
"Sampai kapan kamu mau berdiri disitu? Pulang sana, aku lagi banyak kerjaan gak akan bisa meladeni kamu disini." Ujar Pelangi, karena calon suaminya itu masih betah berdiri di depan meja kerjanya. Padahal ada dua kursi yang tersedia didekatnya.
"Aku akan pulang setelah kamu kasih kepastian kalau pernikahan kita gak akan batal."
"Ok, kalau kamu tetap mau pernikahan kita dilanjutkan aku mohon kerjasamanya. Untuk beberapa hari ini tolong jangan hubungi aku dulu, karena aku benar-benar lagi sibuk. Kamu tahu sendiri kan, gimana perusahaan aku semenjak dipegang sama Devano dan Silvi?" Pelangi menghela nafasnya dengan berat. Setelah kembali ke perusahaannya ia seperti membangun dari awal lagi.
Bukan cuma para karyawannya yang mengeluh dengan pemangkasan gaji dan peraturan yang mereka buat, tapi para klien juga mengeluh karena tidak merasa puas dengan hasil yang mereka dapat. Lihatlah diatas meja kerjanya, banyak sekali laporan keuangan yang keluar entah dipergunakan untuk apa, padahal gaji karyawan juga dipotong setengahnya. Hampir saja perusahaannya bangkrut jika tak segera kembali lagi ke tangannya. Ini sungguh keterlaluan, bukan?
Sementara Gerald terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan Pelangi, yang ia ingat kemarin calon istrinya itu ingin membatalkan pernikahan karena kesalahpahaman di cafe itu. Dan sekarang... Dengan gerakan cepat ia menarik salah satu kursi kemudian mendudukkan tubuhnya. Menatap Pelangi dengan mata berbinar, padahal sebelumnya kedua matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"Kok malah duduk sih? Pulang sana, kan aku udah kasih kepastian."
__ADS_1
"Aku mau bantuin kerjaan kamu biar cepat selesai, kalau bisa kita nikahnya gak usah nunggu satu bulan." Ucap Gerald. Ia meraih salah satu map diatas meja Pelangi dan membukanya, kedua matanya terbelalak melihat jumlah uang yang keluar dengan jumlah yang tidak sedikit.
Pantas saja Pelangi terlihat uring-uringan, ternyata perusahaannya mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Jiwa wirausaha Gerald meronta-ronta melihat permasalahan yang sedang dialami Pelangi, ia tidak akan membiarkan calon istrinya terpuruk sendiri dalam masalah keuangan yang sedang dialaminya.
.
.
.
__ADS_1
Silvi yang memang sudah menunggunya langsung bergelayut manja di lengan kekasihnya itu sampai kedalaman ruangan Gerald.
Para karyawan tidak heran lagi melihat tingkah sepasang kekasih itu, bahkan tak jarang beberapa diantara mereka mendengar suara-suara menggelikan dari dalam ruangan Devano. Namun, mereka hanya diam saja karena tidak ingin dipecat secara tidak terhormat dan tidak diberikan pesangon. Terlebih mencari pekerjaan baru itu tidak mudah.
"Dev, kamu dari mana, tumben kesiangan ke kantornya? Kamu juga gak jemput aku." Silvi mengerucutkan bibirnya, sampai Devano telah duduk di kursi kebesarannya iapun ikut duduk di pangkuan kekasihnya itu dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Devano.
"Vi, bisa gak kamu duduk di kursi kamu sendiri? Aku mau kerja, Vi." Ujar Devano sembari melepas tangan Silvi yang bertengger di lehernya. Jika biasanya ia selalu suka dengan sikap manja Silvi seperti ini, namun tidak dengan sekarang. Setelah tahu jika Silvi mencoba mendekati Gerald, ia sudah benar-benar merasa muak dengan kekasihnya ini. Padahal selama ini ia sudah menuruti semua apapun yang diinginkan Silvi dan sudah banyak berkorban untuknya. Kurang apa lagi dirinya?
"Aku akan turun dari pangkuanmu setelah kamu mengiyakan permintaanku." Ucap Silvi dengan senyum centilnya, senyum yang selalu mampu menggoda Devano dan akan membuat kekasihnya ini selalu tidak tahan untuk menerkam nya.
"Memangnya kamu mau apa lagi sih, Vi? Kamu kan baru aja beli mobil baru dengan keluaran terbaru pula." Ujar Devano, mobil baru yang ia belikan untuk Silvi dengan menggunakan uang perusahaan Pelangi.
__ADS_1
"Aku mau kita segera menikah, Papa aku juga udah setuju kok." Ucap Silvi dengan senyum sumringah.
Devano nampak menggeleng samar mendengar permintaan Silvi kali ini. Ia dan Silvi memang pernah berencana untuk menikah, tetapi sekarang entah kenapa semuanya telah terasa hambar. Devano benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran Silvi. Jika memang benar-benar ingin menikah dengannya, lalu untuk apa mencoba mendekati Gerald lagi bahkan menganggu hubungannya dengan Pelangi?