil nya menghampiri Silvi.
Melihat kedatangan mantan calon tunangan nya, Silvi tersenyum miring sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada.
"Kenapa balik lagi, apa ada yang tertinggal?" Tanya Silvi dengan nada mengejek, senyum sumbang terbit di wajahnya tanpa melihat kearah Gerald.
__ADS_1
"Kamu harus bertanggungjawab atas apa yang sudah kamu lakukan, kamu harus meluruskan kesalahpahaman ku dengan Pelangi!" Ucap Gerald dengan nada yang tinggi, sungguh ia tidak bisa membendung emosinya lagi.
Silvi terkekeh, sama sekali sedikitpun tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya hari ini telah membuat kesalahpahaman diantara Pelangi dan Gerald karena memang itulah yang ia inginkan, melihat Pelangi dan Gerald terpisah sama seperti dirinya dan Devano.
"Apa sih bagusnya Pelangi? Cantik juga Aku. Kalau dia tinggalin kamu balik lagi aja sama aku, apa susah nya? Pintu hatiku masih terbuka dengan lebar jika kamu mau mengulang kisah kita lagi." Ujarnya dengan santai.
"Jangan pernah bermimpi! Bahkan aku sangat menyesal telah mengenal wanita seperti kamu yang dengan mudah mengobral tubuhnya dengan sembarang lelaki!"
"Iya, aku emang wanita gampangan, lalu kenapa? Tapi kamu juga harus ingat siapa Pelangi!" Ujar Silvi juga tampak emosi dan menunjuk tepat di wajah Gerald.
__ADS_1
Deg ....
Gerald terdiam seribu bahasa, tentu ia tidak lupa jika Pelangi pernah mengandung dan keguguran. Namun, dimatanya Pelangi bukanlah wanita gampangan, Pelangi hanya korban rayuan lelaki yang tidak bertanggung jawab berbeda dengan Silvi yang memang dengan sengaja menyerahkan tubuhnya. Gerald pun masih sangat ingat bagaimana dulu Silvi kerap kali menggodanya, sementara Pelangi sekalipun tidak pernah melakukan hal semacam itu padahal mereka sering berduaan di apartemen.
"Tidak usah mengingatkan aku tentang siapa Pelangi, karena aku sangat tahu perbedaan diantara kamu dan Pelangi. Bagiku Pelangi adalah warna dalam kehidupanku sementara kamu hanya setitik tinta hitam yang menempel pada kain putih, noda nya tidak akan bisa dihilangkan!"
Setelah mengatakan kalimat yang begitu merendahkan harga diri Silvi, Gerald berbalik pergi. Rasanya percuma saja berbicara dengan wanita itu hanya membuatnya semakin emosi saja. Biarlah ia berusaha sendiri meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dengan Pelangi.
Sementara itu setelah kepergian Gerald, Silvi merasa benar-benar tidak terima dengan penghinaan mantan calon tunangannya itu. Ia yang tadinya hanya ingin membuat kesalahpahaman, dan kini benar-benar berniat untuk menghancurkan hubungan Gerald dan Pelangi.
__ADS_1
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan!" Ujarnya sambil menatap mobil Gerald yang telah melaju meninggalkan pelataran cafe. Kemudian iapun menyetop taksir yang lewat lalu meminta supir taksi mengantarkannya ke kantor polisi.