
Pagi yang cerah, secerah senyum diwajah Gerald yang kini tengah berada di perjalan menuju kantor nya. Laki-laki itu tak lepas mengembangkan senyum di wajah tampannya karena pagi ini ia mendapatkan morning kiss dari sang calon istri meskipun hanya berupa gambar emoji.
Sesampainya di kantor, Gerald masih saja tersenyum bahkan bersenandung ria turun dari mobil nya. Namun, senyum diwajah nya memudar tarkala pandangannya tertuju pada sosok wanita yang sangat ia kenal, berdiri di depan pintu masuk bersama seorang satpam yang seperti nya sedang berusaha mencegah masuk.
Melihat atasan nya telah datang, lantas satpam tersebut bergegas menghampiri. Di belakang nya wanita yang tak lain adalah Silvi juga menyusul menghampiri Gerald.
"Maaf Pak Gerald, Mbak Silvi memaksa masuk padahal saya sudah bilang kalau Bapak belum datang." Ucap satpam itu melaporkan, sebenarnya bukan saja karena Gerald yang belum datang ia tidak mengizinkan Silvi untuk masuk tetapi karena perintah dari mama nya Gerald yang pernah mengatakan kepada seluruh karyawan untuk mengusir Silvi jika berani menampakkan dirinya di kantor ini.
Mendengar laporan satpam, Gerald mengalihkan tatapannya pada Silvi yang telah berdiri di samping satpam.
"Mau apa kamu kesini?" Pertanyaan bernada dingin itu membuat Silvi menciut, padahal saat datang ia begitu bersemangat untuk bertemu mantan calon tunangannya itu.
__ADS_1
"Gerald, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Maaf, aku lagi sibuk. Lagi pula ku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Ucap Gerald, ia menatap silvi tanpa ekspresi apapun di wajahnya.
"Sebentar saja Gerald, aku janji ini yang terakhir kalinya menemui mu." Ucap Silvi.
Gerald melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, " Lima menit." Ucapnya tanpa melihat Silvi.
"Tapi Gerald, aku tidak bisa bicara di sini, kita ke cafe biasa sebentar ya?" Ujar Silvi berusaha membujuk. "Ini tentang Pelangi." Ucapnya lagi dengan cepat karena tahu Gerald akan menolak.
"Kita ke cafe biasa sebentar, nanti akan aku bicarakan di sana."
__ADS_1
Gerald menghela nafas nya dengan kasar, wajahnya nampak menahan kekesalan nya. Namun, karena Silvi mengatakan akan mem bicarakan tentang Pelangi, pada akhirnya ia menyetujui ajakan Silvi ke cafe.
Sesampai nya di cafe, Gerald terkejut karena baru saja duduk dua orang pelayan tiba-tiba saja datang meletakkan berbagai menu makanan di atas meja.
"Silvi, apa maksud nya? Apa kamu yang sudah memesan makanan sebanyak ini? Dengar Silvi, aku mengikuti ajakan kamu ke sini bukan untuk makan tapi untuk mendengarkan apa yang ingin kau bicarakan tentang Pelangi!" Suara Gerald mulai meninggi.
Namun, Silvi malah nampak tersenyum dan bersikap santai saja meskipun Gerald sedikit membentak nya.
"Gerald, jangan marah-marah seperti itu Gerald. Lebih baik kita makan dulu baru setelah itu aku akan bicara." Ujar Silvi, ia dengan santainya menyajikan makanan ke dalam piring nya tanpa menghiraukan tatapan Gerald yang begitu tajam.
"Silvi, jangan membuang-buang waktu ku. Lebih baik sekarang cepat katakan apa yang ingin kau katakan, atau aku pergi!" Gerald benar-benar sudah kehabisan kesabaran nya.
__ADS_1
"Tidak baik menyia-nyiakan makanan, Gerald, jadi sebaiknya kau makan juga." Ucap Silvi, ia menoleh ke arah meja di mana tampak beberapa orang yang sedang melakukan pertemuan penting dan salah satu nya adalah Pelangi.
"Makan lah sedikit, setelah itu baru kita bicara."